Puisi-Puisi Edy Lyrisacra

http://sastrakarta.multiply.com/
KUPANDANG MALIOBORO DARI PUNCAK BUKIT

1.
Orang-orang berduyun bagai rayap
Yang lapar, menggerogoti dinding pertokoan
Dimana burung-burung dipenjarakan, dukaku
Dikobarkan, dikunyah-kunyah kesenyapan
Rumah-rumah bersusun bagai keranda
Bau bangkai perempuan dan bacinnya syahwat
Ada kulihat bintang kemukus di bukit kota
Mengucurkan darah petani dan buruh jalanan
Meneteskan peluh gelandangan yang menjelma nanah
Mengaliri kali Code dan Gajahwong muntah nafsu
Sementara tangis-tangis bayi membakar tungku ? botol
Dan dipancarkan laser disk ke neraka-Mu Tuhan
Kau lihat sendiri, jiwaku yang bengkak di cakrawala
Menyemburkan hawa panas dan berjuta galah baja
Karena zaman kehilangan hatinya
Kesombongan menjadi mode, kemewahan menjadi berhala

2.
Kupandang Malioboro dari puncak bukit
Dan kesunyian mencakar jiwaku yang celaka
Orang-orang lalu-lalang bagai kutu loncat
Matanya harimau, berkejaran dimabuk lencana dan harta
Nafsunya berdesing menyatu pabrik milik penguasa
Tawanya menghiasi padang subur aparatur negara
Sementara darah petani digiling menjadi plaza
Apa yang musti kukabarkan pada-Mu
Jika orang-orang kian garang membunuh sesamanya
Jika setiap sorot mata menyemburkan bencana
Tuhan, bunuhlah aku dengan sepi-Mu
Untuk merusak dunia yang tak pernah damai

Yogya, larut malam 1995

SAJAK DEWA RUCI

1.
Kujaring wahyu ratu di samudra hening
Memburu mahkota sunyi pada palung semesta
DenganMu, jiwa mengembara bagai Bima
Menebus dosa Adam, merebut gelap diri
Kau Dalang Abadi yang menjadikanku wayang
Dengan berjuta wajah dan peran. Aku
Pengembara abadi di hutan kegelapan dunia
Kubongkar dengan sepi menjadi kerajaan cahaya-Mu
Kuhancurkan sembilan jagad dalam diri
Untuk damai abadi, dalam hening diri. Kuremuk
Berjuta wajah atas angin, bumi, air dalam jati diri
Tinggal mahkota sunyi, tanpa tepi
Kubunuh raksasa dalam jiwa, kubakar dengan doa,
Menjelma wajah seputih diri-Mu, bayang ruh tanpa rupa
Yang terasing dari dunia

2.
Menjaring wahyu sejati pada kiblat hening-Mu
Menyadap sari pati, menghitung bintang
Kucincang naga dan siluman nafsu yang terlahir
Sebelum ada waktu, dan tabir sebelum ada rasa dan tanda
Kubunuh diri sendiri dalam semedi, kuacungkan wahyu senopati
Bersenjatakan iman kepada-Mu, kutantang buta dan dewa
Adalah kehendak dunia sebagai godha rencana,
Gambar dunia yang meloncat dari jiwa, yang mengucur darah
Kuditikam dosa dan derita, hingga jiwa pisah dari raga
Berkeranda semesta diusung malaikat minta pengampunan-Mu.

Yogya, 1999

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *