Dongeng Hujan

Dwicipta
http://suaramerdeka.com/

PADA mulanya hujan. Lalu lelaki tua itu akan mengeluarkan sebuah kursi kayu dari dalam rumah dan ditaruh di beranda. Ia menjatuhkan pantat kering di permukaan kursi, dan memanggil cucu kesayangan yang telah ditinggalkan kedua orang tua sejak kecil. Anak lelaki berusia tiga belas tahun itu akan mengerti arti panggilan kakek. Ia datang dengan membawa secangkir kopi dan rokok yang digulung dengan daun jagung. Selanjutnya, lelaki tua itu akan memandangi tetes-tetes air hujan dengan seksama, terus menerus, sampai berhenti. Sambil memandang derai-derai hujan, ia mengisahkan pada cucunya banyak hal, mulai dari pendirian pabrik gula yang ada di dekat kampung sampai dengan kehidupan para kuli harian dan tangan para kuli klethek1 yang selalu kelihatan mengerikan. Tentu saja sembari pandangan mata memamah buliran-buliran air hujan di luar, dan melayangkan angan-angannya jauh ke masa lampau tempat ia merasakan kemurnian hidup lebih dari yang dirasakan sekarang.

Ia akan sangat semangat bercerita bila air yang tumpah dari langit besar-besar dan deras. “Seperti butir-butir kristal. Dan ketika jatuh di tanah, aku membayangkan air itu mengeluarkan suara seperti sebuah piring dibenturkan dengan logam semacam besi atau baja,” katanya.

Napas tuanya mendengus berkali-kali, kadang-kadang seperti orang menghela karena tak menerima kenyataan menyesakkan. Rancak suara air hujan di atas atap atau di atas lantai dan saluran air di samping kanan dan kiri bagian depan rumahnya bagai musik liris, menaburkan kilauan cahaya warna-warni di permukaan bola mata, dongeng kebun tebu dan pabriknya yang ia hapal dari kakek neneknya ketika ia masih kecil seusia cucunya. Bagaimanapun juga, ia ingin mewariskan kebiasaan kakek dan neneknya pada cucu, agar anak lelaki itu tidak kehilangan akar.

“Dongengnya panjang, Nak. Ambil kursi kecilmu dan duduklah di sampingku.”

Anak lelaki itu pun mematuhi ucapan kakeknya dengan segan. Setiap musim hujan, kebiasaan sang kakek mendongeng membuatnya tak bisa ke mana-mana.

“Pertama-tama, lelaki itu datang. Ia memakai pakaian rapi, hitam putih. Wajahnya bulat dan segar, bagai bulan sedang purnama. Kami menyebutnya laki-laki dari Selatan, sebuah kota besar yang jaraknya amat jauh dari sini. Di kemudian hari, orang-orang melihatnya bekerja sebagai kontrolir perkebunan tebu, menggantikan kontrolir sebelumnya yang meninggal di kompleks pelacuran. Sikapnya jauh berbeda dari mandor-mandor tebu yang lain, Sinyo-sinyo Jawa yang suka plekitha-plekithi dan berhura-hura. Ia tak suka memukul para kuli kebun tebu, tak pernah menggunakan cambuknya, tak senang pergi ke pelacuran, bersenang-senang dengan perempuan nakal. Orang sudah simpati melihat wajahnya yang selalu terang, penuh senyum dan berkata halus. Ia menjadi kesayangan para kuli kebun tebu,” katanya dengan raut muka menerawang.

Cucunya gelisah menahan hawa dingin. Entah sudah berapa kali ia mendengar dongeng itu dari mulut kakeknya. Walaupun ia telah memakai pakaian dan sarung, namun bila hujan sedang deras dan lama, hawa dingin mencucuk itu mau tak mau akan merasuk ke dalam sumsum tulang. Sementara kakeknya bagai tersihir dongengnya sendiri, pandangan matanya merasuk ke dalam gejolak air hujan yang mencari ceruk-ceruk lebih rendah atau mengalir ke got-got penuh dedaunan kering dan sampah kotor.

“Kemarin kakek telah menceritakan dongeng itu, dan terus berhenti di kalimat yang sama. Sehabis itu hampir seluruh waktu kakek melamunkan laki-laki itu,” katanya tak sabar.

Laki-laki tua itu berpaling, mendengar suara agak meradang dari cucunya.

“Apakah aku telah mengulanginya?”

“Sudah hampir tujuh kali kakek mengulanginya. Aku bosan,” katanya.

“Baiklah. Tapi memang demikianlah adanya. Ia memang layak menjadi kesayangan setiap orang. Tidak seperti kontroler kebun tebu yang biasa tinggal di tangsi-tangsi bagus dan mewah itu, ia lebih suka tinggal di perkampungan orang biasa, di kampung kita ini, Nak.”

“Aku sudah melihat bekas rumahnya, Kek. Tak ada yang istimewa menurutku.”

“Kau sudah datang ke sana? Ah, apakah kau mendapati sesuatu di sana? Orang baik selalu disayangi Tuhan dengan berbagai aurora baik. Kau tentu punya kesan atas tempat tinggalnya.”

Sang cucu menggaruk-garuk kulitnya melawan hawa dingin hujan, tak memedulikan kata-kata dari mulut kakeknya. Ia lebih suka memandang asap rokok dari mulut itu daripada mendengarkan ceritanya yang menjemukan itu. Karena cuaca buruk ia tak bisa bermain dengan teman-temannya mengambili telur-telur burung bondol dan emprit di tengah-tengah kebun tebu. Sejak pagi ia mengumpat-umpat awan yang bergelayutan di langit. Kawan-kawannya tak ada satu pun yang datang padanya, mengajaknya bermain sebagaimana biasa. Begitu tetes-tetes hujan mulai menderas, khayalan merebus telur burung dengan kaleng bekas susu lenyap dari kepala. Kejengkelan itu ditambah dengan kepikunan kakek yang suka mengulang-ulang cerita.

“Lalu apa yang terjadi dengan lelaki itu, Kek? Kenapa sekarang rumahnya tak terawat? Apakah dia pindah rumah?”

Kilat menyilaukan melesat di angkasa, diikuti suara guntur susul menyusul. Anak lelaki itu menutup kedua daun telinga dan merapatkan kedua kelopak matanya kencang-kencang. Sementara lelaki tua itu hanya kaget sedikit, dan keredap cahaya di langit seperti mengingatkannya pada sesuatu.

“Ibumu dulu kembang kampung ini. Rambutnya sangat panjang, hampir mencapai pinggul, lurus dan beraroma melati. Gadis-gadis di kampung ini banyak mengiri padanya. Apalagi bila melihat kuku-kukunya yang dirawat rapi dan diwarnai dengan daun pacar. Banyak orang bilang, daun pacar yang dipakai di atas kukunya itu yang menyebabkan orang banyak jatuh hati padanya. Banyak pula yang bilang ia memakai guna-guna pemikat laki-laki.”

Rasa jenuh menghinggapi anak lelaki itu. Dongeng Sang kakek tentang ibunya pun sudah ia dengar puluhan kali. Kekagetan oleh petir yang diharapkan mengubah kisah sang kakek berakhir dengan rasa pahit di lidah oleh kekecewaannya. Ia menjawab asal atas dongeng kakeknya.

“Tapi menurutku ibu biasa saja. Aku hanya suka dengan bentuk kakinya, terutama di bagian betis. Barangkali ia titisan Ken Dedes seperti yang diceritakan guru sejarah di sekolah.”

“Yah, betisnya memang indah. Juga dada dan bentuk pipinya. Semua bagian tubuhnya adalah keindahan karena seluruh tubuh itu tersusun dari rahasia-rahasia yang melingkupi seluruh kebun tebu ini.”

Dan tanpa bisa dicegah mulutnya kemudian melantur pada kisah asal muasal kebun tebu di daerah itu, ketika seorang lelaki berkulit putih dan berkumis tebal dan dipanggil sebagai Ban Dampar2 memasang patok-patok di sawah-sawah petani, sebagai penanda penguasaan tanah secara semena-mena untuk dijadikan kebun tebu. Tanpa memedulikan kegemasan cucunya akan kepikunannya itu, ia bercerita bagaimana alat-alat berat yang belum pernah dilihat penduduk kampung itu didatangkan di areal pabrik, sementara orang-orang kampung dipaksa membangun dampar dan kompleks pabrik dan sebagian yang lain dipaksa menebang hutan jati di perbukitan sebagai landasan dampar atau bahan bangunan pabrik. Selain semena-mena memerintah dan mematok tanah penduduk, orang yang disebut kakeknya Ban Dampar juga memiliki kesukaan mengambili gundik-gundik Jawa, jumlahnya puluhan, bahkan ada yang bilang ratusan. Dari seluruh gundiknya itu, ia mempunyai banyak keturunan, yang disebut orang sinyo-sinyo Jawa. Mereka berdandan gaya Eropa, namun bermental pribumi. Kebiasaan memiliki banyak gundik itu diikuti oleh penggantinya, dan seterusnya, bahkan setelah pabrik tebu dikuasai orang pribumi sendiri.

“Selama tiga tahun pabrik gula itu dibangun, dan selesai ketika Belanda sudah mengalami belitan hutang luar biasa akibat perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Begitu pabrik gula selesai, Ban Dampar meninggal. Orang bilang ia kena kutuk setan-setan hutan jati yang dia gunduli untuk membangun jaringan dampar dan pabrik gula ini, serta mengambili kayunya sebagai bahan bakar sepur3 nya. Lalu datanglah tuan direktur yang pertama, tuan Kornalius Spoor. Anak Ban Dampar, yang biasa dipanggil Sinyo-sinyo Jawa itu, dijadikan kacung setianya, disebar di segala penjuru sebagai kontrolir-kontrolir kebun tebu serta pengawas pabrik. Mereka, dan keturunannya itulah yang mengajari bagaimana bertindak kejam kepada kaum pribumi,” kisahnya dengan penuh semangat.

“Kakek seenaknya saja menyebut nama orang! Dalam sejarah yang diajarkan guruku di sekolah, nama pendiri pabrik gula itu bukan Ban Dampar, tapi Van Der Vaart. Sedangkan direkturnya itu bernama Cornelius Spoor, Kek.”

“Ah, siapa bilang. Orang-orang di sini menyebutnya Ban Dampar. Karena ia membangun dampar-dampar sampai ke kampung-kampung yang jauh, di tengah-tengah sawah, naik turun bukit. Sedangkan tuan Kornalius di panggil Spoor karena ia yang menjalankan sepur-sepur pertama kali. Dialah yang memotong tali pesta tebang pertama kali di pabrik tebu. Pesta pembukaannya, menurut kisah, dirayakan selama tujuh hari tujuh malam, menyembelih beratus-ratus kerbau dan sapi dan kambing. Mendatangkan tayub dan wayang kulit, ketoprak, stambul, dan lain-lain. Sinyo-sinyo Belanda dan orang-orang Eropa berdatangan. Alangkah ramainya,”

Tak sabar mendengar lanturan kakeknya, anak kecil itu masuk ke dalam rumah dan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Ia tak tahan dengan hawa dingin di luar rumah sementara kakeknya asyik menikmati kopi sambil mengepul-ngepulkan

asap.

Begitu ia keluar membawa kopinya, beberapa temannya telah berdiri di depan rumah.

“Ayo, Mar, main hujan-hujanan. Kita mencari burung yang kedinginan di kebun tebu,” teriak salah satu temannya. Sinar matanya berbinar-binar. Ia seolah merasakan kembali daging burung yang dibakar dan diberi garam dan kecap.

“Hehm, tentu akan menyenangkan dingin-dingin begini melahap daging burung,” pikirnya.

Namun kakeknya keburu bersuara.

“Jangan hujan-hujanan, nanti kalian akan jatuh sakit. Mar, kamu di rumah saja. Sana kalian pergi! Mengganggu saja!” teriaknya pada anak-anak itu.

“Aku ingin makan daging burung, Kek,” cucunya memaksa.

“Kalau makan daging burung tak usah hujan-hujanan. Besok beli di pasar, lebih mudah dan tidak sakit. Kalau kau sakit siapa yang akan merawatmu?”

Lehernya mengeret. Kakeknya jarang marah. Namun sekali marah, segenap kepikunan dan ketololannya yang setiap hari ia perlihatkan bagai sirna ditelan bumi. Lagipula benar yang dikatakan, kalau ia sakit, siapa yang akan merawat. Teman-temannya mengeluyur pergi tanpa berkomentar apa-apa. Ia sakit hati sebenarnya, namun kalau ia melampiaskan, siapa yang akan menjadi sandaran hidupnya?

Lelaki yang sedang asyik menikmati hujan itu menoleh ke arahnya kembali.

“Duduk dan minumlah kopimu. Minuman itu akan menghangatkan tubuhmu.”

Tanpa diminta lelaki itu kemudian melanjutkan ocehannya.

“Pada mulanya banyak orang-orang di kampung ini yang berontak pada perintah penanaman tebu, Nak. Tapi mereka punya senapan, dan menembaki orang yang melawan. Kalau tidak ditembak, mereka di bawa ke landrad4. Akhirnya di penjara. Orang jadi takut. Dan ketakutan itulah yang akhirnya menyebabkan aku, dan kau, dan kita semua di kompleks perkebunan tebu ini hidup sampai sekarang bersama sisa-sisa ketakutan. Bahkan setelah sinyo-sinyo Belanda itu pergi dari tempat kita dan digantikan sesama orang kita sendiri.”

“Lalu lelaki yang datang dari Selatan itu, bagaimana kelanjutanya kek?”

“Sudah kukatakan, lelaki itu meninggal muda,” katanya.

Raut mukanya menjadi sangat sedih.

“Apa sebab kematiannya?”

Ia terpekur lama memandang tetes-tetes hujan yang mulai mereda. Lama ia berpikir sebelum membuka suara. Dipandangnya wajah cucunya yang bundar dan mata hitamnya yang amat menyenangkan hati itu.

“Ia mati diracun, Nak.”

“Kenapa kakek baru sekarang mengatakan lelaki itu diracun?” katanya dengan reaksi tubuh kaget karena tak mengira dengan jawaban kakeknya.

Lelaki tua yang suka melantur ke mana-mana itu biasanya tak pernah menjawab pertanyaan itu.

“Aku kira memang demikian. Lelaki itu diracun. Banyak orang bilang, ia jatuh hati pada ibumu. Banyak pula yang bilang ibumu jatuh hati padanya. Aku tak tahu mana yang benar. Tapi yang menyukai ibumu bukan hanya dia, Nak. Semua orang jatuh hati padanya. Dari kuli tebu sampai para pimpinan, jatuh hati padanya. Namun ibumu, agaknya, lebih memilih lelaki baik itu.

“Ia dan ibumu sering menghabiskan waktu dengan bersepeda mengelilingi kebun tebu atau mengawasi para pekerjanya, kadang-kadang mengawasi kuli tebang. Lalu entah bagaimana ceritanya, pada suatu hari, ia ditemukan meninggal di rumahnya.

“Hampir satu bulan ibumu berduka, sampai akhirnya tuan direktur pabrik mengambilnya menjadi istri yang keempat. Lalu lahirlah kau,” katanya.

Anak lelaki yang beranjak remaja itu tak menyukai ayahnya sendiri yang gila perempuan. Usianya sudah hampir lima puluh tahun ketika ia menikahi ibunya. Dan ia berusia lima tahun ketika ayahnya meninggal. Ia tak merasa mirip dengan ayahnya itu. Walaupun ibunya menjadi istri direktur itu, ia tak mendapatkan warisan apa pun seperti anak direktur lain, kecuali rumah cukup bagus yang kini ditempatia bersama kakeknya. Orang-orang di kampung sering menuduhnya anak haram, bukan anak kandung Tuan Direktur. Benar ucapan kakek, sang ibu menjadi bahan kecemburuan istri direktur lain karena kecantikan dan rasa sayang berlebihan ayahnya, sehingga ketika lelaki mata keranjang itu meninggal, ibunya yang menjadi bahan bulan-bulanan, dihina dan dicaci-maki, tak mendapatkan bagian warisan yang semestinya menjadi bagiannya.

Sang kakek memandangi cucunya. Ia mengamati wajah cucunya yang mirip lelaki dari Selatan itu, bentuk pipi dan mata hitam mirip ibunya. Ia terdiam beberapa lama. Tangannya mengelus dada, tak tega mengatakan siapa ayah anak itu sebenarnya sampai sekarang. Yang telah terjadi biarkan terjadi, biarkan menjadi rahasianya sendiri. Ketika seluruh penduduk kampung geger mendapati tubuh kontrolir kesayangan mereka tak bernyawa di rumahnya, tak ada yang tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan biadab itu. Semuanya terselubung misteri. Bahkan dengan pernikahan dipaksakan antara anaknya dan direktur pabrik gula itu, kematian direktur itu yang juga tiba-tiba, dan perbuatan semana-mena para istri-istri direktur dan anak-anaknya yang telah besar itu pada anaknya. Ia diselimuti rangkaian peristiwa yang berputar-putar dan sama gelapnya dengan kisah pabrik gula itu.

Di luar hujan benar-benar reda. Lelaki tua itu tak berminat lagi melanjutkan ceritanya. Ia masuk ke dalam rumah, tidak lagi mempedulikan cucunya yang masih duduk dan berharap kakeknya melanjutkan cerita yang belum didengarnya, terutama tentang lelaki dari Selatan itu. (35)

Yogyakarta, 17 November 2005

Untuk perpisahan Bapakku dari Pabrik Gula dan kereta tua 1905-nya.

Catatan: 1) Kuli tebu yang kerjanya mengelupasi daun-daun kering pada tebu yang masih muda agar tidak terserang hama. Biasanya karena bulu-bulu daun tebu yang tajam, walaupun tangan mereka sudah memakai sarung, tetap saja teriris dan sobek-sobek kulitnya, mengakibatkan bekas goresan-goresan.

2) Rel kereta api

3) Kereta api

4) Landraad, Pengadilan di jaman Belanda. Sampai setelah Indonesia merdeka, orang-orang Jawa yang tinggal di perkampungan tetap menyebutnya landrad, bukan pengadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *