Puisi-Puisi Eka Fendri Putra

http://www.suarakarya-online.com/
Nyanyian Kata

Berapa usia kata-kata? Pepatah dan petitih?
Tua betapa pun tak renta, tak mengenal ajal
Jajaran rumah sepanjang lorong, sawah di lereng,
ladang di bukit dan munggu pemakaman bertanda batu
Dan bunga puding hitam, tanah, kerikil di atasnya
Selalu ada yang bisa lain, padanglah puputan angin
Jawaban, sepertinya, ada di sana
Siapa nenek moyangnya, asal kaumnya?
Di mana tiang rumahnya pertama ditancapkan?
Dari rimba mana pohon pilihannya?
Di mana tunggul penebangannya?
Di mana sawah ladangnya, sosok jeraminya?
Di mana pandam pekuburan kaumnya?
Di sini kata bertahta tanpa aksara
Bermahkota tanpa raja
Begitulah konon, lantas silsilah pun bermula
Dalam rentang waktu, diucapkan dan dihafalkan
Tak ada kata yang dapat diganti, bagai pahatan
Siapa pun lahir, Tuhan menempatkannya, dengan cahaya
Di bumi. Kaum dan negeri menimangnya dalam tatanan
Kata, memberi mereka mahkota, menandai jalan ke sorga

Januari, 2009

Dinding

“siapa bikin dinding begini?”
“bagaimana meruntuhkannya?” dinding bertiang berlangit
katabatasnya tak bertandameski di luar bagitu dekat
di dalam jauh dan siangdi sana tersimpan riwayat
ikwal segala namatak seorang pun tahu
bagaimana namanya terteradi dinding itu

Februari, 2009

Surat Tua

“Kembalilah Iwan, pohon cengkeh berbuah emas
Di lereng bukit sebelah barat
Wangi kulit manis dan pala lebat buahnya
Pulanglah, perawan muda ceria bermekaran
Akan ada tujuh belas perhelatan lepas lebaran
Bibah dapat suami ketigabelas, orang rantau tentu
Si Badut pun akhirnya dapat jodoh, si Kiah
Janda si Jibun yang cerai mati di Takengon”
Surat itu terlipat dalam sebuah buku lama
Bertahun satu sembilan lima lima, bulan dua, tanggal tiga
Dari Sulaiman, temanku,yang mati waktu perang saudara
Tahun satu sembilan lima sembilan
Waktu subuh mayatnya ditemukan
Tubuhnya memagut batu, terkulai dalam air di tepi danau
Degan satu setengah kaki. Setengahnya lagi, hilang
“Hentakan alu di lesung tingkah bertingkah
Ditumbukkan tiga perawan mudaIwan, pulanglah,
Pulanglah Iwan” Kinantan putih, merah ranggahnya
Ia berkokok sambil terbang
Di sepanjang lorong kampung. Oh abang Leman
Ketika ia tertembak, menjelang subuh itu
Perawan desa kami merasa jadi janda karena duka
Gema perbukitan, gaung puput tanduk
Di kampung pedalaman, gelak cekikikan
Semua sudah lama, terasa jauh, kian sayup
Dalam kenangan, bayangan riang jadi lara
Aku tak bisa pulang, perang saudara belum usai
Hingga kini, nama Sulaiman abadi dalam cinta
Tersimpan dalam pantun, mengalun dalam salung
Umur sembilan belas ia mati, di tepi danau yang sepi
Ketika perang saudara, 50 tahun yang lalu

Maret, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *