Puisi-Puisi Budi Palopo

http://www.jawapos.co.id/
MATAHARI BIRU

kala bulan pantai tercabik jejak perahu
gadisku menghormat cahaya yang
terpancar dari lempeng tembaga
singgah di seribu pulau bermatahari biru
oh, gadisku yang bermata ibu
jika di perbukitan sebuah pulau
ada mahkota durga yang terpendam
tanah anganmu, haruskah kau
terus mengukir jejak penggalian-nya?
matahari bukanlah bulan yang
tertusuk tajam pucuk ilalang
matahari juga bukan bintang yang
bisa terajut di pundak jenderal bermata api
jika cahaya-nya tak lagi bisa
mengirim bayang-bayang hitam atas tubuh-mu
kenapa harus mengukir risau di pasir pantai?

Gresik, 7 April 2010

SURAT TERHORMAT

kepada semua gunung pemilik banyak puncak
kutulis surat terhormat, demi ledakan amarah
yang tersembunyi di segala kobaran api
kutawarkan persetubuhan abadi, agar
kelak bisa terlahir anak-anak kayu yang
punya rasa hormat atas kelembutan tunas
semua dedaun di hutan belantara seluruh kota

Gresik, 7 April 2010

NYANYIAN KUPU
* Gus…!

manakala dedaun tak lagi bisa tersapa
ulat membisu dalam keras kepompong yang
tak lagi peduli dengan ketajaman sabit bulan-mu
entah kehangatan macam apa yang
merajut sayap-sayap hening-nya
entah cahaya macam apa yang menuntun
jalan pemutus rambatan gerak hidup-nya
yang ku-tahu, kau bukanlah ulat pendzikir
sepanjang waktu kau hanya berebut bisa
melihat sabit cahaya yang tersembunyi
di luas langit angan bebatuan bulan-mu
oh, kenapa anak-anak kau jadikan boneka
bermata kertas yang terus menari di pasir pantai
hanya demi pengakuan kebenaran berbatu-batu?

Gresik, 7 April 2010

PENGGEMBALA KATA
*Pambuka Tembang Kinanthi

asa yang bermata pisau
undang risau dalam hening
risau batu dalam dada
hilangkan nada seruling
jika ku-kau penggembala
kenapa harus berpaling?
mata pisau ketam kinanthi yang
ada dalam genggam-mu, dulu kau
jadikan senjata petik kala panen padi
kini mata pisau kinanthi-mu hilang
dalam risau, manakala anak-anak
tak lagi bisa menajam sabit
demi ilalang yang harus terbabat
dan kau pun hilang ingatan atas
semua ruas jalan kembali pulang
karena itulah, kutiup seruling gembala
untuk mengantarmu agar bisa kembali bernyanyi

Gresik, 7 April 2010

MEMBIDIK LANGIT
*Nanda Gita Pratama

pasir pantai yang terinjak risau
jadi senoktah jejak ombak laut-nya
bukanlah kematian yang perlu dicari
di daun luruh karena angin
kendati tanpa tiang, langit pun tak akan runtuh
karena itu jangan kau takut membidik titik jauh-nya

Gresik 21 Maret 2010

*) Budi Palopo , praktisi sastra, tinggal di Gresik. Buku terbarunya Wong Agung, Gurit Punjul Rong Puluh (diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur, November 2009). Kini tengah berakrab-akrab dalam sebuah komunitas karawitan di desa agar tergerak dalam penciptaan tembang-tembang Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *