Silang Pandang Javasranang

Kukuh Yudha Karnanta*
http://www.jawapos.com/

Jika ada pertanyaan peristiwa dan implikasi kultural apakah yang paling mencederai etnis Jawa akibat koloniasasi Belanda, jawabannya bukan sistem tanam paksa serta sikap ambivalensi atau mimikri sebagai etnis terjajah seperti banyak disebut dalam kajian postkolonial mainstream di Indonesia, melainkan ”raib”-nya satu generasi etnis Jawa yang dipaksa berpindah ke benua lain pada 9 Agustus 1890. Dengan bunyi tawaran menggiurkan, lima tahun bekerja pulang ke Jawa kaya raya, 94 orang Jawa itu diboyong ke Amerika Selatan sebagai kuli kontrak pemerintah Belanda. Namun, setelah kontrak berakhir, mereka tidak pernah dipulangkan ke tanah Jawa. Bagaimana mereka meneruskan hidup di sana? Masih adakah memori kultural Jawa yang tersisa hingga generasi kelima setelah 120 tahun? Bagaimana bentuk manifestasi memori kultural tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, agaknya, mengilhami acara Javasranang: Orang Jawa Indonesia-Suriname dalam Sebuah Refleksi Kontemporer yang digelar di pendapa Karta Pustaka Jogjakarta 12-18 April 2010. Acara yang digagas Noor Aini Prasetyawati, mahasiswa magister Antropologi Universitas Gadjah Mada itu menampilkan pameran foto dan arsip, workshop kuliner Jawa-Suriname, sarasehan, serta diskusi yang menghadirkan tiga orang keturunan Jawa yang kini hidup di Suriname. Mereka adalah Marciano Dasai dan istrinya, Murni Djamin; serta Bob Saridin, pendiri perhimpunan imigran Jawa-Suriname.

Ada empat poin yang patut dicermati dalam acara itu. Pertama, bangkitnya kesadaran riset terkait ”diaspora” etnis Jawa ke Suriname setelah riset terakhir yang dilakukan almarhum Parsudi Suparlan pada 1974. Kedua, signifikansi media audio visual sebagai teks kultural yang mengintegrasikan disiplin ilmu antropologi dan kajian media. Ketiga, proses saling dan silang pandang dalam perspektif postkolonial yang tidak sama persis antara etnis Jawa di Suriname dengan etnis Jawa di Indonesia. Keempat, bentuk acara fundrising untuk penggalangan dana riset agar peneliti tidak selalu bergantung pada lembaga donor asing.

Visualitas

Perspektif etnografi visual mengemuka dalam Javasranang. Kurang lebih 70 foto yang dipamerkan cukup merepresentasikan kehidupan kuli kontrak imigran Jawa ke Suriname sejak kedatangan hingga keberadaan mereka di era kekinian. Salah satu foto menunjukkan sekumpulan etnis Jawa yang mengantre turun dari Kapal Karimun saat menginjakkan kaki kali pertama ke Suriname. Salah seorang dalam foto kusam warna sephia tersebut melakukan gerak tarian dalam seni wayang wong, sementara beberapa yang lain melihatnya dengan tersenyum.

Senyuman tersebut barangkali ekspresi getir dan ironis seperti dikisahkan Marciano Dasai, ”Leluhur kami mengira Suriname itu di Sumatera, masih di sekitar Indonesia. Jadi, mereka mau saja diajak naik kapal. Tapi setelah itu, mereka berlayar selama tiga bulan dan tak pernah kembali lagi.”

Ada yang janggal dan kurang tepat dari keterangan Marciano sebagai generasi keempat imigran Jawa-Suriname saat menyebut ”… masih di sekitar Indonesia,” karena pada 1890 konsepsi national state Indonesia belum ada, melainkan lebih ke identitas etnis. Hal inilah yang menyebabkan etnis Jawa Suriname tidak mengenal bahasa Indonesia atau identitas keindonesiaan, melainkan lebih identitas kejawaan dan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Meski begitu, keterangan bahwa ada nuansa muslihat dalam ajakan Belanda, serta harapan kembali ke tanah Jawa yang akhirnya pun diingkari, patut dicatat sebagai informasi penting.

Beberapa karya fotografi lain menunjukkan bagaimana etnis Jawa di Suriname masih berusaha mempertahankan kejawaan mereka. Tradisi selametan, baju adat pernikahan, serta festival seni tradisi yang rutin diadakan demi memperingati hari kedatangan etnis Jawa di Suriname masih rutin diselenggarakan. Spanduk-spanduk dengan tulisan berbahasa Jawa ngoko terbentang pada pawai yang diikuti mayoritas etnis Jawa di sana. Itulah mengapa, seperti disebutkan secara optimistis oleh Bob Saridin sembari menunjukkan foto bocah berusia dua belas tahun yang menabuh gendang, budaya Jawa tidak akan punah di Suriname. Etnis Jawa masih memelihara seni tradisi Jawa, dan proses regenerasi seni berjalan baik.

Uniknya, kata Murni Djamin, etnis Jawa Suriname memang masih akrab dengan seni tradisi Jawa, namun tak benar-benar memahami filosofi yang inheren dalam kesenian tersebut. Perempuan yang leluhurnya dari Boyolali itu bahkan menyebut beberapa jenis tarian yang pernah dipentaskan di Suriname, yang kemudian ia ketahui sebagai tari piring dan jaipong, selama ini mereka pahami sebagai tari Jawa. Dengan kalimat lain, seluruh seni tradisi yang ada di Suriname dan dimainkan orang Jawa adalah seni tradisi Jawa. Hanya Jawa, dan tidak ada tempat bagi Indonesia atau pengetahuan mengenai etnis lain di Indonesia.

Tak kalah menarik adalah klip-klip lagu pop di Suriname yang dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi Jawa-Suriname. Dengan bahasa Jawa ngoko dan dibalut sinematografi yang sangat sederhana, para penyanyi melantunkan lagu-lagu yang syair, koreografi, dan iramanya terdengar tak lazim. Lagu berjudul Tresno Tanpa Wates, misalnya, berbunyi ”…kangen ngambungi lambemu, kapan iso ketemu…”

Sementara di lagu Pakke Macul, terlantun syair, ”Pakke macul-macul, ngalor ngidul..” Vulgar, sensual, janggal, dan menggemaskan. Namun, justru pada klip-klip itu bisa diidentifikasi bahwa generasi muda Jawa-Suriname tak luput dari gempuran budaya pop Barat yang selalu menebar ancaman pada eksistensi seni tradisi. Hal tersebut tampak pada nuansa-nuansa jazzy, reggae dan rap yang inheren di dalam lagu.

Dalam proses tersebut etnis Jawa-Suriname masih berusaha mempertahankan penanda-penanda lokal Jawa seperti pemakaian bahasa, koreografi yang meniru gerakan dalam wayang kulit, juga nada-nada pentatonis Jawa, yang meskipun tipis, namun masih terdengar manis mengemas keseluruhan lagu.

Sangat terlihat kecenderungan bahwa klip-klip Didi Kempot yang populer pada awal 2000-an dijadikan model dan patron bagi klip-klip lagu pop Jawa di Suriname. Tak sedikit pengunjung yang tersenyum geli melihat tayangan tersebut. Pada tataran itulah artefak visual yang dikemas dalam acara itu bukan sekadar menyodorkan apa yang oleh Sarah Pink dalam buku Visual Culture disebut sebagai visual experience. Lebih dari itu, visualitas tersebut berhasil mengajak intensi pengunjung untuk merefleksi-diri (self-reflectivity): rekaman peristiwa yang membutuhkan intensi agar makna dari visualitas membenak, mengendap dalam gugus kesadaran dalam menyerap implisitas fenomena.

Namun, kesadaran pada apa yang unik secara visual serta refleksi pengalaman visual saja belum cukup. Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah etnis Jawa-Suriname merupakan the others (yang liyan) bagi kita -etnis Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bagaimana kita bisa meyakini bahwa orang Jawa-Suriname adalah ”saudara” kita jika identitas kebangsaan Indonesia nyaris nihil dalam pikiran mereka. Bagaimana kita bisa tidak mengakui jika the others itu ternyata serumpun bahasa dan ras dengan kita, adalah ragam pertanyaan yang mengemuka. Bagaimana kita mesti memandang mereka, sebenarnya; dan bagaimana pula mereka memandang kita selama ini?

Silang Pandang

Etnis Jawa-Suriname nyaris nihil terkait konsepsi Indonesia sebagai identitas kebangsaan, kecuali memori dan ikatan kultural dengan Jawa -Jawa yang itu pun tak identik dengan mayoritas Jawa di Indonesia. Dalam sesi sarasehan di pengujung acara, perbedaan tersebut diulas dengan bahasa Jawa ngoko yang digunakan etnis Jawa-Suriname sebagai titik tolak. Mantan duta besar Indonesia untuk Suriname, Suparmin Sunjoyo, serta Bob Saridin, menceritakan kisah-kisah gegar budaya antara etnis Jawa-Indonesia dengan Jawa-Suriname.

”Ndase tulung ndingkluk,” ujarnya saat berkisah kala Suparmin sedang pangkas rambut di Suriname, disambut gelak tawa peserta sarasehan. Diksi ”ndas” (kepala), rupanya, dianggap kasar, menjauhi norma, dan kurang njawani. Suparmin yang mengakhiri dinas pada 2006 juga menceritakan almarhum Presiden Soeharto saat kunjungan kenegaraan di Suriname dipanggil dengan sapaan ”kowe”, dan saat Sultan Hamengku Bowono X berkunjung ke negara berpenduduk kurang dari 500.000 jiwa itu KBRI Suriname mesti menyiapkan staf khusus agar Sultan tidak disapa dengan ”kowe”.

Jika dicermati, gegar budaya dalam aspek bahasa sebenarnya bukan hal mengejutkan. Fakta bahwa bahasa Jawa memiliki stratifikasi dan signifikansi penggunaan memang tak bisa dihindarkan bahkan di Pulau Jawa sendiri. Saya yang dari Surabaya sama sekali tidak gegar mendengar diksi ”ndas”, ”kowe” dan lainnya. Namun, bagi pengunjung yang mayoritas berasal dari Jogjakarta, hal itu rupanya memiliki makna yang tidak sederhana. Di sinilah bisa diidentifikasi bahwa Jawa-Suriname merupakan varian dari etnis-Jawa yang tidak mengenal hirarki lingusitik, egaliter, permisif, bahkan hibrid. Etnis Jawa-Suriname lebih mengenal dan bahkan fasih berbahasa Belanda, serta memiliki garis relasi sosiologis lebih tegas dengan Belanda ketimbang Indonesia dalam konteks kebangsaan.

P.M. Laksono, guru besar Antropologi UGM, memberikan penekanan tajam dalam perspektif postkolonial di acara tersebut dengan mengatakan etnis Jawa-Suriname lebih merdeka dari etnis Jawa di Indonesia. Dekolonisasi Belanda tak bisa dimungkiri mewariskan trauma mendalam dan sikap-sikap ambivalen yang tak semuanya positif, namun etnis Jawa-Suriname lebih lekas serta tangkas bangkit dari trauma itu, lalu mengembangkan potensinya, baik dalam hal kultural maupun ekonomi di tempat nun jauh di lain benua.

”Orang Jawa-Suriname hanya 15 persen dari total penduduk Suriname dan secara ekonomi di atas rata-rata. Sedangkan Indonesia mengekspor etnis Jawa sebagai TKI lebih dari seluruh jumlah penduduk Suriname. Siapa yang lebih merdeka?” ujar Laksono.

Di lain kesempatan, Marciano Dasai dan Murni Djamin yang hidup 2,5 tahun di Jogjakarta dalam rangka studi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap etnis Jawa di Indonesia. ”Kami di Suriname tidak ada yang mengemis. Tapi di sini, banyak orang Jawa mengemis dan jadi kriminal,” ujar Marciano.

Bob Saridin menambahkan, bukannya orang Jawa di Suriname tidak ada yang miskin, tapi ”timbangane ngemis, wis kowe mangan melu aku wae (daripada mengemis, sudah kamu makan ikut aku saja, Red),” ujarnya. (*)

*) Alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga yang kini sedang menempuh S2 Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *