Cinta dan Bom Omi pada Ugo

Wahyudin
suaramerdeka.com

GAJAH mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Omi Intan Naomi mati meninggalkan buku.

Buku ini adalah peninggalan Omi: terbit dua tahun setelah ia berkalang tanah pada usia 36 yang berharga bagi seni rupa Indonesia yang kaya laba tapi miskin wacana.

Seseorang mungkin akan bertanya apakah ia demikian istimewa? Ia memang bukan Ayu Utami yang semerbak di kebun “sastra wangi”. Ia memang tak serupa Djenar Maesa Ayu yang aduhai perangai dan cerpen-cerpennya. Ia memang tidak seperti Nukila Amal yang prosa-prosanya membius khayal.

Tapi baiklah kita kenang ia sebagai seorang perempuan penulis yang berkawan sepi dan berteman sunyi di sebuah sudut Yogyakarta dengan seekor kucing gendut bernama Moby, boneka, film, buku, dan situs internet berjuluk “hujan, hutan, angin” yang dipiara dengan cinta sedalam samudra.

Barangkali itu sebabnya kita tak punya banyak kenangan tentangnya. Saya pun hanya bisa mengenangnya seperti “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono, yang lebih tabah, yang lebih bijak, yang lebih arif, yang mengenal baik jalan dan selokan penderitaan dan kemiskinan masa lalunya. Ia serupa hutan nun jauh di sana, yang rindang, yang teduh, yang teguh, dengan kesendirian. Ia serasa angin yang berdesir, yang mengabarkan kebun bunga bahwa dalam perasaian dan kekhalian seseorang bisa saja menemukan kesunyataan dan menjadi manusia sejati.

Mungkin itu sebabnya, ketika Omi mangkat pada 2006, sejumlah orang tenggelam dalam perasaan sedih yang tajam, seperti baru tersadar dari perasaan terpesona yang letih dan kemudian perlahan-lahan bangkit dengan raut tergunjang dan hati berdetak pilu bahwa seseorang yang istimewa telah berpulang dan meninggalkan mereka sendirian untuk merenungi apa arti suatu kehilangan.

Pelukis Bob Sick Yudhita, misalnya, merupakan perasaan kehilangannya sebagai laki-laki yang paling berduka pada tahun itu. Tapi bukan kematian itu benar yang meremuk-redamkan hatinya, melainkan keridaan melihat maut yang menjemput Omi ke alam barzah, tak kita tahu setinggi itu duka maha bertahta di hatinya. Itu sebabnya, ketika saya bertanya kepadanya dalam acara obituari untuk Omi di Kedai Kebun Forum, apa arti Omi dalam kehidupannya, ia menyahut: “Gila kau, Omi sangat berarti bagiku. Dialah yang menciptakan kitab-kitab yang tak bakal ditemukan di agama mana pun di negeri ini. Dia ibarat nabi bagiku.”

Buku ini boleh dibilang secara agak berlebihan termasuk ke dalam “kitab-kitab yang tak bakal ditemukan di agama manapun di negeri ini”. Sudah pasti. Buku ini bukan buku agama, melainkan semacam dokumen human tentang kehidupan, alam pikiran, dan laku berseni rupa, seorang senirupawan bernama Ugo Untoro yang termasyhur di jagad seni rupa Indonesia.

Dengan kata lain, buku ini merekam pengamatan Omi atas Ugo dan yang mengejutkan pengamatan itu berlansung selama 17 tahun (1989-2006), sekalipun, menurut pengakuan Omi (halaman 247), ia bersua-muka dengan Ugo tak lebih dari 5 jari tangan.

Dengan demikian, kita bisa menyebutnya sebagai pengamatan dari jauh. Tapi “jauh” di sini perlu digarisbawahi sebagai sekadar jarak fisik, karena yang tertulis dalam buku ini mengisyaratkan dengan cerlang bahwa sejatinya mereka dekat, meskipun tidak saling bersintuhan. Omi menyerupakan kedekatannya dengan Ugo “sama seperti kedekatan antara dangdut dengan seriosa” (halaman 248).

Bagaimanapun juga, menyimak hal-hal yang tersurat dalam buku ini, kita beroleh-temu aspek-aspek personal, intim, dan menyentuh, dari kehidupan Ugo Untoro berdasarkan pengalaman yang terbatas tetapi mendalam dan keheningan kontemplatif Omi yang sangat tak mungkin dilakukan oleh penulis, pengamat, dan kurator seni rupa, kecuali mereka memang berniat menggorok leher sendiri.

Itu sebabnya mengapa saya sebut buku ini berharga, karena hanya Omilah yang berani, antara lain mengatai Ugo sebagai “ekspresionistis-romantik” dari sebuah kampung kota di Purbalingga, Jawa Tengah, yang memulai debut seni rupanya di Yogyakarta, 14 tahun lalu, dengan permohonan menghiba-haru.

Dalam pengantar pameran tunggal pertamanya bertajuk “Corat-Coret 91-95”, di Bentara Budaya Yogyakarta, 1995, Ugo, seperti dikutip Omi (halaman 256), menulis: “Saya berharap pameran ini tidaklah menjadi berita yang sia-sia; semoga Yogya menerima”.

Namun demikian, dari perasaan pesimisme melankolis itulah Ugo tumbuh, berkembang, dan menjadi seorang senirupawan andal di negeri ini. Ia pun ada dan berada sebagai senirupawan nan terhormat ?dengan perilaku nyentrik pada kuda, perempuan, dan obat-obat halusinator.

Tentang perilaku nyentrik Ugo yang tersebut terakhir itu, Omi menganggapnya sebagai “ritual berbahaya karena narkomania di dia bukan lagi urusan personal melainkan sosial” (halaman 355). Keganjilan sosial ini, menurut Omi, sesungguhnya tak relevan lagi dan “cuma telanjur jadi kebiasaan” berdampak buruk sosial, karena “dia kini bos kecil yang hidup di atas panggung, dirubung pengikut dan diacu oleh kerumunan yang lebih muda sebagai panutan” (halaman 355).

Kendati demikian, ketika para pengamat seni rupa ramai-ramai melontarkan kritik pedas terhadap penurunan mutu artistik lukisan-lukisan Ugo “gara-gara overdosis minimalisme” dan “bangkrut di perkara gagasan” pada awal 2006, Omi membelanya dengan lantang: “Tak ada yang salah dengan Ugo bila yang semacam ini kadang menyelinap menjadi kasusnya. Memangnya dia pabrik, harus terus-menerus melukis dengan tenggat yang rapat dan target yang makin meningkat tiap caturwulan?” (halaman 445).

Mari kita sebut pembelaannya itu sebagai “cinta” yang bertukar tangkap dengan kritik dan perasaan terpesona yang tak pernah letih sepanjang 17 tahun ia mengamati Ugo. Kalau bukan “cinta”, lantas apa? Saya tak berani mengatakan bahwa Ugo di mata Omi tak ubahnya dolanan intelektual perempuan berparas ‘pinjam kesan senirupawan S Teddy D’ “galak seperti mau menerkam” itu, atau serupa bom imaji yang indah dan hangat, yang membikinnya tenggelam dalam pikiran-pikiran sensitif yang melembutkan ekspresi keras di lidah dan hati kakak pelukis Bunga Jeruk itu.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *