Kisah Samurai Bersenjata Otak

Judul Buku : The Swordless Samurai
Penulis : Kitami Masao
Penerbit : Redline Publishing
Cetakan : I, Febuari 2009
Tebal : xviii + 262 halaman
Peresensi: Eko Sulistiyo
http://suaramerdeka.com/

BERBICARA tentang sejarah perkembangan Jepang, pasti tidak luput dari peran Toyotomi Hideyoshi. Dialah sosok pemimpin legendaris Jepang pada abad XVI. Pemimpin yang mampu menyatukan seluruh Negara Jepang, yang waktu itu dalam keadaan carut-marut dan terpisah-pisah, karena peperangan yang tidak kunjung usai.

Bahkan karena kedahsyatan usaha dan perannya dalam menyatukan Jepang, dia tidak pernah dilupakan dan selalu dikenang di Jepang. Sekarang ini, lebih dari empat ratus tahun setelah kematiaannya, semua anak di Jepang tetap tidak asing dengan namanya. Beberapa upaya untuk mengenangnya pun dilakukan, seperti penulisan biografinya ataupun novel, drama dan film. Bahkan tokoh Hideyoshi dibuat gim video, yang menceritakan kembali kisahnya atau menampilkan karakternya.

Dia lahir pada puncak masa kekacauan Jepang, zaman perang antar-klan, ketika kemampuan bertarung atau dunia kependetaan menjadi langkah alternatif bagi rakyat jelata yang ambisius untuk melarikan diri dari kehidupan banting tulang sebagai petani. Perawakan Hedeyoshi yang hanya setinggi 150 cm dan berbobot 50 kg serta bungkuk, sepertinya menutup harapan untuk terjun ke bidang militer. Namun dia justru melesat tinggi ke puncak kekuasaan, sekaligus menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik perang saudara selama lebih dari seratus tahun.

Semua itu dapat dia raih bukan dengan lamunan dan harapan semata, melainkan dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah. Semangat yang dilakukan Hideyoshi dalam buku ini berupa kemauan sekeras baja, yang dibarengi dengan semangat yang tidak kunjung padam dan selalu mengasah otak. Wawasannya yang mendalam tentang manusia juga mampu memutarbalikkan pandangan orang-orang tentangnya. Yang mulanya meragukan dia menjadi pengikut setia, pesaing menjadi sahabat, dan lawan menjadi kawan.

Dia memang tidak mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan dalam seni bela diri. Dia juga tidak pernah dijumpai dalam keadaan membawa pedang. Karena itulah dia dijuluki sebagai sang samurai tanpa pedang. Dia lebih suka memilih cara lain untuk mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa seluruh Jepang, yakni dengan cara mengolok-olok pada diri sendiri dan kemampuan serta kemahiran dalam bernegoisasi yang sangat menakjubkan bagi siapa saja.

Pada tahun 1590, Hideyoshi telah menjadi pemimpin tertinggi Negara. Dia dinobatkan sebagai wakil kaisar oleh Kaisar Go Yozei, dan dapat menikmati kekuasaan bagaikan raja. Dalam jabatannya ini, dia mampu mengukir prestasinya dengan sangat gemilang, bahkan dapat dikatakan luar biasa. Dia tidak segan-segan keluar dari tatanan hierarki masyarakat yang kaku dan melarang keras penyatuan kelas sosial. Hideyoshi menjadi pahlawan kaum jelata, sebuah simbol tentang kesempatan pembuktian diri dan menanjak dari papa menajadi kaya raya. Di samping itu, dia juga luar biasa dermawan dalam membagi-bagi harta, sehingga kaisar memberinya nama keluarga (nama belakang) Toyotomi, yang berarti ?menteri yang dermawan?.

Meskipun Hideyoshi terlihat cerdas dan lihai dalam memutar roda kepemerintahan, namun dia juga sering mencetak lembaran suram. Keliarannya selama menjadi orang pertama lebih disebabkan nafsu berahinya. Dia juga pernah merenggut dua nyawa, yakni sahabatnya sendiri dan putri dari sahabatnya yang dibunuh. Tragedi ini bermula ketika Hedeyoshi pulang dari Kyoto. Saat itu dia melihat seeorang gadis cantik. Setelah dia telusuri, ternyata gadis itu putri Sen no Rikyu, sahabat sekaligus kepercayaanya. Karena lamaranya ditolak, dengan alasan putrinya sedang dalam keadaan berkabung, karena baru ditinggal suaminya. Maka Hedeyoshi pun tidak segan menyebar fitnah yang berujung pada kematian.

Namun seolah kesalahan-kesalahan itu menjelma menjadi keberhasilan yang spektkuler, yang menjadikan kegagalanya termaafkan dan legendanya terus bergaung, bahkan setelah kematiannya pada tahun 1598. Itu semua dikarenkan Hedeyoshi dapat menjadi pemimpin kuat yang mampu mempersatukan Jepang. Semua keberhasilan itu tidak dia tempuh lewat jalan kemiliteran, melainkan lewat ketrampilan yang dimilikinya sebagai seorang negarawan, yakni dengan berdiplomasi. Hampir semua penaklukan yang dilakukanya terjadi tanpa pertumpahan darah, sehingga gelar diplomat terbaik dalam sejarah Jepang dapat disandangnya.

Ternyata kehebatan Hideyoshi tidak luput dari peran orang luar biasa pula. Kehebatan itu dia pelajari sejak masih mengembara sebagai pedagang keliling. Dia diajari oleh seorang petualang tentang cara bertahan hidup hanya dengan menggunakan akal. Selain itu, Hideyoshi juga mendapat pengetahuan yang mendalam tentang kondisi hidup manusia dari orang yang sama. Sejak itulah Hideyoshi berusaha mendahulukan kepentingan orang lain, meskipun kebutuhannya sendiri menggunung. Karena dia memegang prinsip ?seseorang akan mendapat keuntungan yang baik jika sudi mendahulukan kepentingan orang lain?.

Falsafah di atas memang tampak sederhana dan demikian adanya. Namun akan sangat mengejutkan mengingat hanya beberapa gelintir orang saja yang mengerti bagaimana menempatkan diri pada posisi orang lain dan berpikir melalui sudut pandang orang tersebut. Namun demikian, mempraktikkan falsafah tersebut tidaklah sulit, bahkan semua orang pun dapat menjalankannya jika mengambil langkah pendekatan yang tepat.

Memang, kisah-kisah kesuksesan akan memberikan inspirasi, namun kesuksesan biasanya bergantung atas keadaan tertentu. Kegagalan, sebaiknya, akan terus mengajarkan kita sesuatu. Pemimpin yang efektif harus bisa menerima baik kesuksesan maupun kegagalan. Namun menerima kegagalan di sini tidak ditafsirkan sebagai menerima apa adanya, melainkan mengakui kegagalannya, dan akan belajar untuk sesuatu yang lebih baik dari kegagalan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *