Puisi-Puisi Purwadmadi Admadipurwa

http://sastrakarta.multiply.com/
Perjalanan Percuma

menyebrangkan di belahan pulau rapat
tatkala damai pagi masih ranum
lepotan kopi menebal bibir
tetap semayamkan diam rahasia semalam
mengepak kemas perempuan medan
menuju bengkalis ranggaskan daun-daun kelelakian
sembari senyum bersama cahaya pagi di atas riak gelombang
dan baling-baling boat gemerak menghantam kekosongan
busa riak buritan menebar garis tanpa cela
dikejar bayang ikan kenyang menyantap remah minyak
meninggalkan sisa perih di mulut nelayan
dan tatapan kosong mata pengantar
seperti mata perahu di haluan
hanya tahu arah tanpa kenal tujuan
dan aku, ulang alik semu dalam kepergian
belajar menggudang kebohongan.

Bengkalis, 2003

Bantul, Mei 2006

merayapi runtuhan dan kebun pisang
ada bekas tapakMu menggaris tanah
semut terkesima dan aku meringis nyeri
di antara belikat dan iga berpatahan
di antara darah dan oksigen berbantahan
di antara nafas dan kata-kata bersilihan
langit tersengat.
kita semua terkapar
menghadap langit larangan
langit masih biru, bibirku biru,
dan semua jadi biru
tanda baik baik saja.
hari telah makan korban
kelihatannya, aku makan pisang
dan orang-orang berebut mie
dan minta didaftar
masih terima bantuan
suara adzan sayup
hari pun makin redup.

Puisi Relawan untuk Merapi

lembut abu melapis pipimu, ada surga
dalam bunker rahasia. Lembut abu, hirupan paru
pada ciuman bibir lebam kuyu
tapi memecah gulita jadi nyalang nyala
bubur bumi
kau kehilangan cantik
topi dan masker
wajah asli kita.
robek putingmu, gigitan lindu
robek darahmu, hiasapan kubah baru
kita tersungging dalam kilat cahya
geliat dan larimu, tidak pernah sempurna
kita berkejaran dengan siapa?

Yogya, juni 2006

Mungkin Bukan Sakit Hati

Andai hatiku berpenampang bening
memar samar sembilu ngilu membaring
sulur tanaman halaman rumah
tak lagi ramah menyapa muhibah
Saat gulana menggundah
lelah menyerupai marah
dan sesal menghimpit kehendak
sembari mengkukur gatal menggelegak
dalam aliran peluh menyusur kulit
menyiram tulang belulang.
Saat kulihat bulan bagai matahari
geram mengasam jenak
menunggu diri terlunta.
Ini bukan tangis sudra
yang lagi mencari
dimana seharusnya
kemarahan itu berlabuh.

Yogya, 2001

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *