Puisi-Puisi Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
Fabel Sebuah Sajak

Aku berpura-pura menulis sajak malam ini. Sajak tentang kucing
terbang menangkap paruh elang yang kembali dari kematian.

Bayangkanlah, ada aku jendela yang terbuka menanti angin
dari lembah masuk kemari, ke dadaku yang kembang kempis
menahan puasa senin-kamis. Kucing tidak pernah mengerti
bagaimana gonggong anjing adalah separuh pergunjingan
ibu-ibu di jam tujuh pagi. Kucing tidak pula tahu ada ikan
tinggal tulang yang tengah belajar berenang di meja kaca.

Ruang pula setengah terbuka, setengah tertutup. Matamu
adalah katup seperti menanti aliran darah dari aorta ke
kantung mata. Televisi dua satu inchi juga seperti lantai ini
pura-puranya wajah tapi pantat gajah. Ke mana lagi tubuh
ini rubuh, selain ke runtuh bibirmu, Kekasih? Sedari dulu saja
kucing-kucing tidaklah pernah bertanya, kenapa tikus bisa
bikin ia gemas sampai ingin meremas-remas dengan cakarnya
yang lemas, dada, Oh, Dada, mungkin pangkal dari pertanyaan
ini. dadamu yang dua, seperti kacamata, skor adil dari pertandingan
sang pengadil, Oh, gabriel, malaikat kematian kah engkau?

Dada tidak pernah jujur seutuhnya. Anjing tidak pernah setia
sepenuhnya. Kucing tidak pernah manja sebenarnya. Dan
kematianlah yang tidak pernah berpura-pura. Oh, aku yang
tiba-tiba ingin menulis sajak ini, kekasih, semata-mata adalah
dadamu yang seksi. Dadamu yang jambu, dadamu yang rimbun
dari banyak penyajak, dari ghaib pewarta yang raib.

Malam Minggu yang Rapuh

di malam minggu yang rapuh, aku masih
menantimu, Kekasih

aku dada, lubang terbuka sajakku tadi.

***

Kanna dan Tujuh Kepiting dalam Toples

dalam toples lebaran jadi tujuh kepiting kue-kue kering
dilempar ke mulut anjing apa itu yang bersembunyi di
salammu o wahai kekasih juling mata aku pulau pecah
ditelan gurih selaksa kelanting bulan-bulan terpelanting
gravitasi malam pasang surut air laut o tujuh kepiting
malang yang rindu pasir-pasir pesisir ke mana hendak
dirimu berpaling sebab toples ini hanya serupa caping
para petani yang memendam dendam pada rendam musim
palsu pipit dan ular o sembah raja belalang aku tulang
pulang ke persendian di balik keriput kulit pembuluh besar
bilik dan serambi malam dalam toples dalam toples aku
kepiting anjing di pulau pucah rajah tuan penyair.

*
Kanna ingin jadi kepiting. Kepiting goreng. Kepiting rebus.
Mama sedang menggoreng kepiting di dapur. Matanya bau
Kapur. Bibirnya berasap sepur. Kanna setengah bertanya
Ke mana papa pergi, sudah jam sebelas malam kini, dia
Belum jua mengetuk pintu dari tulang-tulang pendosa itu?
Sebab papa suka berjalan miring, Kanna ingin jadi kepiting.
Mama sering menganggap Kanna anak yang sinting. Dia
Dikurung dalam lemari baju, dengan gunting-gunting rambut
Dan jepit malam minggu. Jepit kaki, tangan, rantai besi para
Pentradisi. Tetapi Kanna meyakini, papanya orang agung
Datang dari negeri bedegung. Kulit papa tidak hitam. Kulit
Papa merah seperti kepiting. Tangannya pun jadi capit, dari
Kelingking sampai telunjuk, dibentuk pose menyeruduk.

Mama menangis mendengar Kanna ingin jadi kepiting. Kata
Mama, kepiting itu binatang anjing. Kepiting itu binatang babi.
Kepiting itu binatang jalang. Aku bukan Chairil, Mama. Besok
Aku mau mati saja daripada harus hidup seribu tahun lagi
Sebagai manusia. Sebab hanya satu cita-citaku, Mama:

Kanna mau jadi kepiting. Boleh kan, Ma?

Lelaki Kipas Angin dalam Playlistmu
: geisha dan wanita kecebong

Aku lelaki kipas angin, tak pernah ada dalam playlistmu kah?
Benar. Benar hanya dia yang tiba-tiba puisi, hadir di isi hati.

Satu SMS berisi rayuan:

O, wanita kecebong, aku adalah tak gendong kemana-mana
ke malam ke relung terdalam, boleh aku menyelam ke dasar?

tapi kamu jadi lilin, jadi api ulangtahun, jadi unggun malam
minggu dering rindu telepon genggamku, kamu setuju?

Kamu minta aku menyanyi. Lelaki kipas angin tidak bisa menyanyi
Kalaulah berfatwa, aku bisa. Fatwa Pujangga, tak pantas putus
asa. Fatwa penyair, tak boleh menahan desir. Aku pujangga,
kipas angin adalah kata-kata yang membawa rahasia dari
balik mata. Aku penyair, membaca sajak di punggung ibukota
mencari ayah yang pergi entah ke mana. Hei, wanita kecebong
berudu di kamus-kamus, sup asparagus, ramalan nostradamus

aku tak bisa bikin kuatrin, sajak romantis malam cahaya lampu:

di kereta, kau duduk sendiri, memeluk selimutmu yang hangat
aku tubuh, biar ngengat, adalah sama keringat laki-laki
apakah sepi mulai merayap ke matamu, o, kekasih suatu saat?
biarlah, biarlah. bayanganku mulai mencari lalu hadir menjadi

Di I-Pod itulah aku adalah lelaki knalpot. Bagaimana bisa aku
tetap kipas angin jika harus jadi lagu dalam playlistmu? aku sungguh
tak bisa menyanyi, tak bisa bikin puisi. Aku cuma bisa memanggil
angin dari handphoneku yang sekarat, emas, rantauku di pulau.

Hei, wanita kecebong, bagaimana kalau aku jadi tempurung
sampai nanti, menanti kaki-kakimu tumbuh jadi tubuhku?

(2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *