Puisi-Puisi Landung Rusyanto Simatupang

http://sastrakarta.multiply.com/
KATANYA IA

Katanya ia pernah menyusup Merah dan merah ia kelupas jadi cokelat, putih, kuning, dan beberapa golongan minoritas warna lainnya. Konon ia pernah masuk Hijau dan hijau ia sayat-sayat hingga jadi birunya hijau, kuningnya hijau, putihnya hijau, bahkan cokelatnya hijau, bahkan juga hitampekatnya hijau. Dan ia masuk putih dan si putih diserpih-serpih jadi biru laut si putih, kuning emas si putih, coklattanah si putih, kelaburambut si putih dan ribuan serat nuansa tanpa nama. Kabarnya ia sangat sangsi sekaligus amat pasti ketika menekur, bersila, menghimpun dan menghembuskan tatapan mata pada pucuk hidung yang membulat hamil beribu cakrawala. Kabarnya ia tiba di terang yang hari-hari ini menghampiri kita sebagai warna-warni nyala lampu, papan nama, spanduk, panji, pataka, kerudung, celana mini, bikini. Semuanya cuma tertangkap oleh kita sebagai isyarat-isyarat sederhana untuk berhenti, berjalan, menghitung, menandatangan, sembahyang, membeli, menghantam, mundur, maling, kawin, protes, memperkosa, mengkotbahkan solidaritas, kasih dan surga kepada siapa saja kecuali diri sendiri. Konon ia masuk kita yang saling tatap sebagai kelompok-kelompok warna; ia masuk kita, selalu dengan kerjanya yang sama dan diam-diamnya yang sama pula.

1991

LARI

kuda lari dari kereta
tak lagi budak
kuda lari dari kota
tak lagi hamba
kuda lari
dan lari saja
masuk keluar rimba
padang dan padang saja
kaki-kaki lari dari kuda
tak lagi budak
kuku-kuku lari dari kaki
tak lagi abdi
lari lari dari lari
menuju Kau
siksa dan harap ini
Engkaulah

1982

BATU

ada batu
tenggelam
jauh
di dasar
sudah lama
sangat lama

tapi barangkali masih diingatkan sore itu
waktu tanganku yang marah penuh cemburu
menjumput dan melemparkannya
mencabut dia dari menungnya di bawah pohon nangka

sungguh kuingin dia, karena alasan yang begitu saja,
ingat saat itu malam ini, sama terusik gerimis panjang

penjara airnya gelap berat dan dingin
sementara sekap risauku lembab dan asing

dalam gigil udara yang aneh
waktu mengulurkan sesuatu kembali
dan aku takut menyambutnya hanya sendiri
kuingat sobatku, batuku:
maka kulepas tanganku kanan lalu kiri
mereka berenang dan menyelam
maka kuceburkan kaki, kanan dan kiri
mereka menyelam dan mencari
maka kuselamkan tubuh, kubenamkan kepala
– hanya lumpur lumut ganggang
di tepian kolam waktu membeku. sombong membisu
tangannya terlipat, tak terulur lagi padaku
di atas meja dalam kamar kutemu batu
merenung nyala lampu.
tanganku yang gatal dan geram melemparkannya keluar.
kudengar jerit lalu suara tubuh mencebur kolam:
aku
tak lain tak bukan. kuyup dan sendiri. menggapai. pelan
tenggelam. dalam gigil waktu yang ganjil kau ulurkan
tangan padaku.
sepi yang teka-teki
tariklah aku
ke lubukmu

1979

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *