Ababil

Andriansyah
http://www.sinarharapan.co.id/

Kota kami adalah kota yang tak pernah sepi dari hingar-bingar dentuman bom, desing peluru. Lemparan granat yang terkadang berbarengan dengan lemparan batu pemuda-pemuda di kota ini. Ya, itulah kota kami. Kota yang tak pernah sepi dari kepulan asap dan puing-puing bangunan yang runtuh. Kota yang makin tak peduli lagi berapa banyak nyawa yang meregang di antara reruntuhan gedung yang hancur, pasar yang mengepul terbakar, anak-anak kecil korban salah sasaran. Semua itu telah menjadi pemandangan yang biasa, malah terkesan tak biasa jika satu hari saja sebuah bom tak jatuh di sini. Orang-orang sudah makin terbiasa dengan keadaan ini.

Bayi-bayi yang lahir sudah terbiasa dengan pekaknya suara bom yang jatuh. Seolah-olah dentuman bom dan mortir itu bersatu padu dengan tangisan bayi yang baru lahir. Bayi-bayi itu juga harus menerima kenyataan pahit. Mereka lahir ke dunia terkadang sudah tak berayah, masih untung jika tidak terkena pecahan bom yang kerap kali jatuh di kota ini. sebuah kenyataan pahit yang harus mereka terima. Selamanya. Seluruhnya. Mereka toh, tak mungkin menolak dilahirkan di kota ini. Mereka tak bisa berencana.

Orang-orang luar menyebut kota kami sebagai kota surga. Sebuah kota yang kehidupan ekonominya selalu bergairah dan tak pernah mengenal kata lelah. Sebuah kota yang hampir sekali jarang terlelap. Orang-orang dari luar selalu singgah dan menginap barang satu atau dua hari di kota kami. Mereka takjub dengan pemandangan kota kami ketika senja tiba. Siluet bangunan dan gedung di kota kami tampak jelas jika cahaya keemasan terkadang kemerahan jatuh di antaranya. Sebuah pemandangan yang selalu dinikmati orang-orang yang singgah di kota kami.

Namun, itu cerita lampau. Cerita yang selalu dibanggakan orang-orang tua di kota kami. Pemuda-pemuda di sini hanya sempat mengecap cerita saja. Pemandangan dan kejayaan yang selalu dibangga-banggakan para tetua kami sudah tak ada lagi kini. Semuanya hanya sebuah kenangan yang mungkin saja bagi para pemuda di kota kami harus tetap dikenang. Yah, minimal mereka akan punya cerita yang membanggakan tentang kota kami untuk diceritakan kembali tentunya.

Pasar-pasar yang dulu ramai dengan transaksi yang tak pernah henti, kini tinggal puing dan bangkai hewan ternak. Tak ada lagi teriakan para penjual yang menjajakan barang dagangannya dan ramai pembeli menawar harga. Semuanya tinggal puing dan asap yang di sana-sini masih mengepul. Bangunan kantor tak jauh berbeda dengan pemandangan pasar. Reruntuhan gedung perkantoran yang masih mengeluarkan asap masih tampak di kota kami. Mayat-mayat yang bergelimpangan dan hangus terbakar menambah mencekamnya suasana kota kami. Bau sangit dan lalat yang beterbangan menghiasi reruntuhan gedung perkantoran di kota kami.

Sekolah-sekolah yang dulu ramai dengan para siswanya yang menimba ilmu sudah tak ada lagi. Semuanya hancur dan terbakar. Tak ada lagi sisa ilmu yang bisa didapat dari sana. Buku-buku menjadi abu. Guru-guru di sana beralih profesi menjadi pejuang-pejuang yang gagah berani. Memanggul senjata, menyelipkan granat di kedua sisi pinggangnya. Mereka tak lagi mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswanya, tetapi mereka mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup di kota yang selalu dirundung peperangan. Peperangan yang silih berganti tiada henti. Peperangan yang mereka sendiri tak tahu sebab-musababnya. Peperangan yang harus mereka hadapi setiap hari. Entah, siapa lawan dan kawan mereka.

Derap sepatu lars para tentara selalu terdengar di kota kami. Debu-debu beterbangan memenuhi udara di sudut-sudut kota. Sebuah pasukan lagi telah tiba pagi ini. Mungkin berjumlah sekitar dua ratus orang. Ah, entahlah, apa yang akan mereka lakukan di kota kami. Semuanya sudah menjadi abu. Gedung, pasar, sekolah, stasiun, terminal. Masjid yang kami banggakan pun telah menjadi abu. Mimbar yang kokoh dan berwibawa sudah porak-poranda. Tinggal puing. Ya, hanya puing.

Pasukan itu terus maju ke kota kami. Derap langkahnya suatu pertanda bahaya bagi kota kami. Berpuluh-puluh tank bergerak menyusuri kota kami. Menghancurkan segala apa yang ada di hadapannya. Melindas mayat yang bergelimpangan, bangkai hewan ternak, ornamen masjid yang terserak di jalan. Semua dilumatnya tanpa sisa. Bunyi amunisi beradu yang diselempangkan di bahu para tentara adalah mimpi buruk bagi kota kami.

Suasana mencekam telah menghampiri kami. Entahlah, berapa lama kejadian ini akan berlangsung. Tak ada yang tahu. Atau tak mau tahu. Seolah mimpi buruk ini tak akan pernah berakhir dan selamanya mereka tak terjaga dari tidurnya.

Tank-tank itu tak hanya melindas apa yang terserak di jalan, tetapi juga melindas dan meratakan makam para leluhur kami. Mereka telah menghancurkan harga diri para leluhur kami. Makam para leluhur yang kami hormati telah rata dengan tanah. Tak ada lagi peninggalan dari leluhur kami di kota ini. Semuanya rata oleh tanah. Tak ada yang mempu menghentikan laju tank-tank tersebut. Ya, tank-tank itu leluasa menghancurkan segala apa yang tampak di hadapannya. Tujuannya hanya satu: meratakan kota kami!

Batu-batu yang dilontarkan para pemuda kami, semuanya seperti angin lalu. Tak guna. Batu-batu hanya menyentuh tank-tank itu, tak melukai sedikitpun. Apalagi sampai menghancurkannya. Batu-batu yang beterbangan mengenai badan tank-tank itu hanya mampu menggores. Malah batu-batu itu menjadi hancur lantas menjadi abu. Tak ada yang mampu menahan tank-tank itu. Segalanya dilindas, tak kenal ampun.

Kami jadi merindukan datangnya ababil. Kami rindu kisah pasukan gajah yang dihancurkan burung-burung ababil yang melemparinya dengan batu ketika pasukan gajah itu ingin menghancurkan kota Mekkah serta meratakan Ka?bah. Ya, kami rindu kisah itu. Kami merindukan datangnya burung ababil untuk menghancurkan tank-tank itu. Setiap kami berdoa, kami selalu meminta sudi kiranya burung ababil singgah di kota kami untuk menghancurkan tank-tank itu. Kami benar-benar butuh sekawanan burung ababil untuk membantu kami. Tetapi, di mana mereka tinggal dan membuat sarang? Kami benar-benar tak tahu.

Beberapa dari kami mencoba menemukan sarang burung ababil. Kami benar-benar mengharapkan kedatangan mereka. Kami benar-benar telah putus asa, hanya ababil harapan kami. Berhari-hari para pemuda dari kota kami yang cukup terlatih, menyusuri tebing dan pegunungan. Hanya satu harapan mereka: menemukan sarang burung ababil. Ya, itu saja. Kami sangat menggantungkan harapan pada para pemuda itu. Kami berharap mereka segera menemukan sarang burung ababil, kemudian meminta burung-burung itu menggempur tank-tank itu dengan batu-batu, melumatkannya menjadi abu.

Hari berganti menjadi minggu. Minggu berganti bulan. Tak satu jua dari para pemuda itu berhasil menemukan sarang burung ababil. Banyak dari mereka putus asa, bahkan sampai tewas karena ganasnya jalur yang mereka lalui. Sebagian terserang malaria setelah melewati rawa-rawa. Sebagian terkena racun ular berbisa di rimbunan semak, mati kehausan di tengah padang pasir. Nyaris tak ada sisa dari para pemuda itu. Sekarang, kami benar-benar tak punya harapan lagi.

Sementara itu, tank-tank yang sudah masuk ke kota kami. Sudah semakin tak terkendali. Mereka mulai bosan meratakan bangunan-bangunan serta rumah-rumah. Mereka mulai menggilas manusia. Mereka baringkan wanita dan anak-anak, setelah sebelumnya mereka ikat para wanita dan anak-anak, kemudian mereka menggilasnya! Mereka meratakan para wanita dan anak-anak bagai menggilas adonan kue dengan botol. Bagi mereka, itu sebuah tontonan yang mengasyikkan. Bagi kami, itu sebuah tontonan yang memuakkan!

Kami semakin dicekam ketakutan, siapa berikutnya yang akan digilas esok. Kami hanya menunggu giliran untuk digilas. Berdoalah agar esok tak digilas tank-tank itu. Kami benar-benar hanya menunggu giliran, tak lebih. Sebab, harapan kami satu-satunya tak kunjung tiba. Burung ababil di manakah engkau?

Suatu sore dari arah utara, kami melihat serombongan benda yang terbang melayang dari balik pegunungan. Tak jelas, apa rombongan itu. Seperti sekawanan burung yang hendak pulang ke sarang ketika senja mulai turun. Kami terus memperhatikan gerak rombongan benda itu. Tiba-tiba harapan kami tentang burung ababil muncul kami. Datanglah, wahai burung ababil! Kami menunggumu!
Setelah agak dekat, kemudian rombongan benda itu terbang merendah, kami lihat mereka bukan burung ababil. Mereka serombongan pesawat tempur! Serombongan pesawat tempur itu kian terbang merendah, kemudian terbang memutar. Lalu bermanuver kembali ke atas, mungkin ke balik awan. Lantas terbang merendah lagi. Memutar. Entah apa yang mereka lakukan. Yang jelas, hal itu membuat panik tank-tank. Mereka?tank-tank?itu langsung tancap gas. Mereka berhamburan, mungkin membuat formasi. Tak lama, serombongan pesawat tempur itu mulai meluncurkan rudal, menjatuhkan bom ke arah tank-tank. Satu, dua, tiga tank mulai hancur terkena rudal dan bom yang dijatuhkan. Serta-merta formasi mereka kacau. Serombongan pesawat tempur itu menggempur tank-tank tanpa kenal ampun. Tank-tank berjumpalitan terkena rudal, hancur dijatuhi bom.

Kami lega melihat pemandangan itu, ternyata burung-burung ababil telah datang kepada kami dalam wujud pesawat tempur. Satu per satu tank-tank itu mulai hancur terbakar. Nyaris tak ada sisa. Dari balik puing-puing bangunan, kami mengucap syukur pada Tuhan. Kau mendengar doa kami!

Semua tank itu tinggal keping-keping baja. Tak ada yang selamat. Setelah menghancurkan tank-tank itu, serombongan pesawat tempur itu bermanuver kembali ke utara. Kami berulang-ulang mengucap syukur kepada Tuhan. Sambil melambaikan tangan ke arah utara di mana serombongan pesawat tempur itu datang dan pergi, lidah kami tak henti mengucap syukur.

Tiba-tiba rombongan pesawat tempur itu kembali. Barangkali salah satu dari mereka melihat lambaian tangan kami. Kami senang mereka kembali, mungkin saja mereka hendak melihat keadaan kami. Dan mungkin saja ingin menolong kami lagi. Kami pun ingin menjabat tangan para pilot pesawat tempur itu yang sungguh pemberani dan tangguh. Kami ingin mengucapkan terima kasih yang tak hingga. Tapi apa yang terjadi? Mereka menembaki kami. Mereka menjatuhkan bom kepada kami. Mereka terus menembaki kami, sekali-kali meluncurkan rudal, bom. Dan, ahhh?!! Mereka terus memburu kami, meratakan kota kami!!

Kota kami kini benar-benar tinggal kepulan asap dan debu yang senantiasa beterbangan. Puing. Dan hanya puing yang tersisa. Kota kami bukan sebuah kota lagi. Tetapi sebuah daerah yang kini benar-benar lapang dan tinggal debu. Ya, hanya debu!

Bandarlampung, Agustus 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *