Menulis; Mendidik Otak dan Tangan

Ahmad Taufiq
http://www.jawapos.com/

BAGAIMANA cara mendidik hati, otak, dan tangan (HOT) -istilah lain untuk menulis- yang baik? Apakah ”dipaksa” alias by design atau dibiarkan mengalir, natural. Rasanya, pertanyaan ini cukup sulit dijawab. Sebab, masing-masing mempunyai kelebihan. Tapi, menurut Arswendo Atmowiloto – budayawan yang ketika memimpin sebuah tabloid bilang bahwa menulis itu gampang- jangan dipaksa dan biarkan mengalir apa adanya.

Di sisi lain, Gabriele Rico berpendapat, menulis adalah sebuah cara untuk men-sistematika-kan karya. Oleh karena itu, perlu ada desain yang mempunyai daya ”paksa” agar dapat menghasilkan karya yang terkonstruk, berbasis nalar pikir, dan terukur.

Dua pendekatan yang berbeda tersebut melahirkan kutub yang esensinya mempunyai tujuan yang sama meski secara luar terkesan berbeda. Cara mengalir dan alamiah -meminjam pendekatan dalam dunia keilmuan filsafat- lebih identik dengan pendekatan naturalistik kualitatif. Sedangkan by design mengarah kepada pendekatan positivistik kuantitatif.

Saya rasa, kita tidak perlu berdebat mana yang paling baik di antara dua pendekatan itu. Sebab, masing-masing orang mempunyai gaya menulis sendiri-sendiri. Bagi Gabriele Rico, menulis tetaplah perlu dikerangkakan. Rico membuat dua model, metode pengelompokan (clustering) dan menulis cepat (fast writing). Clustering dapat dilakukan dengan cara memilih pemikiran-pemikiran yang saling berkaitan dan menuangkannya di kertas secepatnya, tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya.

Sementara itu, fast writing bertujuan melatih otak kanan yang kreatif, sekaligus membelajari otak kiri yang analitis dan korektif. Menulis cepat membantu kemampuan menulis kita untuk selalu berpikir cepat dan tepat dalam menyusun gagasan pada waktu yang telah ditentukan.

Model itu bisa dilatih dengan menentukan deadline bagi seseorang yang berniat mendalami dunia tulis-menulis. Konkretnya begini, untuk mengasah kemampuan dalam menulis, diperlukan pola pembiasaan. Pembiasaan, salah satunya, dapat dilakukan dengan cara ”memaksa” diri untuk secara teratur menulis dalam batasan-batasan waktu tertentu. Misalnya, meneguhkan komitmen dan tekad dalam diri untuk setiap dua minggu sekali menghasilkan satu karya tulisan yang terstruktur.

Konsekuensinya, komitmen itu harus dipegang dan direalisasikan (!). Efeknya, dengan kian sering menulis, logikanya, kemampuan menulis akan semakin baik. Sebab, dalam rentang waktu itulah seseorang akan mampu menilai apakah tulisannya sudah baik atau belum. Sikap evaluatif itu pada akhirnya melahirkan refleksi yang diikuti dengan daya korektif terhadap tulisannya. Lama-kelamaan, tulisan tersebut akan menjadi baik, bukan?

Sedangkan metode menulis alamiah justru menafikan sistem. Agak mirip-mirip dengan mengembangkan imajinasi, lepas, tanpa batas/sekat. Alasannya, menulis adalah sebuah komunikasi antara otak, hati, dan tangan. Ia harus bebas hambatan. Pesan (message) yang hendak disampaikan otak harus sampai ke tangan. Ia juga harus bebas nilai-nilai kepentingan sistem yang terkadang justru membatasi gerak sekaligus kebebasan di dalam menghasilkan sebuah karya.

Pendekatan naturalistik juga dipandang lebih merefleksikan hakikat keinginan manusia yang ingin bebas berekspresi. Logika sederhananya begini, kalau ditekan, apakah Anda akan mampu menghasilkan karya yang baik? Sebab, terkadang manusia justru akan keluar segala daya imajinasinya, daya kreatifnya, dalam situasi nonformal, situasi tidak kaku, dan rileks.

By the way, mana yang kita pilih? Pendekatan naturalistik atau positivistik? Semua bergantung kepada kesenangan kita masing-masing. Yang pasti, jangan takut salah! Lebih baik melakukan kesalahan tetapi ada upaya dan kehendak memperbaiki daripada ingin selalu benar tetapi tidak pernah mau melakukan sesuatu! Almaghfurlah Gus Dur bilang, negara ini dibentuk dan disusun dari kesalahan-kesalahan masa lalu yang kemudian diperbaiki. So, tunggu apa lagi! Ayo kita menulis, apakah by design atau secara natural? Suka-suka Anda! (*)

*) Mahasiswa S-2 Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *