Boneka Aksi Isa Ansory

Afnan Malay*
http://www.jawapos.com/

Galeri Canna, Jakarta, sejak 23 April hingga 9 Mei 2010 menghelat pameran tunggal perupa Kota Batu Isa Ansory. Pada pameran kali ini, Isa menyertakan 22 lukisan akrilik buatan 2008 dan 2009, rata-rata berukuran 150 x 200 cm, berwarna cerah atau perpaduan warna-warna kontras. Kesemuanya, boneka-boneka Isa, nyaris menjelma sebagai sosok manusia.

Visualisasi boneka, menurut Wahyudin yang bertindak sebagai kurator pameran, terbilang jarang digunakan perupa. Boneka-boneka itu, karenanya, adalah cara cerdik Isa untuk merekam banyak peristiwa. Isa juga membuat catatan kritis (sarkastik, ironi), tetapi kesantunan dengan sendirinya tetap terjaga: karena yang kita lihat tetap saja boneka-boneka jenaka yang imut. Misalnya bagaimana Isa “mendeskripsikan” Amerika, tampak efektif pada Burning dan The Big Boss. Burning menggambar dua sosok boneka beruang merah jambu yang seolah-olah dibekap boneka biru muda di belakangnya. Kepala si boneka merah jambu terlilit bendera Amerika yang pada salah satu sudutnya: api memercik.

Sedangkan The Big Boss adalah kisah boneka berjas cokelat dan bercawat bendera Amerika yang tengah berendam dalam bath tub mewah. Kedua tangannya merentang. Di mulutnya tersungging sebatang cerutu. Tampak jelas ia sedang menikmati relaksasi meluruhkan kepenatan sebagai sang polisi dunia.

Pada Are You Military, Isa membuat catatan kritis menukik, tetapi dengan kehalusan yang dalam. Ini soal dua beneka beruang ungu tua yang menggamit senjata laras panjang yang ujungnya menjuntai sepotong kain loreng hijau (simbol militer). Boneka satunya (beruang) berwarna cokelat kombinasi putih tampak lunglai merunduk dalam dekapan boneka ungu tua. Sama saja, keduanya menyiratkan cerita lunglai, yang ingin menyatakan fakta yang sangat nyata dan terjadi berulang-ulang. Yaitu buah paling mungkin yang menyembul dari pohon kekerasan: kesia-siaan yang melelahkan.

Politik bukanlah gagasan Isa. Dia sebenarnya banyak menghadirkan boneka-boneka dengan ragam aksi manusia dan lebih berkonsentrasi pada relasi-relasi yang personal (intimitas, kebersamaan, atau cinta). Misalnya tampak pada Togetherness, I Need You, Love Affair, Couple, atau perilaku gaya hidup pada Call Me Please.

Pantas dicatat, terutama, tentulah kemahiran Isa melakukan dua kali penciptaan. Pertama, boneka-boneka binatang itu diolah menjadi binatang hidup sesungguhnya. Kedua, binatang ciptaan Isa tersebut menjadi representasi aksi-aksi manusia gagasannya. Kemahiran itu pastilah didapat berkat intensitas lulusan Jurusan Seni Rupa IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) tersebut bergaul dengan boneka binatang milik putri bungsunya, Vanessa Hassya Alodia, yang jumlahnya ratusan: beruang Teddy, monyet, anjing, babi, harimau, singa, dan kura-kura. Sambil mengasuh putrinya yang gemar boneka, selepas mengantar si sulung Callista Hassya Alodia bersekolah dan sang istri berjualan pakaian di Pasar Pujon, ternyata boneka mainan Nessa -panggilan Vanessa- menginspirasi Isa.

Sekalipun harus dua kali melakukan penciptaan atas boneka-boneka yang menjadi pokok perupaannya, Isa tetap setia membiarkan semuanya pada kondisi aslinya. Terbukti, tidak ada satu pun boneka Isa yang divisualisasikan dalam posisi berdiri tegak: karena segera kelihatan betapa aksi tersebut sangat dipaksakan.Boneka-boneka tetap dibiarkan Isa pada posisi dan kondisi semula, termasuk lekak-lekuk anatominya. Paling jauh, rekayasa dilakukan pada organ tangan dan sejumlah aksi (menggamit, rebahan, mendekap) atau dipenuhi pernik-pernik (kacamata, senapan, rokok, tisu). Lebih banyak Isa menggarap detail raut mimiknya, seperti sarat pengalaman hidup (On The Cardboard); keasyikan yang tak terperi (Little Bear In The Pail); dan keterpurukan yang mengenaskan (My Angel).

Di luar dominasi aksi-aksi humanisasi boneka, sebenarnya ada beberapa lukisan yang pokok perupaannya dibiarkan Isa konsisten menjadi boneka sungguhan. Itu terlihat pada dua model penggarapan yang berbeda dengan yang lain, yaitu pada boneka babi merah dan keemasan: Toy Pig On The Mud #1 dan Toy Pig On The Mud. Atau pada lukisan empat panel penuh lumpur berjudul Little Bear On The Chocolate.

Memang, bisa saja dengan mudah rendaman lumpur asli dan lumpur cokelat pada tiga lukisan tersebut dipersepsikan para apresian sebagai reperesentasi lumpur Lapindo. Tetapi, tiga lukisan itu memikat ketika dikomparasikan dengan yang lain karena kita tidak “dimanipulasi” aksi-aksi boneka Isa. Tetapi, Isa berhasil menohokkan visualisasi yang artistik: semata-mata kita hanya diajak menyelami boneka-boneka yang berkubang lumpur. Tidak ada aksi pada tiga lukisan itu, tapi ada stimulus refleksi yang disodorkannya.

Pameran tunggal Isa yang pertama ini bertajuk What A Doll! Pada catatan kuratorial disebutkan, proses penciptaan dilakukan Isa dengan penuh ketekunan. Pertama, melamunkan cerita, adegan, dan pose tertentu dalam benak berdasar kesan dan persepsinya atas suatu berita, peristiwa, sosok, dan pokok yang dibaca, didengar, ditontonnya sehari-hari maupun berdasar berita media massa.

Kedua, mereka-reka sendiri kesan dan persepsi itu secara figuratif melalui model satu-dua boneka binatang dalam suatu lanskap atau latar suasana yang terbayang -yang akan direkamnya- dengan menggunakan lensa fotografi atau kamera digital.

Ketiga, mengolah atau menambal sulam rekaman itu secara estetik dengan menggunakan kecanggihan komputer grafis, dan pada gilirannya, dengan kecakapan dan keterampilan teknis-artistiknya, olahan itu dituangujudkan di atas kanvas.

Isa, putra Batu kelahiran 1973, terlibat intens dengan sejumlah perupa Jawa Timur. Pada 90-an, untuk mematangkan pengetahuan dan ikhtiarnya menjadi pelukis, dia merasa bahwa pendidikan formal saja tidaklah cukup. Untuk pengayaan diri, dia bergabung dengan komunitas Pondok Seni Raos yang didirikan pada 80-an. Pondok yang bergelut dengan aktivitas seni rupa itu bermarkas di Losmen Kawi yang terletak di Jalan Panglima Sudirman 6, Batu.

Tempat tersebut tentu saja inspiratif. Sebab, di sanalah suatu ketika, pada pengujung 70-an, maestro seni rupa kita, Affandi, membuat lukisan berjudul Makan Semangka. Tuah Affandi itulah yang ingin direguk para perupa Jawa Timur, tidak terkecuali Isa. Dan, dia sudah menancapkan aksi keperupaannya melalui What A Doll!. Kita memang layak terperangah. (*)

*) Kurator seni rupa, tinggal di Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *