Mengenal Surga dan Neraka

Judul : Petunjuk Untuk Yang Ragu
Pengarang : Ngakan Made Madrasuta
Tebal : xii + 281 halaman
Penerbit : Media Hindu
Peresensi : Wayan Supartha
http://www.balipost.com/

SAAT ini, mungkin ada sejumlah orang berpendapat bahwa agama Hindu adalah agama yang tidak jelas. Banyak pula yang mengatakan Hindu tidak bisa menjawab pertanyaan atau persoalan lebih-lebih persoalan terkini. Apa beda adat dan agama? Apakah pada hari ngerupuk harus mengusir Butha Kala? Betulkah pada hari Saraswati tidak boleh membaca?

Banyak lagi pertanyaan yang harus dijawab dengan hati-hati dan memerlukan pengetahuan yang luas. Sesungguhnya, apa pun dalam agama Hindu dapat ditanyakan, dan tentu ada jawabannya. Bagaimana jawaban itu, tergantung siapa yang menjawab dan kepada siapa jawaban itu diberikan. Benar atau tidaknya jawabannya tersebut, rupanya tergantung pula kepada siapa jawaban itu diberikan.

Salah satu contoh, seorang anak SD bertanya, “Pak, apakah kita harus sembahyang tiap hari?” Jawaban atas pertanyaan itu bisa berbeda jika yang bertanya adalah mahasiswa S-3 Teologi alias kandidat doktor.

Buku yang ditulis Madrasuta ini cukup menarik disimak, direnungkan dan kemudian didiskusikan. Meskipun terdiri atas dua bab saja, namun buku ini menyediakan jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini mungkin mengganjal di benak sebagian orang.

Pada halaman 130 dalam buku ini ada pertanyaan: Apa bedanya jiwa, atman dan roh? Menurut kepercayaan orang awam, seseorang yang meninggal dunia, rohnya pergi meninggalkan badan. Rohnya itu bisa gentayangan, jika ada sesuatu yang kurang beres pada jenazah. Bahkan ada kepercayaan, roh-roh manusia yang ada di kuburan sering disebut memedi.

Dalam buku ini, jawaban atas pertanyaan itu lebih klop. Jiwa, demikian dijelaskan, artinya “hidup” (living), “ada”, “hadir” (existing) berasal dari bahasa Sansekerta “jiv”, artinya menjadi “hidup” (to live). Jiwa individu, atman, selama dalam keadaan bertubuh, diikat oleh tiga “mala” (anava, karma, dan maya).

Anava mala artinya ketidak-murnian dari keadaan kecil (impurity of smallness), prinsip yang membuatnya jadi terbatas (finitizing principle). Karma artinya tindakan dan akibatnya. Maya artinya ilusi. Sedangkan atman adalah kesadaran murni, yang hakikatnya sama dengan brahman. Adapun roh bersala dari kata “Ru’ah” dalam bahasa Ibrani. Kata-kata “ru’ah” (breath, wind) memiliki arti yang sama dengan kata “nefesh” (itu menunjukkan yang hidup sebagai lawan dari yang mati) dan “neshamah” (daya hidup, vitality).

Yang menarik pula, ada pertanyaan berkisar reinkarnasi. Dikatakan menarik, karena tidak semua agama percaya pada yang satu ini. Banyak orang berucap, “Hidup ini hanya sekali. Karena itu mari kita isi dengan penuh arti.”

Dalam kepercayaan Hindu, hidup ini diyakini berkali-kali kecuali yang sudah mencapai moksha. Dalam buku ini dari halaman 172-181, tanya-jawab berkisar reinkarnasi cukup seru. Misalnya: mengapa ada reinkarnasi? Apakah semua orang mengalami reinkarnasi? Kapan jiwa mengalami reinkarnasi? Bagaimana reinkarnasi terjadi? Apakah umat Hindu yang sudah diaben juga reinkarnasi? Apakah orang non-Hindu juga mengalami reinkarnasi? Banyak lagi pertanyaan tentang reinkarnasi dan semua itu diberi jawaban.

Yang juga tak kalah menarik adalah tentang surga-neraka. Menurut Hindu, surga berasal dari kata “svar” yang artinya “cahaya” dan “ga” (go dalam bahasa Inggris artinya pergi). Dengan demikian, swarga diartikan “pergi menuju cahaya”. Mengutip Veda dan Upanisad, dalam buku ini dijelaskan bahwa surga adalah dunia yang penuh cahaya, di mana cahaya matahari, bulan dan bintang tidak ada artinya apa-apa dibanding cahaya yang dipancarkan surga.

Ada pula disebutkan, bila surga atau neraka merupakan kata sifat atau keadaan, itu berarti surga dan neraka itu ada di dunia ini (halamana 198). Dalam percakapan orang awam, surga dan neraka sering disebut sebagai sebuah tempat. Akan tetapi di mana tempat itu, tidak ada yang dapat menjawab secara pasti.

Dipercayai sebagai tempat, mungkin lantaran mereka mengacu pada cerita-cerita klasik seperti Ramayana, Mahabharata, dan cerita rakyat yang menceritakan tentang surga dan neraka. Dalam Ramayana dan Mahabharata yang sering diangkat sebagai lakon pementasan wayang kulit, surga sering diidentikkan sebagai alamnya para dewa dan bidadari. Alamnya Dewa Brahma sering disebut Brahmaloka, alamnya Indra disebut Indraloka. Di surga sepertinya juga ada “negara-negara bagian”.

Surga dibayangkan sebagai tempat tercermin dalam lakon Bima Swarga, yaitu perjalanan Bima ke surga mencari Pandu yang akan “diaben”. Demikian pula dalam Arjuna Wiwaha, dikisahkan kunjungan Arjuna ke surga setelah lulus dari tapanya di Gunung Indrakila. Dalam cerita rakyat Cupak-Gerantang, Cupak dikisahkan ke surga mencari ayahnya yaitu Dewa Brahma. Dari cerita tersebut, maka surga dan neraka jelas-jelas digambarkan sebagai tempat. Tempat ini mungkin juga merupakan simbol yang bisa ditafsirkan sebagai “sifat” atau “keadaan”.

Dengan segala keterbatasannya, buku ini patut dibaca baik oleh warga kampus maupun oleh masyarakat umum untuk menambah informasi yang lebih meyakinkan. Semua penjelasan atas pertanyaan, berpedoman pada pustaka Hindu sehingga buku ini memang merupakan “petunjuk untuk yang ragu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *