Cekik

Beni Setia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang siap luruh jadi abu.

“Rokok?” katanya sambil menyorongkan kotak rokok dan geretan.

Aku termangu. Lelaki itu tersenyum. Tangan kanannya membuat gerakan isyarat. Menganjurkan. Meluruhkan sungkan. Aku ragu. Dengan tenang ia mengeluarkan sebatang, menyelipkan di mulut dan membakarnya. Setelah dua helaan ia memberikannya padaku. Aku menerima. Menyelipkannya dan mulai menarik aroma ke dada. Merasakan atmosfer udara bebas nyetrum jantung, paru-paru dan syaraf.

“Kopi?”

“Terima kasih.”

“Ayo…,” katanya, menyorongkan cangkir kopi itu ke hadapan. Menenggerak-gerakkan kedua tangannya memberi jaminan dan pembebasan. Aku menarik napas. Mengisap ruap kopi dan membiarkannya naik ke kepala lewat syaraf. Lelaki itu menarik berkas yang teronggok di kiri. Membuka stopmap yang ditangkupkan dengan kasar oleh si interogator beruang, yang cuma pinter berteriak, membentak, menggebrak, menjambak, memukul, dan membenturkan wajah di meja.

“Kau membunuh orang,” katanya, “Kenapa?”

Aku diam saja. Tak peduli.

***

“HARYOTO itu temanmu kan?” kata lelaki langsing itu sebelum mengisap rokok yang santai diselipkan di bibir.

Aku tersenyum. Mengangguk. Lelaki itu manggut-manggut. “Teman,” gumannya, sambil membaca berkas, lalu meraih bolpoint dan membuat garis bawah. Meneliti dan membacakan riwayat hidupku -lebih tepatnya: riwayat pendidikan SMP dan SMA-, dengan intonasi jelas, seperti minta dibenarkan. Ia melirik. Aku mengangguk. Mengiyakan.

“Bukan teman kuliahmu, Le?”

“Nggak! Dia di Yogya aku di Bandung. Selulus SMA kami pisah, setiap libur semester jarang ketemu. Ia jarang pulang, dan bila pulang aku yan nggak.”

“Kapan kalain terakhir bertemu?”

“Ya…semalam itu?”

“Pas kejadian itu, ya? Sebelumnya? Kapan? Ingat?”

Aku meraih cangkir kopi. Lelaki itu tersenyum. Mengangguk. Mempersilakan dengan tangan kiri -sambil bersandar ke kursi dan menyelonjorkan kaki di kolong meja sehingga ujung sepatunya yang berkulit kaku dan keras itu terasa menyentuh jari kaki. Aku tidak peduli. Sebatang rokok dan aroma kopi itu tak tertahankan. Aku menyebuli air kehitaman yang masih menyengat itu, sebelum diseruput. Kehangatan menggelusur. Mengendap di lambung. Membangkitkan gema tenang di kubah otak. Ingatan mengembara -jauh.

***

SEJAK SMP kami satu kelas, bahkan sebangku. Jadi tak heran kalau aku pulang sekolah ke rumahnya dan tidur di sana, seperti ia ikut ke rumahku dan tidur, makan, minum, dan diberi uang jajan oleh Mama. Bahkan setiap acara keluarga aku diajak orang tua Haryoto dan ia diajak oleh keluargaku. Ia dianggap adikku oleh keluargaku, dan aku dianggap kakak Haryoto oleh keluarganya -aku lebih tua dua bulanan. Bahkan orang-orang cenderung menyebut si kembar beda telur dan beda rahim. Sesekali malah ada yang menyebut homo.

Semua tahu, kami sangat intim bersahabat. Berkali-kali keluarga kami merencanakan menyewa kamar kos tunggal untuk berdua -kalau kami sama-sama kuliah di Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya atau Malang. Tapi nyatanya kami terdampar di kota yang berbeda. Mungkin karena lulus tes pada tempat berbeda meski menuliskan universitas yang sama -berdasar PMDK yang sama. Benar-benar karena kehendak-Nya. Karena pengaturan peruntungan dan nasib yang berbeda. Aku bablas ke Bandung dan ia cuma sampai di Yogya.

Mulanya aku berpikir tak akan bisa kerasan di Bandung -hawanya lebih dingin dibandingkan Madiun. Bahkan hari-hari pertama pulsa HP melonjak tinggi karena aku selalu konsultasi dengan Haryoto -dan menerima keluhannya. Tapi lambat laun segalanya bisa diatasi. Aku bertemu teman baru. Aku diserap kuliah dan tugas-tugas. Aku mulai menemukan keasyikan ada di lingkungan baru. Merasa enggan untuk sekadar pulang ke Madiun dan bertemu dengan Haryoto. Kontak HP mulai jarang dan menghilang pada akhir tahun pertama kuliah. Itu tanda kami bukan si kembar -dua anak yang beda telur, rahim dan pejantan.

***

“KALAU Lebaran kalian tak bertemu?” kata lelaki itu sambil mematikan rokok di asbak.

Aku menurunkan cangkir kopi yang menutup mulut dari tatapannya. Mengangkat bahu dan menurunkannya cepat sambil berkali-kali menggerakkan kepala -menggeleng.

“Setiap Lebaran Haryoto pulang ke rumah Mbah dari garis Ibu di Trenggalek, di pesisir selatan. Dan sekali ke Semarang, ke keluarga dari garis Ayah, di pantai utara. Karena itu kami cuma bisa kontak lewat HP.”

“Kenapa?”‘

“Aku langsung ke Surabaya, lalu ke keluarga Ayah di Lamongan.”

“Tapi kamu kontak kan?”

“Via HP.”

“Kenapa?”

“Kita masih teman, masih sahabat. Tapi kita hidup di dunia yang berbeda. Aku pikir, Haryoto itu seperti anak kecil yang menemukan mainan baru sehingga lupa bila hari sudah petang dan harus pulang. Membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk hari depan. Hidup yang sebenarnya.”

“Apa itu?”

“Aku punya guru di Bandung. Dia bilang, dunia ini fatamorgana. Penuh tipuan nikmat yang menyesatkan, yang bikin lupa kepada yang sebenarnya. Kita ada untuk diuji-Nya, mengatasi cobaan dan ilusi, memasuki titik akhir yang merupakan pintu belakang dari keberadaan di dunia. Ruang tempat Yang Mengadakan menerima yang diadakan, seperti cermin menampung bayang dan bayangan kembali pada Yang Bercermin. Ruang tempat Yang Mengadakan, bercermin dan membiarkan bayangan merasa perkasa di dunia ilusi, sebelum sadar dan balik kepada Yang Bercermin.”

“Mbulet. Muter-muter, Le.”

“Itu hakikat hidup. Berputar-putar, ruwet, mbulet, dan menyesatkan. Karena itu harus meretas jalan, memutuskan putaran yang menyesatkan. Dengan menarik diri. Zikir. Dengan cincin Nabi Khidir ini.”

“Bagaimana caranya?”

***

AKU sengaja menemui Haryoto. Langsung dari Bandung, ke Madiun setelah yakin ia tak ada di Yogya. Setelah berangkulan. Setelah omong kosong. Setelah banyak tertawa dan menggeleng-geleng kepala: aku langsung menanyakan kuliahnya -“Menyenangkan,” jawabnya. Aku menarik napas. “Bagaimana pergaulanmu?” kataku. Haryoto tersenyum. Mengepalkan mengacungkan jempol. Ter-tawa. Bersandar. Berselonjor sambil mengacungkan jempol di dua tangan.

Aku mengangkat tangan, memutar cincin Nabi Khidir di jari tengah -tiga kali. Lantas pandangan menemukan kesejatian Haryoto hari ini. Tubuhnya, kedua tangan dan kakinya mengembang jadi bentuk yang bulat dan besar. Kepalanya menyempit karena hidungnya memanjang. Pelan-pelan aku sadar: Haryoto berubah jadi gajah. Gajah berbelalai penis, yang digerakkan ke kiri dan ke kanan -mencari sasaran. Aku tersentak. Istigfar. Dan Haryoto terbahak-bahak.

“Masa muda yang menyenangkan.”

“Hidup yang sesat.”

“Hidup merdeka tanpa represi moral.”

“Kau tersesat!”

Haryoto terbahak-bahak. Aku mengulurkan tangan. Menangkap lehernya dan mencengkeram dengan tekanan penuh dari dua jempol di bawah jakun. Haryoto berkelojot. Aku menekan kedelapan jari dan tersenyum ketika mendengar bunyi lembut -tulang leher patah. Memutar balik cincin Nabi Khidir sambil berjalan meninggalkannya sekarat. Pulang. Bikin mi goreng dari mi instan, dengan lauk sosis iris dan telor ceplok. Kemudian polisi datang. Kemudian interogasi pra-PV.

***

POLISI langsing itu bertanya, “Bagaimana caranya?”

Aku mengangkat tangan dan memutar cincin Nabi Khidir tiga kali. Sesaat terlihat wajah lonjongnya memandak dan monyong, seperti muka srigala. Tapi sejak ruas leher tidak ada tangan dan kaki, hanya badan yang memanjang dan melancip jadi ekor. Ia ular berwajah srigala. Tanganku terulur. Spontan. Menjangkau leher dan sekuatnya mencekik -seperti biasanya. Ia berkelojot – tapi sudah terlambat. Telat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *