Perginya Sang Penyanyi

Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/

Kemana perginya sang penyanyi setelah mereka mati? Ke surga, karena mereka telah menghibur dan membuat gembira jutaan hati, ataukah ke neraka lantaran perikehiduan mereka cenderung mendangkalkan nilai agama?

Kukuh Ranapati, penyanyi dari Indonesia yang mendapat sambutan meriah di Kuala Lumpur tahun lalu. Genius yang profilnya mengisi sejumlah media hiburan ibukotadua dalam setahun terakhir. Kukuh Ranapati! Kulirik tubuh besar telanjang yang dipenuhi tatto bunga di sebelahku.

Matanya melotot. Mengesankan kekagetan yang sangat. Semula, mulutnya juga ikut ternganga. Trus terang aku tidak suka melihatnya bodoh seperti itu. Jadi, dengan bantuan plester, kukatupkan mulutnya. Syukurlah, otot-otot rahangnya belum terlalu kaku. Ketika plester kulepas, ia tampak tersenyum manis. Sesuatu yang niscaya sangat langka diberikan olehnya secara sukarela di hari-hari kemarin. Kukuh.

Anak ajaib dari Kwitang, yang cabikan gitarnya memukau publik sejak ia berusia 17 tahun. Kusentuh dahinya. Masih tertinggal sedikit darah kering di situ, tapi tak ada pembengkakan lagi. Gumpalan darah dan air yang tertahan di bawah lapisan daging yang menggelembung itu berhasil kusayat keluar dengan pisau swiss Army yang kutemukan di saku celana bintang rock beken ini. Walau demikian, bekas lingkungan memar biru akibat hantaman barbel tak bisa lenyap. Kutatap lagi wajahnya. Pusat, dingin dan kaku. Kukuh. Ke mana perginya sang penyanyi setelah mati? “Siluman dari mana, tuh, nyelonong ke dapur saya, Bu?” masih terngiang suara baritonnya yang menggeledek di telingaku delapan bulan yang lalu. Ibu Onih, bibiku yang bertanggungjawab untuk urusan ketering selama acara tur keliling Jawa, tersenyum sambil berkacak pinggang.

“Memangnya kenapa, Kuh? Takut sama siluman kayak gitu?” katanya sambil mengelus dahiku. “Keponakan ibu, nih. Si Mimin dari Sukabumi. Manis molek, tapi gagu. Boleh dong bantuin ibu di sini?” Waktu itu Kukuh tidak menjawab. Ia hanya mengangsurkan tangan sambil menyebut namanya. Aku ingat, betapa sulitnya menjaga keseimbangan tubuh agar tidak ambruk saat itu. Siapakah aku? Gadis gagu dari Cipelang, yang dapat kesempatan menjabat tangan dengan manusia setengah dewa yang ada di hadapanku ini. Sejak itu, aku tak bisa melepaskan pikiran dari Kukuh.

Ah, kurasa semua perempuan yang pernah bertemu dengannya pasti mengalami hal sama. Selama perjalanan tur, biasanya dalam sehari aku dua kali bertemu dengannya. Pertama, pagi hari ketika ia dan seluruh personel bandnya masuk ke kedap suara untuk latihan tarik suara. Lantas sore hari, ketika ia bersama si Topan, anjing Doberman kesayangannya, keliling di sekitar deretan panjang kontainer kami. Tadinya aku sangsi ia meluangkan waktu bicara denganku, atau bahkan sekedar menyimpan sepotong namaku di kepalanya, sampai akhirnya sebuah tragedi mengubah segalanya. Sewaktu manggung di gelora Kridosono, Yogya, Arik

Barzanji, dummer Langit ke Tujuh, mendapat musibah. Lampu blondie yang digantung dekat tempatnya duduk mendadak runtuh. Bahu kanannya tersapu kerangka aluminium yang membara. Ia masuk rumah sakit Bethesda selama 3 minggu. Personel lain memilih pulang ke Jakarta. Kelak mereka menyusul naik pesawat bila keberangkatan tiba. Hanya Kukuh yang bertahan di hotel, Yogya.

“Tak ada yang kurindukan di Jakarta,” kilahnya. Maka terjadilah peristiwa itu. Di sore yang agak dingin, aku mengaso di warung depan hotel ketika sebuah motor berhenti dihadapanku.

Pengendaranya, Kukuh. “Aku bosan, yuk kita ke Kaliurang,” ia mengulurkan helm kepadaku. “Aku sudah minta izin dari bibimu.” Kupasang helm di kepala. Dadaku serasa mau pecah. Kukuh. Aku tak habisn pikir, mengapa dari ratusam gadis yang dikenal aku yang dipilih menemaninya jalan-jalan. Padahal, aku gadis gagu. Sesampai di Jurang Boyong, kami masuk ke sebuah restoran. Kukuh menyembunyikan wajah tenarnya di balik kacamata hitam.

Kami mengambil sebuah meja yang menghadap lereng Merapi, lantas memesan makanan. “Apakah memang sejak lahir kamu gagu?” Kukuh menoleh kepadaku. Aku mengangguk. Tiba-tiba ia menyerahkan telepon genggamnya. “Begini, Min. Aku tak ingin melihatmu hanya mengangguk atau menggeleng. Tekan saja tombol-tombol itu untuk menulis.Biarkan aku membacanya. Kita coba komunikasi cara ini, oke?” Aku mengetik kata “OK”, dan menunjukkannya kepada Kukuh. Ia tersenyum. Beberapa menit kemudian, kami larut dalam tanya jawab yang panjang.

Aku membuka semuanya: tempat lahirku, bagaimana kedua orangtuaku berpisah, bagaimana adik ayah memerawaniku pada usia duabelas. Ia juga tak menutupi kisah hidupnya. Produk broken home, seks, dan ganja pada usia 14. Setelah itu, masih ada menit-menit berikutnya, saat kami bicara seputar masalah kegemaran, wawasan sosial, sampai ke soal musik. “Pengetahuanmu tentang musik, bagus juga.”

Untuk pertama kudengar pujiannya untukku. Aku lihat ia kemudian tersenyum. Tahukah dia bahwa satu-satunya alasan untuk menggemari musik adalah karena sosok Kukuh? Ingin sekali kusampaikan kepadanya, betapa telah jatuh hati kepadanya sejak namanya muncul di koran. Ingin pula kusampaikan, betapa semenjak itu aku tergila-gila mengkliping semua tulisan tentangnya. Sesungguhnya bukan cuma musiknya. Aku bahkan hafal semua affair, tingkah laku, dan pola pikir ketujuh anggota grub bandnya. Terutama vokalisnya, Kukuh.

Setelah peristiwa itu, Kukuh jadi sering menjumpaiku. Namun, tepat sehari menjelang kesembuhan Arik Barzanji serta kedatangan lima personel Langit Ke Tujuh yang lain, aku terpaksa merubah cara pikirku tentang Kukuh. Malam itu, sekitar pukul sembilan, Kukuh datang mengendap ke kamarku. Dengan tergesa diajaknya aku naik motor ke penginapan kecil di sekitar Sleman. Kami masuk kamar. Ketika aku membuka mulut untuk protes, dengan lembut ia meletakkan jemarinya ke depan bibirku.

Aku masih tak mengerti, apa sesungguhnya yang ia inginkan. Bahkan beberapa saat kemudian, Kukuh makin mendekatkan wajahnya kepadaku. Napasnya yang berbau alkohol terdengar berat dan berkejaran. Ia menyimak rambutku, kemudian dengan agak ceroboh melekatkan bibirnya ke bibirku, lalu memagutnya berkali-kali. Mulanya aku berontak, apalagi saat ia mulai melucuti pakaianku. Tetapi, setelah tubuh telanjang kami yang penuh peluh mulai bergeseran, tak ada hal lain lagi yang perlu kulakukan kecuali merintih. “Kau tak perlu mengawiniku.

Aku bisa jaga diri dan tidak hamil.” kuketik kalimat itu di telepon genggamnya.”Tapi aku ingin tanya, apakah kau mencintaiku?” “Kau pikir untuk apa ini semua kalau bukan cinta?” “Gombal.” Kali ini kuberanikan menatap matanya. “Tapi, kurasa aku benar-benar butuh pernyataan tadi.” Kukuh terbahak. “Yang kumiliki saat ini memang cuma janji.

Tapi dalam perkembangannya, aku ingin membawamu ke depan publik.” ia menutup pembicaraan itu dengan sebuah kecupan panjang di bibir, yang mengantar kami kepada pergumulan berikutnya. Kukuh memang terus menjumpaiku dengan penuh gelora. Bahkan, setelah kami menyelesaikan seluruh rangkaian tur dan kembali ke Jakarta. Tentu saja semua terjadi di tempat dan waktu yang dipilih. Di sisi lain, aku juga mencoba setia pada janjiku untuk tidak menunjukkan sedikit pun perubahan emosional di muka publik.

Apalagi, yang sifatnya paradoksal. Sering kubayangkan diriku sebagai Marilyn Monroe, si ikan teri yang bermain sirkus dengan seekor kakap. Bedanya, aku bukan pelacur, melainkan seorang gagu. Pada banyak kesempatan, aku juga menuliskan diri dari badai gosip, tentang Kukuh yang konon punya simpanan di sana-sini. Intinya, aku bisa memahami situasinya: semakin tinggi pohonnya, semakin kencang anginnya, kata pepatah. Sampai akhirnya muncul sosok Laila Kartika di antara kami. Ya, Laila Kartika, lady rocker yang beberapa kali tampil bersama Langit Ke Tujuh dalam pentas-pentas eksperimental. Menurutku, ia sumber bencana. Sundal bertopeng malaikat. Kuakui ia cerdas lagi berbakat. Bersamaan dengan naiknya pamor Laila, semakin santer juga pemberitaan tabloid tentang hubungan mereka berdua. Sebuah tabloid ibukota bahkan membuka diri untuk uji keaslian dari serangkaian foto intim antara Kukuh dan Laila di sebuah motel. Meski belum tentu benar, ini jelas membuatku sakit kepala. Apalagi, sudah berapa minggu Kukuh tak menjawab SMS-ku. Dalam bingung, kemarin aku naik taksi ke sebuah rumah di daerah Depok. Rasanya tak ada yang tahu tempat itu selain aku dan Kukuh. Rumah itu dibeli Kukuh untuk sarana bertemu denganku. Ia pernah mengatakan bahwa kelak kalau saatnya tiba, rumah itu akan kami tempati berdua secara permanen. Di depan pintu aku termangu. Mulanya kupikir aku salah bawa kunci, namun setelah kuamati, ternyata modul kuncinya sudah diganti. Kucoba mengelilingi rumah itu sambil mengetuk berkali-kali. Tak ada jawaban.

“Awas kamu, Kukuh. Mulai aneh aneh denganku,ya!@” kecamku dalam hati. Aku sudah berada di tengah kerimbunan pohon pisang waktu kudengar deru mobil masuk ke dalam pekarangan. Sebuah taksi. Pintunya terbuka, lantas muncul wajah yang sangat kukenal: Kukuh. Ia keluar dari kendaraan dan bicara sebentar dengan seseorang yang tetap tinggal di taksi. Ketika kendaraan tersebut berputar pergi, aku bisa melihat siapa orang yang tadi diajak bicara. Darahku langsung naik ke leher. Kususul Kukuh yang baru saja selesai memutar kunci rumah. Ia tampak grogi, tetapi cepat menguasai diri. “Aku baru saja akan kirim SMS kepadamu,” katanya. “Aaaa! Uuuuh! Aaa-uuuuh!” aku teriak sejadinya. Kukuh buru-buru memberikan telepon genggamnya. Kutulis dengan huruf besar di situ: Penipu kamu Kukuh! “Masuk dulu, Min. Nanti aku terangkan”. Kukuh menoleh ke kiri-kanan. Kami masuk ke ruangan belakang, tempat ia biasa berlatih kebugaran.

Mula-mula ia seperti tak tahu harus berbuat apa, tapi akhirnya ia membuka t-shirtnya, dan mulai berlatih angkat beban. “Aku minta maaf, membiarkanmu terkatung-katung dalam ketidakjelasan,” katanya. “Tapi, semuanya karena waktu yang terbatas,” “Apa hubungannya waktu dengan lonte itu? Mengapa ia tahu tempat ini? Mengapa kunci rumah kau ganti?” kusorongkan telepon genggamnya. “Min. Tempat ini memang khusus, tapi tidak misterius seperti yang kau kira. Tentang kunci rumah, aku kehilangan duplikatnya.

Terpaksa kubongkar.” “Tetapi, mengapa harus perempuan itu?” aku tak puas dengan jawabannya. “Kalau sejak awal sudah berlumur curiga,akan sulit menjelaskannya, Min. Diskusi ini butuh kepala yang sehat.” Kukuh menyeka keringat diwajahnya. “Kalau tak ada yang disembunyikan, mengapa begitu sulit memberi penjelasan?”

Kukuh menarik napas panjang. “Aku sudah siapkan dananya. Kau akan ikut terapi bicara bulan depan di Singapura. Dua atau tiga tahun. Kudengar sekolahnya sangat bagus. Kelak, kalau kau sudah siap, kita akan tampil di depan publik secara resmi.” “Aneh, aku belum juga mendengar jawabanmu soal Laila.

Apa pembelaanmu tentang foto-foto di tabloid itu?” “Aku tak perlu menjelasan soal Laila. Dia sama seperti yang lain, datang dan pergi dalam hidupku.” “Hah? Aku juga termasuk yang datang dan pergi?” Kukuh menatapku lama. “Dewasalah, Min,” katanya. “Tak ada seorang pun yang bisa menebak masa depan. Tapi, kita bisa merencanakan sesuatu kalau kita mau. Ah, sudahlah. Aku nggak mau umbar janji. Jangan-jangan nanti kau muntahkan pada tempat yang keliru seperti ini.”

Ia mendorongku sedikit sebelum membalikkan badan lalu mencopot celana dalam, ke kamar mandi. Entah karena dorongan itu, atau karena amarah yang memuncak, saat itu aku merasa direndahkan. Siapa aku? Si gagu dari Cipelang yang tak pernah mengenal ayahnya. Remaja molek yang dinodai paman sendiri. Ikan teri yang bercinta seraya mengharap belas kasih seekor kakap.

Kuambil sebuah barbel kecil dari lantai, lalu kuhantamkan ke kepalanya kuat-kuat dengan benda itu. Terdengar bunyi denting besi, dan sang penyanyi itu mengerang sambil memegang kepalanya. Ia memutar tubuh, mencoba berjalan ke arahku, tetapi kemudian jatuh berlutut. Matanya melotot. Air liur dan darah jauh dari mulut emasnya yang menganga. Aku tak suka melihat pemandangan itu lebih lama, jadi kuhantamkan sekali lagi barbel itu ke dahinya. Ia langsung terkapar.

Kupandang lagi tubuh besar telanjang yang dipenuhi tatto bunga di sebelahku. Dengan susah payah, kuseret mayat Kukuh ke kamar mandi. Dekat dapur, kuambil sebuah parang.Kutebas lehernya. Kubiarkan darah mengalir ke lubang pembuangan. Setelah itu, kubawa tubuh itu ke halaman belakang. Di sanalah, diantara lebatnya hutan pisang, kukubur tubuh penyanyi itu bersama bajuku yang penuh bercak darah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *