Puisi-Puisi Gunawan Maryanto

http://sastrakarta.multiply.com/
Batu 1

Apakah ia bisa mencintaimu sebagaimana aku mencintaimu? Atau aku keliru? Mungkin ia mencintaimu lebih daripada aku. Jika demikian, selamat jalan.

Tumpukan batu yang selalu memanggilku, kenapa kalian belum meninggalkanku? Tapi kalian tetap saja bertahan di situ, menungguku, sejak berabad yang lalu.

Hari ini kupenuhi panggilan kalian, bukan karena aku mencintai kalian. Tapi hanya kalian yang memanggilku. Satu-satunya panggilan. Hari ini dan hari depan.

Rakai Kayuwangi, kau tentu tak mengenalku. Tapi arca asumu yang hilang itu mirip benar dengan aku. Jadi kau pernah melihatku, di salah satu mimpi burukmu. Jika tidak, kenali aku, lelaki yang datang seribu tahun setelah kematianmu. Seribu tahun setelah gunung itu menghancurkan seluruh rumahmu. Menguburnya dalam-dalam?dan tak mungkin kautemukan. Aku datang, Sayang. Setelah seluruh hal, seluruh ihwal, majal. Cinta gagal. Jangan bawa minyak kayu putih. Atau kulitmu serasa mendidih.

Kau tinggal sumur. Kering. Tak dalam.

candi asu, 2006

Batu 2

Aku membelah sawah. Sedikit berlari. Sedikit sakit. Sekali jatuh ke parit. Lalu kamu. Melulu kamu. Di kedalaman. Menyelam dan diam.

Kamu ingat aku? Kamu merasakan kehadiranku? Aku sesuatu?

Tak ada yang hadir, mengalir di sungai Tlingsing. Salingsingan pernah menunjukmu, tak tegas, tapi pernah, di suatu waktu. Ada dharma bagi Gana. Harapan pernah diucapkan. Sekali. Tak teringkari.

Kini orang datang mohon gambar pohon. Jika rindang mereka senang. Jika gundul mereka masygul. Teringat ibu yang sedang kecewa. Jika senang mereka datang. Jika susah maka tak usah.

Hmm. Hmm. Hmm. Hanya ada jamur dalam sumurmu. Andesit sakit berupa hijau tua. Tak menunjuk apa-apa.

candi pendem, 2006

Batu 3

Tlingsing menolak diseberangi. Memaksaku memutar. Mencari jalan lingkar. Di Tlatar, bocah-bocah SD menghadang di setiap tikungan. Tertawa. Menunjukkan gigi-gigi tak rapi. Membuka seribu jalan menuju kesedihan. Apa bisa kumenemukanmu? Hujan menghapus jejakmu, baumu, tangismu, semua yang bisa kukira kamu.

Apa kamu masih di tepi jurang itu? Menunggu? Sudah seribu tahun. Sudah.

candi lumbung, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *