Ia dan Aku dalam Keterasingan Kota

Denny Mizhar

Meniatkan diri untuk merantau, sebab desa tak dapat membuat nasib menjadi baik. Mengupayakan diri untuk mendapatkan sangu buat berangkat ke kota. Hutang pun dilakukan. Impian besar di pundak menatap ruang hingar bingar bahwa nasib akan menjadi lebih baik. Dengan kereta yang melaju ternaik dirii, hingga sampailah pada kota yang di tuju. Tak ada sanak famili dan sendiri. Memulai menanya satu dua orang yang tertemui, tapi tak juga ada kabar gembira kemana melabuhkan diri.

Masa terlewati dengan harapan sia akan kota. Hutang di kampung halaman belum terlunasi. Apa mau di kata, menetap dengan upaya yang penuh jerih. Menawarkan diri mengangkut barang dari mobil yang membawa dagangan untuk ditaruhnya pada kios Juragan di pasar terbesar kota yang tersinggahi. Kadang juga tak ada hasil dalam sehari, dengan terpaksa meminta pada yang berpunya untuk sebungkus nasi.

Bulan tepat di atas kepala saat Ia duduk di taman kota. Tiap hari bila waktu tak bersahabat dengannya. Ia menghabiskan detik yang merambat di bangku tengah taman kota. Melamun memandang gedung-gedung megah. Hiruk pikuk orang-orang belanja dengan canda tawa. Ia mulai merindukan hidup saling sapa di desa walau tak berpunya. Hati sudah tentram dengan makan nasi jagung dansayur-sayuran walaupun tanpa lauk.

Kerinduannya membuat gerimis di matanya tak terbendung lagi. Mili sampai ke pipi menuju bibir. Tersadar ketika rasa asin menyusup ke lidah. Adalah hal biasa denganku untuk duduk melepas lelah ketika resah menyapa. Aku melihat tubuhnya tanpa daya di tengah taman kota. Tiada berfikir lama, kakiku menghampirinya. Sambil membawa sebotol minuman yang aku beli di pinggir taman kota. Aku sodorkan kepadanya.

Ia menatap heran, mungkin saja Ia beranggapan aku akan melukainya. Dengan cara lembut, kembali aku menawarkan air yang tinggal separoh padanya. Ia pun menerima dan meminumnya seperti orang kehausan. Mulailah kata demi kata keluar lewat katub bibirnya. Menceritakan tentang dirinya, harapannya, dan nasibnya.

Air dalam botol dihabiskannya sambil berkata: di desa air tak beli tinggal timba lalu masak sudah dapat kita minum sebagai pengobat dahaga. Tetapi di sini tak ada yang tak beli semuanya serba uang. Aku mengangukkan kepala. Ia mulai membaringkan tubuhnya di bangku sambil membenarkan letak sarung untuk menghalau angin malam menerpa dirinya.

Aku mengangkat pantatku lalu berjalan tak tenang. Sambil mengingat tingkah masyarakat modern. Kota dengan masyarakat yang individualis adalah ciri masyarakat modern. Hal tersebut aku alami sendiri ketika berada di rumah yang telah aku huni beberapa tahun ketika menekatkan diri untuk pindah dari desa ke kota. Aku punya tetangga tapi tak pernah saling sapa. Mungkin saja tetanggaku sibuk dengan segala aktivitasnya. Dan aku pun merasa kesepian. Mungkin sudah terbiasa akhirnya menjadi hal yang biasa.

Hingga aku menikmati segala individualis masyarakat kota dengan sadar. Beda dengan Ia yang terbaring di tengah taman kota. Kesadaranku semakin menajam pada ingatan masa lalu, ketika masih hidup di desa. Aku merindukan gotong royong, saling sapa, saling bantu tanpa pandang materi. Mungkin Ia kehilangan suasana itu serupa aku.

Mataku mulai menerawang, langkahku mulai gontai. Apa yang aku rasakan pernah juga temaktub dalam puisi Arab.yang di tulis oleh Baulnd Al-Haidari. Penyair yang lahir di Irak pada tahun 1926 dari keluarga Kurdish dan pernah juga di asingkan akibat keterlibatannya dalam aktivitas politik (Puisi Arab Modern: disusun dan diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja. Pustaka Jaya 1983).

LANGKAH SUMBANG

Mata pisau musim dingin yang tajam menembus peron,
Angin-ribut mengeong bagai kucing,
Dan di atas rel-rel
Berayun lampu kuno,
Dan dusun kami yang sederhana
Gemetar di bawah sinarnya.
“Mau apa aku di kota?”
Dia bertanya kepada:
“Mau apa kau di kota?”
Menuruni jalan-jalan yang panjang itu
Akan tersesat langkahmu yang dungu,
Dan gang-gang yang buntu
Akan menelanmu.
Malam akan menyala di dalam hatimu yang dingin-beku,
Dan sangsi rindu pun timbul dari hatimu.
Mau apa kau di sana, tak berkawan?
“Tidak, di kota itu tak mungkin kau dapat kawan”
Kau tertawakan aku,
Namun ku tunggu juga kereta yang menuju ke kota.
Kau pergi dariku,
Dan aku darimu.
Di seberang jendela kereta-kereta
Berlintasan desa-desa
Bangkit dan tengelam di pasir kembali,
Dan aku menunggu pagi
Di kota

Buat siapa mesti kembali aku?
Baut dusunku?
Baut peron yang ditembut mata pisau dingin yang tajam itu?
Sinar lampu di mana dusun kami yang papa gemetar?
Atau perempuan-perempuan yang keranjingan sopan dan malunya?
Tidak, aku tak akan kembali
Buat siapa aku mesti kembali?
Dusunku tengah menjadi kota.
Dan di tiap sudut
Sinar tajam lampu baru
Akan berseru kepadaku
“Apa maumu?”
Ya, apa mauku?
Di sini tak ada yang kukenal
Dan tak ada yang mengenalku;
Tak ada yang kuingat
Dan tak ada yang mengingatku.
Aku akan menyeret langkahku yang pendek ini
Menuruni jalan-jalan yang panjang itu,
Dan akan tertelan aku
Hilang di gang-gang buntu.
Tidak, aku tak akan kembali.
Buat siapa aku mesti kembali?
Dusunku telah menjadi kota.

Merambatlah waktu dari titik tumpuan masa ke masa yang melaju. Tak aku dengar lagi degub jantung desaku dulu. Mereka yang pernah menetap di kota kembali dengan segala gaya ke desa. Tak beda laku dan hidupnya, membawa kota ke desa desa. Aku pun kini kehilangan jejak sejarah.Hidup di gang-gang sempit di himpit bangunan-bangunan mall dan perkantoran yang tak ramah. Pada alam, pada diriku, pada mereka yang tak berpunya. Ia dan Aku terasing dalam kota.

Malang, Mei 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *