Kitab Cinta Legendaris

Judul buku: Risalah Cinta
Penulis : Ibn Hazm Al-Andalusi
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 304 halaman
Peresensi: Minan Nuri Rohman
http://suaramerdeka.com/

ANDA yang lelaki, pernahkah mengalami getaran hati dahsyat, perasaan senang mendalam setelah bertemu atau baru saja kenal seorang perempuan? Pasti dia selalu hadir dalam angan. Setiap saat.

Cinta, memang tema yang tak pernah habis diperbincangkan, dinyanyikan dalam lagu-lagu, dikisahkan dalam berbagai novel dan cerita pendek, diekspresikan dalam puisi dan tari, atu digumamkan dalam doa.

Cinta juga kadang-kadang susah dijelaskan dengan kata-kata dan dirasionalkan dengan akal logika. Tapi begitulah cinta: misterius. Tidak seorang pun tahu rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Karena cinta muncul secara alamiah, anugrah Tuhan sang Maha Pencipta.

Inilah salah satu buku terindah sepanjang masa tentang cinta. Sebuah kitab legendaris tentang seni mencinta tulisan seorang pujangga agung dan ulama besar pada zamannya, Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Hazm Al-Andalusi (384 H/994 M). Dia adalah seorang ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu: fiqih, tafsir, hadits, ushul fiqih, kalam, mantiq, kedokteran, sastra, dan sejarah. Buku ini terasa tidak pernah kehilangan relevansinya bagi siapa pun yang mencari hakikat, seni, dan lika-liku dalam mencinta.

Buku yang berjudul asli Thauq Al-Hamamah fi Ilfah wa Al-Ullaf (Dar Al-Ma?arif: 1993) ini, terdiri atas 30 bab pembahasan seputar cinta. Sepuluh bab pertama merefleksikan hakikat cinta dan benih-benih yang memupuk tumbuhnya cinta. Sementara dua puluh bab terakhir membahas proses berseminya cinta, kesucian cinta, dan konflik di dalamnya. Pada bab terakhir, penulis secara reflektif membahas keheningan cinta dan solusi pemecahannya.

Dalam pembahasan bab pertama, Abu Muhammad -demikian julukan Ibn Hazm Al-Andalusi, menguraikan hakikat cinta, yang tak lain merupakan anugrah Tuhan bagi seluruh makhlukNya. Semua makhluk hidup, termasuk binatang dan tumbuhan membutuhkan belaian cinta kasih sayang. Menurutnya, cinta memiliki makna yang sangat dalam, indah, dan agung. Tiada kata yang mampu melukiskan keindahan cinta dan keagungannya. Hakikat cinta tidak dapat ditemukan selain kesungguhan pengamatan dan penjiwaan terdalam. Karena cinta adalah urusan hati, dan hati merupakan transendensi Ilahiah (hal. 27).

Betapa dahsyatnya kekuatan energi cinta. Ia mampu membuat jiwa menjadi tenteram dan damai. Secara naluriah-biologis, makhluk hidup sejatinya merindukan ruang ketenteraman dan kedamaian jiwa. Hal ini senada dengan penciptaan Hawa sebagai pasangan Adam di tatkala lelaki itu merasakan kesunyian.

Berpasangan

Tuhan menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan (azwaaja). Laki-laki berpasangan dengan perempuan, malam dengan siang, matahari dengan rembulan, dan sifat baik dengan sifat buruk.

Semua serbaberpasangan. Walau pada kenyataannya mereka adalah dua entitas yang memiliki persamaan dan perbedaan. Namun, setitik kesamaan antara keduanya mampu menjadi ?tali penghubung? untuk tetap bersama, menjaga keseimbangan.

Kecintaan seorang terhadap pasangannya mengalir secara alamiah. Tak ada paksaan. Tak ada kontrak khusus untuk saling mencinta. Maka itulah yang disebut cinta suci. Ia bersemayam dalam jiwa yang paling dalam. Cinta seperti ini tak akan sirna, kecuali ajal datang menjemputnya. Berbeda dengan cinta yang dilandasi oleh ?sebab? tertentu. Karena harta, kecantikan, atau kedudukan misalnya. Cinta seperti ini sifatnya temporal. Ia akan luntur seiring lunturnya ?sebab? yang melandasinya.

Sejatinya dulu, para khalifah dan kebanyakan imam terkemuka di Andalusia, pernah punya kisah cinta. Di antaranya, kisah cinta Al-Muzhaffar ?Abdul Malik bin Abu ?Amir, seorang pembesar pemerintahan Andalusia, dengan Wajidah, putri seorang tukang kebun. Cinta keduanya terus bersemi hingga berlanjut ke pelaminan. Selepas pemerintahan Al-Manshur bin Abu ?Amir dan anak-anaknya runtuh, Wajidah dinikahi seorang menteri kerajaan bernama ?Abdullah bin Maslamah. Setelah dia mati terbunuh, Wajidah kemudian dinikahi oleh seorang pemimpin Berber (hal 28).

Ya, cinta sejatinya memiliki karakter kuat, konsisten, tegar, dan tidak mudah terombang-ambing oleh badai yang menguji kesetiaannya. Cinta Romeo-Juliet dan Laila Majnun menjadi simbol konsistensi ikatan cinta suci di antara keduanya. Walau batu sandungan kerap menghalangi perjalanan cinta keduanya, toh pada akhirnya mereka teguh mempertahankan konsistensi cinta keduanya. Kala ikatan yang terjalin di antara mereka sebagai ikatan suci tanpa tendensi ?sebab? yang melatarbelakanginya, maka ia akan tetap bersemi awet selamanya.

Kalau diilustrasikan, cinta itu seperti dua gambar mata uang koin: tampak sama tapi jelas berbeda. Satu sisi, cinta kadang membuat perasaan hati girang, tertawa. Di sisi lain, cinta kadang membuat hati pilu, meronta.

?Cintailah kekasihmu sepantasnya, siapa tahu ia menjadi manusia paling kau benci kemudian hari,? tutur seorang Pujangga Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *