Puisi-Puisi Sigit Sugito

http://sastrakarta.multiply.com/
SAWAH, SEBUAH SKETSA

Aneh, sawah kini tidak lagi ramah
banyak satwa pergi, enggan bercanda seperti dahulu lagi
atau berangkali udara sudah begitu kental berpolusi
dan bau lumut tidak lagi amis, warna air coklat tua
ungu-biru mengkilat tercemar bahan kimia
Ketika pagi hari sawah basah
menebas mimpi Pak Tani, yang segera beranjak
menghafal rumus-rumus kimia
ketika dia dahulu kursus pertanian di Balai Desa

Seratus keringat mengucur dari tubuh Pak Tani
di antara zat pupuk Urea yang sakti mengurai tanahnya
burung bangau tidak lagi memakan katak, tidak enak rasanya
tikus, ular dan belut enggan lagi bersarang, panas lumpurnya

Seribu keringat mengucur dari tubuh Pak Tani
di antara zat insektisida yang membungkus batang padi
belalang terkapar mati sia-sia
ulat dan serangga tidak lagi punya tempat
karena batang padi gemuk sudah penuh racun mengancam
Kini, serombongan burung pipit datang menyerbu sawah
Pak Tani, dalam satu nada maju perang
menggerayah bulir-bulir pada Pak Tani

Sejuta keringan mengucur dari dahi Pak Tani
di antara sisa-siasa mimpinya kemarin
dia membuat rumus-rumusan kimia untuk melenyapkan
burung pipit yang semakin hari semakin tidak peduli
Burung pipit kini telah menjadi bisu dan tuli
Ketika sore tiba istri Pak Tani datang mengganti berjaga
sambil membawa sepucuk sarat dari Balai Desa
yang isinya: sepetak tanahnya terkena projek
jalan lingkar Yogyakarta lintas selatan

Maka semilyar keringat mengucur dari dahi Pak Tani
kemenangannya kini sia-sia, tidak berarti lagi

Bangunharja, akhir Desember 1988

SAJAK KOTAK CERMIN

Kotak kertas-kertas kotak. Besi kotak-kotak besi
Kotak kardus-kardus kotak. Kotak kayu-kayu kotak
Rumah kotak-kotak rumah. kotak rumus-rumus kotak
Bangun kotak-kotak bangun. Kotak otak-otak kotak
Kota telah menjangkiti semua sendi kehidupan
Kotak menghantui semua manusia, menyebar
dengan segala merk-dagang, kotak menjadi sampah
peradaban. Kotak adalah dunia yang terkotak
Kotak adalah dunia yang mengotak-kotak manusia
Kotak adalah aturan-aturan yang membatasi manusia
menjadi kecil, kotak adalah mata-mata yang terletak
di mana-mana. Di kampung. Di sudut kota. Di warung-warung
Di kantor-kantor. Kotak terkemas sangat rapi, disegel
dan didistribusikan dengan iklan yang penuh pesona
Kotak-kotak ialah perangkap raksasa yang diproduksi
oleh pabrik-pabrik raksasa, sebagai simbol modernitas
dan stabilitas. Kotak adalah penjara. Yang menggulung
apa saja dan siapa saja. Pikiran. Gerakan. Kemerdekaan
Kotak membuat manusia tidak mampu lagi berbuat apa-apa
Kotak membuat para mahasiswa memasuki sebuah
gua-intelektualitas yang asing bagi masyarakatnya
Kotak membuat para pemuda menjebak dirinya
menjadi pernik-pernik laborat ilmu sosial
Kotak mampu mengubah muka-muka manis
jadi menyeringai dengan kedua siung-siungnya
Kotak mampu mengubah warna-warni. Mengubah bendera
Mengubah baju. Mengubah segala atribut di belakangnya
Kotak adalah sebuah pilihan yang beraneka
yang membuat manusia saling hantam, saling bunuh
atas tahta kemanusiaan, demi keadilan
demi pemerataan
demi pembangunan
Dan manusia-manusia lapar, marah mengamuk
melihat kotak cermin di muka, sudah berbeda
dengan wujudnya, berbeda dengan otaknya
berbeda dengan gerakannya, berbeda dengan pikirannya
Kotak adalah penjara
yang terekam rapi
penuh teka-tek

Bantul, 28 Oktober 1988

KETIKA DATANG SIANG
JEMPUTLAH DI PERSIMPANGAN
AKU INGIN PULANG

Untuk Ragil Suwarna Pragolapati

Ketika datang malam
aku memburu bulan dan bintang-bintang
yang selalu berlari meninggalkan matahari
menjaring misteri. Hidup memang suatu perburuan
siang-malam, bertikai dan bertengkar
kejujuran sulit ditawar, hidup adalah sebuah perlawanan
di mana salah, di mana benar, saling berpacu terdepan
Maka Ibu tiap hari selalu mengajariku
menyedu madu bercampur empedu dan dia bertutur
“Ini yang membuat keringat wangi, menjadi suara hati.”
Tetapi aku berkata, “Hidup harus selalu menang
Jika tidak, manusia akan memperkarakan!”
Lalu keringat Ibu pun keluar dari pori-porinya renta
tetes airmata melesat dari keteduhan matanya
yang bertahun-tahun ditempa perihnya sebuah perjuangan
Namun Ibu begitu perkasa, tulus menyembunyikan
rembulan dan matahari di hatinya
dan bersekutu dalam nalurinya
Ketika adzan Shubuh berkumandang
apakah yang bisa kulakukan, selain aku menginsyafi diri
sungguh lama diriku diperbudak berhala-berhala
akau menjadi kecil, kelewat kerdil, dan sia-sia
Lalu terdengar suara Ibu mengucap kalimat-kalimat
panjang, dalam doa dan iqstifar tiada putus-putus
bersama Malaikat-Malaikat berdzikir tidak pernah henti
Maka ketika datang siang
jemputlah aku di persimpangan
Aku mau pulang!

Permenungan Jumat Kliwon
22-23 Desember 1988

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *