Alquran sebagai Kitab Antropologi

Muhammadun A.S
http://suaramerdeka.com/

SEBAGAI wahyu ilahi, Alquran diyakini mencakup segala hal dan bersifat universal. Kandungan Alquran yang begitu istimewa itulah yang membuatnya dianggap sebagai mukjizat paling agung sepanjang zaman, yang diturunkan untuk umat manusia lewat Nabi Muhammad. Ia merupakan sumber inspirasi dan petunjuk yang mengandung makna yang sangat kaya, luas, dan mendalam, sehingga setiap lafalnya bisa memunculkan banyak makna dan arti, sesuai dengan kemampuan dan cara pembacaan seseorang.

Dalam kehidupan masyarakat muslim, Alquran menempati posisi yang sangat penting. Sayang, kandungan makna yang agamis sering digunakan sebagai legitimasi ideologis dan politis. Karena itu, perlu hadir pendekatan baru yang bisa membuka jalan pikir baru yang tidak ortodoks dan merasa benar sendiri. Dalam konteks ini, Baedhowi lewat bukunya ini membongkar pemikiran Muhammad Arkoun, intelektual Muslim asal Aljazair, yang banyak menilai bahwa tafsir yang dikembangkan oleh umat Islam sejak abad I H/VII M masih bersifat parsial.

Arkoun menilai bahwa mufassir memberikan pemaknaan dan penafsiran terhadap ayat Alquran yang berkiatan dengan pemikiran, kebudayaan, dan kebutuhan ideologis yang sesuai dengan zaman, lingkungan soxial, dan avilisasi politiknya. Karena itu, tafsir ini bersifat mitologis dan bukan historis. Bahkan hingga saat ini, tafsir model ini masih berlanjut. Ini adalah dampak dari pengaruh politik, pencarian identitas diri (nasionalisme) dan biasanya dilakukan untuk tujuan ekonomi, politik, dan budaya. Bagi Arkoun, penafsiran model ini hanya akan membuat agama sebagai penopang ideologi bagi para pemimpin, tempat persembunyian bagi para oposan, suaka moral bagi kaum tertindas, dan instrument promosi bagi calon pemimpin masyarakat.

Sebagai akibatnya, Arkoun merekomendasikan para peneliti, seperti sejarawan, sosiolog, antropolog, linguis, teolog, dan filsuf dengan tanggung jawab yang baru dalam menjelajah tafsir Alquran yang egaliter dan progresif. Lewat buku ini, Baedhowi mencoba membaca Alquran sebagai kitab antropologis. Pendekatan ini digunakan untuk membaca semangat Alquran yang tidak menjadi mushaf (dianggap) standar dan menjadi sebuah korpus resmi tertutup. Karena peralihan wacana sebagai korpus resmi tertutup bisa mereduksi berbagai macam bacaan, dialek, dan bahkan yang terbuka dan luas menjadi suatu penafsiran logosentris yang sempit dan kaku. Ini berarti bahwa peralihan dari wacana kenabian yang bersifat oral (lisan) ke wacana masyarakat melek huruf yang pandai membaca dan menulis ternyata memunculkan masalah tersendiri.

Tanggung Jawab
Bertolak dari gagasan Muhammad Arkoun, Baedhowi melihat bahwa secara antropologis, pertentangan antara nalar spontan dari masyarakat yang tidak mengenal tulisan dan lebih mengandalkan bahasa lisan dengan nalar grafis dari masyarakat berkitab yang melek huruf, pandai membaca dan menulis, yang kemudian menjadi wacana akademis, secara politis dan psikologis, justru telah menghilangkan mekanisme wacana yang demokratis. Sebab, secara histories, nalar grafis yang didefinisikan oleh para elite pendukung kekuasaan (fuqoha?, teolog, filsuf) ternyata kian berkembang dan menyebabkan ketersingkiran masyarakat ?ummi? yang mengandalkan nalar spontan dan bahasa lisan, yang sebenarnya justru dekat dengan wacana kenabian (halaman 201-202).

Untuk menelusuri konsep antropologi, Arkoun menawarkan konsep tentang ?tanda? sebagai kata simbol yang menjamin secara logis dan konkret dari kebahasaan mitos. Kebahasaan ini sebenarnya telah dikenal oleh ketiga kitab samawi (Taurat, Injil, Alquran). Dalam Alquran kebahasaan ini antara lain menunjukkan pada: kebenaran; penuh kegunaan; spontanitas, yakni pemancaran yang kontinu dari gambaran-gambaran yang demonstratif, tetapi benar-benar didasarkan pada gelora semangat manusia; bernilai simbolis.

Memperbarui
Pendekatan antropologis ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki dan memperbarui pengatahuan tentang mitos, yang bisa dikembangkan tanpa harus menggusur pengalaman keagamaan, sebab mitos adalah sebuah bentuk ekspresi, penyajian, dan realisasi keagamaan secara umum. Dan yang tak kalah penting dari kisah-kisah Alquran adalah bahwa ia bukanlah (semata-mata) sebgai catatan sejarah, melainkan teladan dan pelajaran tentang sunnatullah (hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum alam), agar nalar kita bisa memetik segala sesuatu yang tertuang di dalamnya dan mengambil pelajaran darinya.

Gaya pemikiran Arkoun dalam membedah antropologi Alquran yang terjabarkan dalam buku ini adalah mencoba menggabungkan antara nalar agamis yang imaginatif dan mempunyai jangkauan mitis dengan nalar filosofis yang logis, empiris, dan historis. Dengan pendekatannya ini, Arkoun melihat bahwa masalah peralihan dari Alquran dan juga sebab turunya, yang merupakan teks pembentuk (textes formateurs/nash muassis) ke tafsir Alquran yang jumlahnya sangat banyak dan merupakan teks hermeneutis (texts interpretees/nash at-tafsiri) yang tereduksi dan tidak mungkin bisa membatasi makna Alquran secara komprehensif, mutlak benar, utuh, dan tunggal, karena tafsir-tafsir itu bersifat zamhaniy (situasional dan kondisional) dan selalu terkait ideologi penafsirnya, bahkan terkadang terkungkung oleh kondisi sosial politik yang melingkupinya.

Ijtihad pemikiran Arkoun yang terjabarkan dalam buku ini menjadi catatan penting bagi umat Islam, khususnya dalam bulan Ramadhan ini. Arkoun semata ingin mengabdikan dirinya secara ilmiah agar Alquran tetap menjadi corpus terbuka yang bisa dibaca dengan semangat jaman apapun, tanpa kehilangan otentisitas sedikiptun. Justru semakin membuka pemaknaan baru yang mencerahkan untuk kemajuan Islam.

(?Muhammadun AS, peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *