Menguak Konglomerasi Budaya

Judul: Arts under Pressure (Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Global)
Penulis: Joost Smiers
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Cetakan: I, Februari 2009
Halaman: xxi + 436 halaman.
Peresensi: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

KITA pernah dicekoki pernyataan bahwa globalisasi itu berarti kemajuan, pendidikan, kesejahteraan dan modernisasi ekonomi. Sayangnya, semua itu hanya setengah dari kisah semuanya. Globalisasi memang menghadirkan investasi dan teknologi industri, namun juga menggelontorkan kekacauan sosial dan politik, kehancuran infrastruktur budaya dan keruntuhan industri dan pertanian lokal yang tak bisa berkompetisi dengan modal besar investasi.

Globalisasi ternyata semakin meluluhlantakkan banyak aspek karena sejak awal ia telah bergandengan tangan dan memperkuat korporasi internasional yang mengusir bisnis-bisnis lokal keluar gelanggang dan memindahkan operasinya secara konstan, dan menyisakan kehancuran ekonomi di tempat yang ditinggalkannya. Berbagai hal seperti deregulasi, swastanisasi, liberasi yang muncul seiring globalisasi memindahtangankan perekonomian kepada korporasi-korporasi multinasional.

Andai ada ?warna budaya? di dalamnya, yang diembuskan globalisasi adalah budaya imperium yang memiliki substansi moral minimum. Kita melihat bagaimana sistem Amerika dengan enaknya mencomot elemen-elemen ?eksotik? budaya mancanegara dan membaurkan sesukanya dengan keinginan mereka tanpa peduli dengan identitas budaya bangsa lain. Dalam buku ini, Joost Smiers menyajikan sejumlah fakta yang terjadi atas berbagai kebudayaan di berbagai belahan dunia yang terpinggirkan akibat globalisasi, dengan kekuatan modal yang hadir sebagai sebuah topeng ramah bagi sebuah perbudakan budaya masa kini.

Sebelumnya kita masih percaya pada fakta bahwa di seluruh dunia berkembang penghormatan bagi bentuk seni tradisional, budaya rakyat dan bentuk-bentuk kesenian dari negara non-Barat hidup dan berkembang dalam artefak budaya masing-masing. Kemunculan kapitalisme konsumen melalui konglomerasi budaya telah memperlebar jurang antara kehidupan sehari-hari dengan proses kreasi artistik, yang membuat inti budaya tradisional nyaris tak ada lagi. Semuanya jelas berdampak bagi berbagai bentuk tradisional dari musik, tari, penuturan, teater dan representasi visual yang telah ada.

Menghancurkan Keanekaragaman
Pariwisata misalnya, telah mengonversi budaya asli menjadi pertunjukan hiburan, mendorong penciptaan stereotipe atas perayaan, ritual dan mencampuradukkan orisinalitas (yang dianggap kekunoan) dengan selera modern. Bagaimana kekuatan modal global Amerika secara tak kentara telah menggerus kekuatan budaya lokal dunia, lalu menjadikan jalan masuk bagi keuntungan ekonomi-sosial-budaya mereka tampak jelas pada beberapa contoh kasus yang dipaparkan Joost Smiers dalam buku ini. Pesan budaya yang selama ini disampaikan melalui apa yang disebut sebagai world music (istilah bagi berbagai jenis musik etnis di dunia) adalah sederhana saja: keragaman musikal. Namun istilah world music ini telah digunakan menjadi label pemasaran komersial, yang merujuk pada sembarang musik yang tersaji secara komersial dari sumber musik yang non-Barat, serta merujuk bagi semua musik etnik yang penyajian, warna dan gaya musikalnya sudah disesuaikan dengan ?telinga komersial?. Tragedi yang terpendam oleh kilau globalisasi inilah yang oleh Smiers disebut sebagai ??keanekaragaman hancur kurang dari satu dasawarsa??

Saya kian percaya pada apa yang disampaikan Joost Smiers dalam buku ini saat dia mendedahkan fakta-fakta yang kita ketahui memang sedemikian adanya. Dia merujuk pada apa yang terjadi pada blantika perfilman kita. Dia menulis, ??Pada masa kejayaannya, Indonesia, memproduksi 100 film dalam setahun. Kini (1991) dipercaya industri perfilmannya sekarat. Produksi lokal dilaporkan meluncur jatuh dari 119 film di tahun 1990 menjadi 60 saja di tahun 1991, hingga akhirnya menjadi 12 saja pada bulan September 1992. Satu alasannya adalah daya tarik film layar lebar Amerika terhadap orang Indonesia.?? ( halaman 154 ).

Smiers menyebutkan keserakahan industri film Amerika (dalam hal ini diwakili oleh Motion Picture Export Associate) yang mendorong Carla Hill, Ketua Perwakilan Dagang Amerika Serikat, untuk mendesakkan pasar lebih luas lagi bagi produksi film Hollywood. Ternyata ??Jakarta bertekuk lutut. Pada bulan Mei, Indonesia memberi akses lebih besar kepada industri film Amerika Serikat sebagai barter atas kenaikan kuota Amerika Serikat untuk produser tekstil Indonesia menjadi sebesar 35 persen.?? (halaman 155 ).

Dan tangan konglomerasi budaya global ini ternyata cukup jauh jangkauannya. Di halaman 153, Smiers menyajikan data bagaimana Turki, yang memproduksi 200 hingga 300 judul film per tahun pada dasawarsa sebelumnya, telah dihancurkan oleh perjanjian perdagangan bebas yang ditandatangani pada 1988. Beberapa contoh lainnya dari proses penaklukan pasar dan penghancuran budaya setempat yang dilakukan secara sengaja, juga terjadi di belahan penjuru dunia lainnya.

Pemaparan Joost Smiers yang sistematik, dengan membagi uraiannya dalam 11 bab dengan tema yang luas dan beragam, dukungan data yang akurat serta uraian yang komprehensif, membuat buku ini pantas dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui situasi terkini, khususnya mengenai dunia seni budaya yang dikoyakkan oleh kepentingan ekonomi kapitalisme global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *