Telaah tentang Era Ketelanjangan

Sugiono*
http://www.jawapos.com/

BANYAK orang menyebut sekarang ini merupakan era transparansi atau keterbukaan. Hal-hal yang dahulu ditutup-tutupi atau disembunyikan, kini dibuka secara blak-blakan. Suasana kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pun menjadi terang benderang. Dalam keterangbenderangan itu, tidak ada lagi yang tidak dapat dilihat, bahkan oleh orang buta sekalipun.

Hal-hal yang sebenarnya termasuk dalam wilayah ”aurat” yang mestinya ditutupi rapat-rapat pun dibuka lebar-lebar. Akibatnya, aib, kebohongan, keculasan, ketidakberesan, ketidakadilan, ketidaksenonohan, dan seabrek lagi ”ketidakan” yang merupakan wilayah privat, kerahasiaan, dan ketabuan pun di-go public-kan menjadi wilayah publik yang bebas-terbuka.

Dalam keadaan seperti itu, hal-hal privat, rahasia, tabu, dan aib pun menyebar ke segala arah atau penjuru laksana angin. Kemudian, semua itu menebarkan aroma basin, badeg, amis, anyir, dan sejenisnya, yang selanjutnya berdampak terhadap kotornya lingkungan kemanusiaan dan kemasyarakatan serta merajalelanya penyakit sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi, bahkan keagamaan di masyarakat.

Semua itu menjadi bukti yang sangat nyata bahwa saat ini sebenarnya bukan sekadar era keterbukaan, tetapi sudah melesat jauh menjadi era ketelanjangan. Dalam era ketelanjangan, tidak ada lagi yang tertutupi, semua pun terbuka total sehingga terlihat, terdengar, terasa, dan terbau oleh seluruh indera. Wilayah ”aurat” kehidupan yang berupa aib, tabu, saru, jijik, jorok, dan kotor yang mestinya haram dikonsumsi publik pun berubah menjadi ruang terbuka-bebas yang bisa diakses siapa pun, kapan pun, dan dari mana pun.

Orang-orang pinter menyebut situasi dan kondisi itu sebagai era transparansi informasi. Dalam era ini, segala macam atau bentuk informasi pun memenuhi ruang kehidupan manusia di jagat raya ini; yang halal maupun yang haram, yang manfaat maupun yang mudarat, yang baik maupun yang jelek, yang benar maupun yang salah, yang mencerahkan maupun yang mengaburkan, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, yang indah maupun yang menjijikkan, dan seterusnya, yang semuanya serba bertolak belakang, namun berpasangan, bahkan berimpitan.

Semua itu seolah inherent dengan situasi dan kondisi kekinian. Semua itu telah menjadi sebuah peradaban -meski di dalamnya sangat banyak ketidakberadaban atau kebiadaban. Kedatangan dan perkembangannya pun mustahil bisa dicegah, dibendung, apalagi ditolak. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah mengantisipasi kedatangannya dan kemudian menyaring atau memfilternya agar yang haram, mudarat, jelek, salah, menyedihkan, dan menjijikkan tidak terkonsumsi penglihatan, pendengaran, pengucapan, penciuman, perasaan, pikiran, dan hati kita. Dengan demikian, pancaindera, jasmani, dan rohani kita pun tidak tercemar polusi peradaban itu dan tidak gampang sakit.

Apakah saringan atau filter yang bisa digunakan untuk itu? Akal sehat yang belum tercemar virus peradaban, yang merupakan anugerah Tuhan yang sangat besar. Dengan akal sehat itulah, manusia diantar untuk menemui dan mendapatkan paket aturan kehidupan dari Tuhan yang bernama agama. Dengan akal sehat pula, manusia bisa belajar atau diajari untuk memahami ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci maupun ayat-ayat Tuhan yang tersirat di jagat raya atau alam semesta ini.

Untuk itu, Tuhan pun menurunkan utusan atau rasul sebagai pemandu utama manusia dalam belajar, memahami, membumikan, dan mengejawantahkan ajaran-ajaran-Nya. Karena itu, mengikuti jejak rasul yang uswatun hasanah wajib bagi manusia dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini. Hanya dengan cara itulah manusia bisa memfungsikan ayat-ayat Tuhan yang tersurat di kitab suci maupun ayat-ayat Tuhan yang tersirat di alam semesta sebagai petunjuk atau pedoman hidup sekaligus filter peradaban. Sebab, di tangan orang-orang yang tidak berakal sehat, paket aturan agama pun tidak otomatis berfungsi sebagai penyaring atau filter peradaban.

Akal sehat yang berfungsi sebagai filter peradaban hanya mungkin dimiliki orang-orang yang suka bertafakur dengan penghayatan yang sangat dalam. Mereka adalah para pencari kebenaran sejati yang akalnya terus-menerus diasah dengan ilmu, hatinya selalu disinari cahaya ilahiah yang sebenar-benarnya terang, dan spiritualnya senantiasa dipenuhi dengan energi zikir yang sangat intens kepada Sang Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa alam semesta, Allah Swt.

Dalam kaitannya dengan transparansi informasi, orang-orang seperti itu sangat piawai dalam memilih, memilah, menimbang, dan menakar informasi yang masuk ke penglihatannya, pendengarannya, pikirannya, perasaannya, dan hatinya. Informasi yang masuk tidak ditelan mentah-mentah, tidak sekadar masuk telinga kiri kemudian keluar telinga kanan. Tetapi, informasi tersebut diolah sedemikian rupa dengan mesin akal sehat, kejernihan spiritual, dan penerangan cahaya ilahiah yang terpancar sangat kuat dari ayat-ayat suci yang tersurat maupun yang tersirat, serta dengan panduan rasul yang uswatun hasanah.

Hasil olahan atau pilahan segala macam atau bentuk informasi itu adalah kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan tersebut masih belum berfungsi apa-apa kalau kita biarkan sebagai kebenaran dan kebaikan belaka. Kebenaran dan kebaikan itu harus difungsikan sebagai pedoman, petunjuk, serta rambu-rambu dalam melangkah, berjalan, dan berlari untuk meniti kehidupan ini. Kebenaran dan kebaikan tersebut harus diikuti, dipraktikkan, diamalkan, dan disebarluaskan terhadap orang-orang yang membutuhkan suluhan.

Di sekitar kita masih banyak orang dahaga yang membutuhkan minuman, orang lapar yang membutuhkan makanan, orang kegelapan yang membutuhkan pelita-penerang, orang kedinginan yang membutuhkan selimut penghangat, orang kepanasan yang membutuhan payung serta tempat berteduh, dan masih banyak lagi.

Sebagai sesama manusia, kita harus selalu berbagi; saling memberi, saling menerima, saling menolong dalam kebaikan, saling menasihati dalam kesabaran, dan saling menghormati serta menghargai dalam perbedaan. Meski memiliki banyak perbedaan, seluruh manusia hakikatnya adalah satu, setara, dan sejajar.

Dalam kesatuan, kesetaraan, dan kesejajaran itu, tidak boleh ada manusia yang menyembah atau mengultuskan manusia lain, manusia yang menjajah manusia lain, manusia yang menindas manusia lain, manusia yang menyakiti manusia lain, manusia yang memerkosa manusia lain, manusia yang memperbudak manusia lain, manusia yang mengintimidasi manusia lain, serta manusia yang mengeksploitasi manusia lain. Apalagi manusia yang mengisap darah manusia lain, manusia yang menghabisi nyawa manusia lain. Semua itu benar-benar sangat terlarang dan haram hukumnya. Termasuk segala peraturan, perundang-undangan, dan kebijakan yang menumbuhsuburkan semua itu.

Karena semua itu merupakan kemaksiatan dan kemungkaran yang hakikatnya adalah jalan setan, maka mencegah, memberantas, memerangi, dan melenyapkannya adalah ladang jihad fisabilillah. Tentu itu tidak boleh ditempuh dengan menghalalkan segala cara, melainkan harus dengan jalan hikmah, mauidhatil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan. Jangan sampai mencegah dan memberantas kemaksiatan-kemungkaran justru dengan jalan melakukan kemaksiatan-kemungkaran yang jauh lebih besar!!! Wallahu a’lam bishshawab. (*)

*) Editor bahasa Jawa Pos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *