Sajak-Sajak Saut Situmorang

SABULAN

Hujan tumpah dari
langit
bagai Danau Toba
jebol
tanggulnya
dan
menghanyutkan
semuanya,
hutan,
batu batu
gunung,
rumah rumah,
dan jerit anak anak ketakutan,
masuk ke
dalam mimpi
tidurku
yang tak kan
terbangun
lagi
oleh lonceng
gereja
di Minggu pagi
senyum lembut
daun bambu di
sekitar kampungku…

Kuburkanlah mayatku dengan tulus doamu

Jogja, Mei 2010

CINTA

1.
Hidup hanyalah menunda jarak perpisahan sebelum cinta kau mengerti…

Di kota ini cinta bicara dalam metafora yang berbeda. Perahu dan bintang di laut malam adalah kekasih yang dipisah semenanjung kecil penuh nyiur yang melambai salam perpisahan dan selamat datang. Hidup cuma gelombang ombak di pasir pantai, panjang pendek tapi tak pernah meninggalkan karang tempat camar camar membangun sarang musim hujannya.

2.
Di antara tetes air hujan di atap rumah yang terus menerus mengingatkan pada makin larutnya malam dan suara desir kipas angin yang membawa dingin malam ke dalam rumah, kata kata bergolak panas ingin berteriak ke kaku garis garis dinding kamar: Berikan aku metafora untuk menaklukkan kebosanan! Kata kata seperti kucing jantan sendiri di bawah wuwungan rumah mencari birahi yang lenyap dalam gelap malam. Sesekali terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh. Kalau kau mendengar tetes hujan di atap rumahmu malam ini, kau rasakankah birahi malam di kaca jendela yang berkabut basah? Suara keluh kereta yang jauh seperti zikir doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin larut, tetes hujan makin hanyut dalam birahi kata yang memanggil manggil metafora dalam sebuah nama, namamu, Cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *