Puisi-Puisi Nur Iswantara

http://sastrakarta.multiply.com/
SELALU DAN SELALU

Tangisanku teriaki rindu
Terlahir dari gua tua
Di perbukitan yang renta

Pada bisu menunggu selalu
Datangnya wahyu cakraningrat
Dari sang dewa bayang-bayang

Suaraku tertinggal di sepi
Wajahmu selalu dan selalu
Menggalau semua yang rindu

Jomblang, 141992

Catatan: Puisi Selalu dan Selalu pernah dimuat Harian Bernas Yogyakarta, 18101992

SMARA EMAS

Ketika dua sejoli mengikat janji ada harap direnda
Di istana madraka akan laksanakan resepsi agung
Sang nata salyapati menaruh kasih pada ayu setyawati
Dengan segala kesahajaan diwarnai keprihatinan maka
Ibunda salyapati mengizinkan perhelatan digelar

Terlahir dari rahim bumi pertiwi yang gemunung
Setyawati harus menerima kenyataan hidup di lembah
Landai tanpa batas karna salyapati liar bagai pecinta
Melalang benua imajis yang penuh laku dan kata tiada
Habis-habisnya diburu sampai tak menentu tuk mapan

Kecintaan salyapati pada setyawati lugas demi sebuah
Generasi karena dalam perjalanan kembara salya tak kuat
Menanggung laknat Pengusa Jagat Raya jika nekat ikut arus
Yang cenderung membuang umur dan kesia-siaan belaka
Dihunjamkan pusaka candhabirawa hingga setyawati hamil

Dari cinta yang lugas tumbuh kembang generasi putranda
Lahir barep setya penengah putri uningtya dan ragil agitya
Salyapati ibarat berada di sejuk sendang diapit pancuran
Istana mandraka dihuni dengan spirit mengalir air jernih
Percikan air kasih membuahkan kesederhanaan hidup

Terpaan angin smilir meminabobokkan salyapati
Hingga terlena pada smara prasetyarini yang lama
Hilang dan kini hadir menggairahkan hayati istana cintanya
Demi sebuah tentram negeri maka dirajut smara emas
Penuh penghargaan, perhatian atas rahmat Yang Maha Bijaksana

Surobayan, 19.4.03

RINDU SPIRITUALITAS DAMAI-MU

biarkanlah istirah kami di ruang-waktu tertelan kala
sementara kami membenamkan di rindu damai agungMu

dengan menyebut asmaMu perjalanan sunyi kan sampai
pada deraan awal dan akhir yang kian panjang membentang
dan keramaian mayapada terus berotasi,
dengan menyebut asmaMu penyelaman samodra kian dalam
membayang warna besi hayatku, biru warna misteriku,
emas warna keutamaanku, dan lakuku warni perak, sedang
Engkau-lah warna putih cahaya itu ?

Akan tetapi mengapa oh mengapa?
Mengapa negeri ini dalam krisis yang berkepanjangan
Mengapa jagat dalam terror yang kian kacau
Mengapa amarah merasuki sang angkara
Sementara peristiwa merobek keseimbangan alam semesta

Kami terlahir dalam kesucian dan tiada sama,
Perbedaan di bumi adalah karuniaNya
Yang tak dapat ditolak oleh siapa pun jua.

Pada jalan pengembaraan pencarian,
Kami adalah balada keluarga Semesta Raya
Kemudian terbaca di sebuah peta Dunia
Ada keluarga bernama Keluarga Besar Negeri Indonesia!
Ada sebuah nagari berpulau-pulau bak mutu manikam,
Oh mengapa tanah air ini tak usai dalam bencana ?

Indonesia ?
Indonesia adalah Aceh, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Irian !
Dan Bali oh bukan sekadar terror, iblis telah merasuki manusia
Duabelas Oktober duaribu dua sebuah tragika di pulau Dewata!
Masihkan tembang?.. dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau??
Dalam Satu Indonesia-Indonesia Satu ?
Adakah pelangi lengkung yang indah penuh nilai,
Yang mengingatkan jangan kumalungkung jika tidak ingin
Terhunjam amarah Yang Maha Agung.

Tatkala tafakur kami sampai di titik nurani,
Diingatkan cerita keluarga dengan segala keberadaannya,
Keluarga kami menerima fitrahMu, segala rintangan, gejolak rusuh perusak
Kesatuan yang sengaja maupun coba-coba, pasti celaka karna kami adalah
Akar yang tumbuh membumi di rindu suciNya.

Atas nama kebesaran rahmatMu,
Berjuta rakyat jumlahku kian menyatu dalam republik harapan?
Kami keluarga yang menjaga negeri ini, mengumandangkan
Tembang puji syukur bagimu negeri, memohon perlindungan Engkau.

Biarpun peluru-peluru nyasar merobek kami, kedirian menjadi saksi abadi.
Inilah wujud kesetiaan sebuah keluarga rakyat yang menjaga tumpah darah
Kemerdekaan lahir dan batin. Apa dibiarkan harga kemanusiaan terkoyak
Oleh angkara durjana!

Oh tuah Penguasa Jagad Raya,
Kuatkan kebersamaan kami dalam damai sesama,
Yang umara, yang ulama, yang pendeta, yang pelajar,
Yang mahasiswa,yang cendekia, yang intelektual,
Yang pedagang, yang pengusaha, yang seniman, yang budayawan, dan
Yang rakyat jelata, yang semuanya saja, mari dalam satu hati
Heningkan cipta dalam rindu damaiNYa.

Bangun kibaran bendera keluarga yang berani suci
Tengadahkan tangan ke langit biru lazuari demi kluarga elok asri.
Siapa pun kita adalah keluarga sendiri.
Kami bangga sebagai kluarga yang satu di kata dan perbuatan .
Dengan menyebut asmaMu, perbolehkan kami membuang segala sakit
Kembali kepada rindu yang hakiki hiasi kluarga dengan kembang rukun damaiMu.

Kami masuki arti kasihMu, kami bukai kitabullahMu
Allah Tuhan Yang Maha Esa ridhoi keluarga siapa pun
Allah Tuhan Yang Maha Arif cintailah keluarga negeri ini
Allah Tuhan Yang Maha Kuasa satukan keluarga Dunia
Ini dalam perdamaianMU.

Jumbuhing kawula manunggal bersama Gusti,

Kami berharap keluarga dunia ini tetap dalam genggamanMu
Karna hidup dan mati adalah milik Engkau,
Dan keluarga kami tetap dalam pasrah jiwa raga
Keluarga adalah ikatan yang tak dapat dipisah-pisahkan,
Oleh siapapun. Hanya Dia yang berhak atas sgala.
Tuhan Yang Maha Esa

Jogja 11.10.02

Catatan: Puisi Smara Emas & Rindu Spiritualitas Damai-Mu, diambil dari Nur Iswantara, Tiga Merenda Cinta, Antologi Puisi Bersama Era Zulkarnaen, Hidayyatullah Maranay, Nusa Raya Inbdah semesta, Yogyakarta, 2003.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *