Sultan Menjawab Teka-teki

Paulus Mujiran
http://suaramerdeka.com/

PERISTIWA yang terjadi pada 20 Mei 1998 masih begitu membekas dalam ingatan warga Yog?yakarta. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Pisowanan Ageng karena pada saat itu ma?ssa berbondong-bondong hingga mencapai satu ju?ta orang memadati Alun-alun Utara Keraton Yog?ya?karta. Mereka datang hendak mendengarkan mak?lumat dari bangsa dan rakyat Yogyakarta yang dibacakan sendiri oleh junjungan mereka Sultan Hamengku Buwono X.

Pisowanan Ageng itu tidak lepas dari perubahan kekuasaan yang membawa penderitaan rakyat. Sultan sendiri ikut mempelopori gerakan mahasiswa dengan ikut turun ke jalan menyerukan agar Soeharto turun. Bahkan konon terhadap sikap Soeharto yang keras kepala, Sultan menjalani puasa ngebleng 40 hari 40 malam dan mencapai puncaknya pada 20 Mei 1998.

Di penghujung puasanya, Sultan mendapat isya?rat kultural yen wis ana laron ewon-ewon ngru?bung omah tawon kembar, bakal ana pang?gedhe ditinggal nagane. Dan Soeharto memang jatuh ketika rumah lebah dikerubuti oleh jutaan laron. Perlambang itu bermakna rumah lebah adalah ringin kurung kembar di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, dan jutaan laron adalah ma?ssa rakyat yang tumpah ruah pada 20 Mei 1998.

Salah satu pidato politik Sultan yang menjadi terkenal sampai kini ada?lah ungkapan ora ilok itu selalu diarti?kan tidak boleh memberi kritik pada pe?nguasa. Sedang mbeguguk ngutha wa?ton dan mbalela hanya disandangkan bagi rakyat yang menuntut haknya se?hingga pantas digebug dan dilibas, dan bukan bagi penguasa sendiri yang su?dah tidak lagi menangkap aspirasi rakyat karena terlampau asyik dengan permainan kekuasaan.

Selain itu, aja dumeh malah dialamatkan hanya bagi rakyat yang tergu?sur, bukannya bagi mereka yang menggusur dan makmur di atas beban pundak rakyat banyak. Ungkapan unggah-ungguh tepa sarira dan ewuh pakewuh hanya boleh dikenal oleh rakyat bukan pejabat yang korup, main kolusi dan menyalahgunakan kekuasaan.

Maklumat Lain

Setahun kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 2008 dalam momentum yang sama bernama Pisowanan Ageng Sultan kembali memberikan maklumat. Bedanya pada 1998 Sultan memaklumatkan terjadinya pergantian kekuasaan, sementara pada 2008 dirinyalah yang menyatakan kesediaannya menjadi calon presiden (capres) dalam pemilihan umum (Pemilu) 2009.

Tampaknya Sultan mempergunakan forum Pisowanan Ageng sebagai ajang memecahkan kebuntuan, mengurai kemacetan, dan menyibak teka-teki. Artinya dengan per?nyataan kesedian Sultan, beliau akan menjadi calon pre?siden alternatif. Dalam pa?da itu, pernyataan kesiap?an Sultan menunjukkan ke?pedulian yang besar kepada rak?yat yang tidak kunjung sejahtera.

Dalam konstelasi politik Indonesia, sikap Sultan ini menarik. Melalui forum Pisowanan Ageng rakyat diberitahu bahwa jabatan publik merupakan arena kontestasi dan siapapun berhak terlibat. Dalam proses demokrasi, tidak peduli rakyat biasa atau bahkan raja sekalipun mempunyai hak yang sama. Sultan telah menyatakan sendiri sebagai sosok demokrat sehingga siap menjadi agen perubahan serta model penegakan sehingga memberikan contoh demokrasi bagi rakyat Yogyakarta.

Di sisi yang sama pernyataan kesiapan Sultan sebagai penegasan dari serangkaian langkah investasi politik yang sudah dilakukan selama ini. Dalam konteks ini, pernyataan itu sama sekali tidak mengejutkan. Selama ini Sultan telah memperluas modal dan jaringan politiknya bukan hanya terbatas di Jawa atau Yogyakarta saja melainkan seluruh pelosok Nusantara.

Tapak-tapak kehadiran Sultan bisa dilihat dari beragam peristiwa budaya di berbagai daerah, mendamaikan berbagai pihak yang terlibat konflik komunal sampai mengunjungi daerah-daerah transmigrasi yang dihuni penduduk migran dari Jawa. Akumulasi investasi inilah yang menjadi pendorong meningkatnya popularitas Sultan dalam setahun terakhir ini.

Dan pernyataan kesiapan juga sebagai strategi mengukur besaran riakan. Yang penting bukan substansi pernyataan melainkan dari pernyataan itu diha?rapkan membawa politik angin pu?ting? beliung yang menderu-deru, meng?obrak?-abrik konfigurasi politik saat ini dan memaksa terjadinya rekonsolidasi kekuatan menjelang Pilpres 2009.

Kristalisasi Politik

Dengan kata lain, pernyataan politik itu diharapkan bukan hanya membuat para kompetitor bersiap diri namun juga akan memaksa terjadinya kristalisasi politik yang sekaligus membuka ruang bagi berbagai elemen masyarakat dan kekuatan politik semakin mendekat ke sinar lampu yang sudah dinyalakan Sultan dengan terang (halaman 113).

Meski dalam konteks demokrasi pernyatan kesiapan maju sebagai calon presiden adalah biasa dan hak semua orang tidak semua orang siap menerimanya. Di alam demokrasi sekalipun masih ada orang yang melihat Sultan dari perspektif kultural yang menempatkannya pada sosok yang sakral. Hanya ketika berpindah ke wilayah politik kesakralan itu akan menyusut. Selain tidak bisa menerima bahkan ngeman (menyayangkan) dan jangan-jangan ada yang menjerumuskan.

Di sisi lain ada yang berharap Sultan tetap menjadi Gubernur DIY dengan mempertahankan status keistimewaan. Kalangan ini amat terkejut, apalagi belum lagi jelas kendaraan politik yang hendak dipergunakan maju dalam Pilpres 2009. Meminjam jajak pendapat Kompas 20 November 2008 mereka yang ngeman beralasan karena belum berpengalaman di panggung politik nasional sehingga mengkha?watirkan gagal, atau jika tidak terpilih aurora wibawa dikhawatirkan pudar serta kecemasan sulitnya berkonsentrasi sebagai gubernur DIY dan capres 2009.

Tetapi diam-diam sesungguhnya banyak orang berharap bangsa dan negara ini sejahtera. Mereka berharap terwujudnya bangsa dan negara sejahtera ada satria pinilih yang tampil. Kehadiran Sultan diharapkan bisa membawa perubahan. Dialah orang yang sebelum waktunya keluar masih dipingit. Orang Jawa selalu berharap hadirnya satria piningit untuk meme?gang tampuk pimpinan. Sebab dalam kisah-kisah Jawa kehadiran satria pi?ningit sangat ditunggu untuk memimpin bangsa agar sejahtera (halaman 15).

Buku ini secara dekat mencoba merekam kontestasi politik Sultan HB X menjelang Pilpres 2009. Disamping menguraikan secara ilmiah dengan argumentasi yang logis, dalam buku ini juga disajikan uraian sisi spiritual pen-capres-an Sultan. Seperti konon wahyu keprabon yang disimbolkan sebagai tusuk kondhe yang dulu dipakai (almar?humah) Bu Tien ketika Soeharto ber?kuasa kini sudah manjing dalam tubuh GKR Hemas permaisuri Sultan HB X.

Lepas dari itu semua proses politiklah yang akan menguji kompetensi para calon dalam berlaga di arena pemilu 2009. Dan kehadiran buku ini memberi referensi tambahan bagi para pemilih menjelang Pemilu 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *