Aku Menunggumu di Kafe Itu

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

AKU menunggumu di kafe itu, Warung Mbak Nien namanya, karena merasa kau akan datang bak kerap kurasakan hari-hari belakangan. Aku duduk sendiri seperti dulu saat menunggumu. Dengan minuman seperti dulu, karena pelayan itu, bagai dulu pula, meninggalkanku usai tarok minuman. Tak ia tunggu kubuka daftar menu, seolah ia tak pernah lupa bahwa itu baru nanti aku lakukan, setelah kau tiba ya, seperti dulu. (Eh, apakah menurutmu pelayan itu benar-benar yakin kau akan datang, atau ia hanya merasa kau akan tiba seperti yang aku rasakan?).

Siang bergerak di luar bersama seliweran kendaraan di jalan sedikit menanjak, di sana, di depan halaman kafe. Kau ingat, di sebelah kafe terletak apotik dan satu-dua sepeda motor,mobil sesekali menikung dari jalan memasuki halaman, melalui gerbang yang sisinya dipagar memanjang sealur jalan serta halaman. Pengendaranya masuk ke apotik atau kafe. Kau pun telah dua kali kulihat muncul di gerbang itu, usai menikung dari sisi jalan, trotoar. Tiba-tiba saja kau muncul, seperti dulu, dan tiap muncul selalu menerbitkan debar indah di hati; bak ada yang tengah berkobar menyalakan semangat dalam diri.

Kau berjalan anggun di halaman, mendekati. Rambutmu tergerai melalui bahu, tebal dan hitam, sebagian jatuh di dada; rambut yang kusuka. Tubuhmu lampai, berisi. Wajahmu keibuan. Berapa kali kukatakan aku suka alismu, terlebih matamu? Matamu dimuati cahaya kelembutan. “Biar kupandang matamu lama-lama,” ujarku dulu, kerap sekali. “Jangan berpaling.”

Kau senyum, membiarkan matamu kutatap lama-lama, dan kulihat di matamu danau yang teduh, macam telaga; mengirim sejuk di saat terik hari, menerbitkan harapan dan inspirasi.

Saat-saat seperti itu sungguh amat membahagiakan bagiku; semangat mengalir dan banyak harapan jadi tumbuh. Kupikir kau pun merasa begitu. Tapi, “Aku heran,” katamu suatu waktu. “Apa yang menarik dari mataku? Sering depan kaca kubertanya, apa yang menarik hingga kau selalu memuji mataku?”

Sebetulnya pertanyaanmu itu juga ulangan. Sebelumnya pun sudah kau ajukan bahkan hampir tiap kali aku tatap matamu. Makanya kusahut dengan jawaban serupa, “Matamu indah.” “Indah?” tanyamu.
“Indah. Cahayanya menyejukkan, memberi inspirasi dan harapan.”
“Ah, dasar seniman,” kau bilang. Nah, pada titik ini baru kutangkap nada lain dalam suaramu, walau samar. Dan kutanya, “Ada apa rupanya dengan seniman?”
“Ucapannya melenakan. Setelahnya orang kembali terantuk pada kenyataan.”

Saat itu ingin kuterangkan padamu bahwa seniman manusia yang bertanggung jawab pada kehidupan, realitas, kenyataan. Ia tidak hidup di awang-awang, bak dikira banyak orang. Keindahan pada karya atau tuturannya ekspresi atas penghayatan serta renungannya terhadap hidup, kehidupan.

Tapi kupikir kala itu kau bercanda, mungkin karena malu campur bangga, pun agak risi matamu kupuji. Aku tak duga ucapanmu itu mungkin mendasar, malah bukan tak mungkin jadi pokok-soal perpisahan kita. Jika betul begitu dan kutahu, kubilang, “Mampu tidaknya orang penuhi biaya kehidupan ditentukan upaya dan tanggung jawabnya pada hidup. Seniman memiliki itu. Untuk kehidupan yang laik tak serba kurang, seniman mampu, malah banyak yang lebih, meski tentu tetap kalah dibanding saudagar atau pedagang.

Masalahnya, fokus dan orientasi mereka beda. Seniman pada seni lewat renungannya atas kehidupan. Saudagar berniaga, orientasinya laba, untung, materi, yang dengan itu biaya kehidupan pasti terpenuhi, bahkan sisanya bisa limpah-ruah.
Ya, namanya pedagang. Hanya peniaga dungu yang tak mampu meraup laba, menghimpun banyak uang.”

Cuma, itulah, kala itu aku tidak dapat menangkap maksudmu. Dan itu, sebagai seniman yang fokus-renungannya antara lain manusia, makin meyakinkanku manusia memang rumit dan pelik. Coba. Sekian lama kita bersama tak kuasa aku mengenalimu dengan utuh.

Tidak dapat aku menangkap getar-getar yang berasal dalam dirimu, yang kau ungkapkan lewat laku dan tuturan.
Tapi, apa betul itu pokok-soal kita berpisah?
Karena kau tak yakin menempuh hidup bersama seniman?

Seorang sahabat memang pernah bilang ada beberapa sebab kenapa seseorang atau perempuan tinggalkan pasangannya. Pertama, ia bilang, karena perempuan itu jumpa lelaki yang lebih meyakinkan bisa melindunginya, terutama dari segi materi. Kedua, karena lelaki itu lebih tampan.

“Dan, khusus untukmu, lelaki yang berjumpa dengan perempuan itu boleh jadi lebih muda. Jadi juga lebih energik dalam pandangan perempuan itu.” Teman itu lalu tertawa-tawa, bak meledek, seolah berkata,”Rasain lu!”

* * *

KALI kedua kulihat bayanganmu muncul di gerbang itu, kau mengenakan rok dengan blus senada warnanya. Aku melihatmu sangat feminin dengan rok di bawah lutut itu, selop agak tinggi tumitnya. Aku menangkap aura perempuan tulen di dirimu, kelembutan keibuan pada wajah juga yang ada dalam matamu. Makanya tempo-tempo kubayangkan anakku lahir dari rahimmu, menghisap air kehidupan dari dadamu.
Seperti biasa, begitu masuk dan mendekat kau menyapa, “Sudah lama?” Tentu saja disertai senyum.

“Belum,” kubilang, walau aku hampir seperempat jam menunggu. Dari sekian jumpa kita di kafe itu cuma dua kali kau tiba lebih awal dariku dan aku selalu merasa bersalah untuk itu. Lainnya, kau telat, dan selalu pula aku tidak merasa kesal. Entah. Mungkin saat menunggumu mengundang bayang-bayang indah, menyuburkan banyak harapan; membuatku kian gairah merenungkan hidup, menghayati kehidupan.

Lalu kau duduk. Aku dekatkan daftar menu.”Saya cuma ingin minum…” kau sebut minuman yang kau mau hari itu, melambai pelayan. Bicara sejenak dengannya, buka tas, keluarkan HP, pencet sana tekan sini. Selama itu aku memandangmu dengan sayang. Kau seolah tahu itu. Kau alihkan HP ke tangan kiri, senyum, julurkan tangan. Aku elus dan genggam jemarimu, kualirkan rasa hangat dari hati ke jari. Siang cerah di luar. Mataku menatap anak-anak rambut di keningmu. Sebetulnya aku juga ingin menatap matamu. Lama-lama. Kau pun seolah tahu itu. Usai masukkan HP ke tas kau lihat aku, senyum, dan matamu kutatap.
“Aku menyayangimu,” kubilang.
Kau senyum, mengangguk. “Saya juga. Saya pun menyayangimu.” Dan kau rangkul lenganku.
“Lenganmu hangat. Saya merasa amat nyaman,” tambahmu. Matamu lalu pejam; ya, mata yang kusuka itu.

Kau tahu, itulah saat-saat membahagiakan. Berada dekatmu, bersamamu, hari seolah cerah selalu. Dan aku ingin alam ikut merasakan: udara, angin, pohon, daun. Karenanya, sesekali pertemuan itu kita lengkapi dengan bercinta di luar kota. Kau ingat, aku tak mau melakukan dalam kota. Banyak hal bisa terjadi. Misalnya kita jumpa orang yang mengenalmu, dan aku sangat tak mau kau dinilai jelek. Selain itu, aku ingin alam luar kota yang relatif asri, teduh dan nyaman, merasakan yang aku atau kita rasakan. Sebab bagiku yang kita lakukan adalah ekspresi cinta. Tak bisa aku lakukan itu tanpa hati, tanpa perasaan. Memang pernah sekali aku tertegun saat kita bercinta. “Kenapa?” tanyamu merajuk.

“Aku ingat kucingku,” kubilang. Kau tertawa. Aku tak dapat menyalahkanmu kalau menganggap aku dusta. Tapi, sungguh, itu terjadi tak karena ada perempuan lain masuk dalam pikiran-perasaanku. Aku diganggu bayangan tiga kucingku: Sopiloren, sang induk plus dua anaknya;a Bredpit dan Jimifok.

Buktinya, usai merokok dan basuh muka aku kembali ke momen-momen cinta yang indah itu.

Dan, semua itu sungguh amat beda dengan saat kita jumpa terakhir, di kafe itu; setelah kau kuminta berkali-kali. Kau memang datang. Tapi yang kuhadapi bukan lagi perempuan yang kukenal. Kau sangat asing. Tak aku tangkap lagi pancaran keibuan di wajahmu, juga kelembutan itu.

Begitupun yang kusebut aura perempuan tulen, entah ke mana lenyapnya. Air mukamu datar, cenderung dingin, kaku. Matamu yang kusuka tak pula dimuati sinar kelembutan yang kukenal. Aku betul-betul berhadapan dengan orang yang seolah tak pernah mengisi sejarah hidupku, tak pernah dekat denganku. Alangkah ajaib peristiwa, juga waktu, yang telah mengubah semuanya pada dirimu.

Ketika kutanya apa sebetulnya yang terjadi sehingga kita berpisah, jawabanmu memang didului kata maaf tapi suaramu datar, dingin.”Maaf. Cuma itu yang bisa aku katakan.”

Ketika kutanya apakah ada kemungkinan kau akan kembali padaku, kau sahut, “Tidak. Yang kurasakan kini padamu sudah lain.”
(Di hati aku bertanya: bagaimana bisa begitu?).

Ketika kukatakan betapa sayang aku padamu, kau diam, tanpa ekspresi. Juga ketika kucari pada matamu, tak kutemukan jawab di situ. (Dalam hati aku bertanya: ke mana lenyapnya rasa sayangmu?).

Ketika kudekatkan daftar menu sambil bertanya apakah kau tidak ingin pesan minuman, kau memang mengangguk, tapi yang kau pesan tak lagi minuman biasanya. Jadi semuanya memang sudah berakhir, sudah usai, selesai.

* * *

ANEHNYA, itulah, aku kini serasa menunggumu di kafe itu, merasa kau akan datang. Padahal tidak. Aku sendiri ada di rumah, menyaksikan hujan. Dan kafe itu telah lama tutup. Bulan lalu waktu aku melintas di depannya ia sudah tak ada. Tidak terpahami memang. Karena dari segi bisnis kafe itu tampaknya cukup punya prospek, menguntungkan. Kenapa distop pemiliknya?

Tapi, apa pula bedanya dengan hubungan kita, juga denganmu? Bagiku hubungan kita dulu baik saja, kau pun tidak menampakkan gejala ingin mengakhiri. Nyatanya…

Ah, jangankan pemilik kafe itu, dan kau, diriku sendiri tak bisa kupahami. Ya, sungguh pelik manusia, ternyata. Jelas-jelas kau tak ada lagi, tidak mungkin kembali, namun masih juga aku mengingatmu.

Dan, kini, serasa menunggumu di kafe itu. Kafe yang sekarang pun tidak ada lagi, seperti dirimu. Ah, apa kiranya yang membuatku begitu? ***

* LA, Kamis 25.2.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *