Puisi-Puisi Samsudin Adlawi

Pesta Kematian Hujan

Busur yang dilepas hujan
menjelma jeruji penjara
mengurungku dalam rumah

Dari balik bilik ingatan kuintip
akar rumput mulai bergairah
pepohonan mengukir tunas

Bunga-bunga kuncupkan kembang
pohon anggur memasak buah
sapi dan kambing mengolah susu

Hujan mulai menarik busurnya
serasa saya di tengah taman
bunga bermekaran pamerkan warna

Di sudut taman kupetik buah anggur
kutaruh di meja taman menemani
susu sapi segelas susu kambing segelas

Pesta kumulai
merayakan kematian hujan

25.03.2010

Biru Hitam

hari ini air mukamu keruh
hitam datang mengusir biru

sebilah cahya mengibas
menusuki wajahmu

air matamu meleleh
menyapu air mukamu

hingga biru kembali
datang berseri-seri

04.02.2010

Perseteruan Abadi

Hatimu api mengapikan darah
Api tak berasap api abadi

Hatiku tanah mendarah tanah
Tanah tak berkarat tanah surga

Kita bernafas dalam beda lubang takdir
Kobar apimu barakan percik tak suka

Dalam apimu begitu mulia kau
Dalam apimu begitu hina aku

Kita bernafas dalam beda lubang takdir

Tapi, bagiku kau tetap Namrud
Sedang aku tetaplah Ibrahim

Bagi kulitku bara apimu serasa salju
Tak akan mampu menjilati tubuhku

26.02.2010

Robot

kau robek jantungku
kau cabut pendulumnya
tanpa pompa paru-paruku hampa
kabel-kabel tubuhku sepi alir
oksigen terdampaar di sungai darah
kuotak layu batangnya
kumata padam terangnyaA

the sunrise of java, 08022010

Nyamuk

mata itu mulai mencairkan air mata
hujanpun konser di punggung genting
lalu lelah lalu luruh di selasar
jamban hatiku tergenang
menjadi rumah jentik
dalam dekapan waktu
jentik itu terus tumbuh
bersama kesiut angin
ia belajar terbang
seperti balingbaling heli
sayapnya derukan teror
di semadi telingaku
dalam dekapan waktu
jentik itu tumbuh menjadi dokter
ia lihai menyuntikkan taring
membendung sungai darahku
akupun bergumam dalam demam
membingkai namamu dalam igauan

the sunrise of java, 27012010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *