Ratna Indraswari Ibrahim
http://www.jurnalnasional.com/
Hari ini Ferlin berumur dua puluh tahun.
Tidak bisa lagi melanjutkan sekolah, seperti sahabat-sahabatnya se-SMA. Bulan ke mancanegara, Lia masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jakarta. Sedang Ferlin di sini, cuma mencuci baju!
Melihat wajahnya di air yang penuh busa sabun. Buih-buih busa berwarna-warni.
Ferlin meniup buih-buih busa itu.
Dulu, waktu ulang tahun Bulan, teman sekelasnya di SMA, Ferlin (dengan baju yang dipinjamkan oleh Bulan) memasuki ruang sebuah hotel, menikmati makanan dan kue ulang tahun Bulan yang ke-17. Itu memang cuma sekali dirasakan. Suasananya persis seperti sinetron yang sering ditonton. (TV sedang macet. Bapak bilang belum punya uang untuk memperbaiki TV itu).
Dibantingnya baju kerja Bapak, yang satpam hipermart itu. TV menyala, merasuki tubuh Ferlin. Ferlin melihat dirinya dengan baju bagus yang serba-in. Bersama teman-teman mengunjungi acara ulangtahun di kafe, di sana bertemu dengan banyak lelaki yang berparfum mahal. Dia cantik. Oleh karena itu Ferlin bisa ngobrol santai dengan Tomy (pendatang baru dalam sinetron).
Tiba-tiba adik kecilnya bilang, ?Mbak, saya mau kencing.? Ferlin melihat adik dengan marah dan menariknya ke kamar mandi. ?Lain kali, kalau aku lagi sibuk jangan minta kencing!? Adik mengecilkan tubuh dan melihat kemarahan di mata, Ferlin.
Kembali, Ferlin mencuci baju ini. Dia merasa ada yang menekan perasaannya. Sungguh, Ferlin tidak ingin seperti Bulan, (yang bisa kuliah ke mancanegara) cukup seperti Lia saja, yang bisa kuliah di Jakarta. Yah, dia tidak lebih goblok dari mereka. Lagipula, di cermin, dirinya perempuan yang lampai. Dengan kulit kuning langsat.
Sesungguhnya, Bulan dan Lia sepakat, bahwa untuk penampilan, Ferlin sudah memiliki kulit yang mulus, rambut lurus tergerai dan baju yang in (baik Bulan maupun Lia kadang-kadang memberi dia baju, kalau mereka berdua sudah merasa lemari pakaianya harus diganti isinya). Sungguh, Ferlin selalu berdandan seperti mereka. Kadang, dia selalu bisa membujuk ibunya untuk membeli baju semodel itu. Sekalipun, ibu harus mengurangi uang jajan adik-adiknya. Ferlin selalu punya alasan.
?Ibu kan ingin, aku dapat suami yang kantoran, kalau aku tidak berbaju seperti perempuan moderen, laki-laki mana yang mau denganku? Ibu kan tidak suka aku menikah dengan Tono yang kerjanya tukang ojek itu. Aku juga merasa Tono suka kepadaku, tapi aku tidak bisa bayangkan menikah dengan Tono, yang sehari-hari penuh debu dan bau keringat. Kalau aku jadi istrinya, paling-paling nasibku sama seperti ibu, dengan uang belanja yang pas-pasan. Aku ingin seperti Bulan atau Lia yang punya pacar cakep dan anaknya orang kaya.?
Namun, ibu bilang, ?Bapakmu cuma satpam, mereka pasti memilih Bulan dan Lia, bukan kamu yang anaknya orang miskin ini. Yang kaya pasti cari pasangan sama-sama kayanya, meski secantik apa pun kamu.?
Ferlin, tidak sepaham dengan ibunya. Ferlin mencuci selimut yang sudah kusam ini. Dia membanting-bantingkan pada papan cucian dan buih-buih busa bertebaran warna-warni.
Ferlin, memasuki sebuah kafe, bersama seorang lelaki yang menjemputnya tanpa perasaan risih, dari rumahnya yang kusam dan sudah tua. Lagi pula rumahnya berada di sebuah gang sempit di kota ini. ?Aku tidak pernah peduli pada rumahmu. Aku lebih suka melihat apa yang ada pada dirimu.?
Ferlin, merasa tersanjung dan semakin yakin, dirinya adalah perempuan cantik, secantik bintang-bintang sinetron, sekalipun tidak dipoles dengan make up dan baju mahal. ?Kamu adalah mutiara dalam lumpur. Saya tahu itu?. Ferlin merasa terloncat, dia tidak mau bertanya lagi. Mengapa harus dia yang terpilih. Bayangkan, kafe mahal ini tempat para selebriti biasa berkumpul menghabiskan hari-harinya.
Ketika Ferlin masuk, semuanya seperti terpana. Baik laki-laki maupun perempuan menyapa lelaki itu, sembari menanyakan, siapa dirinya! Seharusnya mereka tahu, Ferlin adalah Putri Lingkungan. Yang kecantikannya tidak kalah dengan para selebriti itu. Kemudian, terdengar suara pintu dibanting, ibunya datang mulai ngomel. ?Kamu belum juga selesai mencuci selimut itu. Padahal, aku sudah bekerja selama sepuluh jam untuk kita semua.?
Ferlin, muak mendengarkan itu. Dia harus meneruskan cerita tentang dirinya dengan lelaki itu. Lelaki itu berbisik kepadanya. ?Kamu seperti magnet-magnet yang tidak terkalahkan oleh baju bagus, parfum, dan make-up mereka. Aku punya ide, mendandani kamu seperti selebriti dan pasti akan banyak sekali produser menawari kamu untuk peran sinetron mereka yang baru.?
Memang waktu di SMA dulu, guru teaternya bilang, dia punya potensi untuk itu. Tapi untuk mengembangkan bakat, selalu membutuhkan uang, uang, uang!
Dengan sebal, Ferlin menyelesaikan mencuci selimut tua itu. Sebetulnya, dia sudah lama ingin mencampakkan selimut bapaknya. Ferlin kemudian menangis, sekali lagi, Bulan dan Lia yang tidak cantik, harusnya tidak seberuntung itu, karena kalau orang mau jujur Bulan dan Lia tidak secantik dirinya! Sejak kecil setiap orang memuja-mujinya, sebagai perempuan cantik. Banyak tetangganya bilang, ?Kamu sebenarnya tidak pantas menjadi anak ibu bapakmu yang miskin dan hidup di gang sempit ini, sebab wajahmu seperti para bintang sinetron.?
Ferlin percaya itu. Oleh karenanya, waktu sekolah dulu, dia tidak terlampau resah, banyak lelaki maupun perempuan yang mau menjadi temannya. Ketika diadakan pemilihan Putri Lingkungan se-SMA (dengan baju yang dipinjamkan oleh Lia), Ferlin bisa ikut serta dan berhasil menjadi juara ketiga dari seluruh SMA di kota ini. Pada waktu itu, semua guru dan teman-temannya memberi selamat. Mereka ikut bangga ketika wajahnya terpampang di koran lokal. Jadi, apakah ini adil, nyatanya sekarang, ( Ferlin yang Putri Lingkungan ) cuma mencuci baju di rumah! Dan malam tadi ibunya bilang, ?Sebaiknya kau menggantikan Mbak Tatik, yang ikut suaminya keluar Malang, agar kau mendapat uang dari hasil melinting rokok. Dengan begitu kau bisa membeli baju dan keperluan lainnya, untuk dirimu sendiri. Siapa tahu ada lelaki baik, yang akan menikahimu. Apalagi, usiamu kini sudah 20 tahun, sudah dua tahun kamu menganggur setelah lulus SMA.?
Dia benci mendengar itu, tentu saja akan diterimanya pekerjaan sebagai pramugari dengan senang hati, jika ada yang menawari. Dengan begitu, dia akan terbang dari satu kota ke kota yang lain, punya banyak kesempatan untuk lebih mengenal para lelaki tampan dan kaya.
Tentu saja, dia tidak bisa menceritakan itu kepada siapapun. Sahabatnya, Lia dan Bulan sudah tidak pernah kontak lagi dengannya. Tidak tahu lagi kabarnya, walaupun Bulan dan Lia pernah melanjutkan kontak ini dengan e-mail. Tapi, ibu tidak pernah memberi uang tiga ribu hanya untuk membalas e-mail sahabatnya itu. Menurut Ibu, itu bisa untuk membeli sepotong tempe yang akan dimakan sekeluarga. Ferlin terhenyak. Seharusnya Ibu tidak lagi mempersoalkan sepotong tempe, yang kata Lia, ?Kita harus punya akses ke internet, kalau tidak ingin ketinggalan kesempatan kerja dan berkarier.?
Ferlin menyesal, seharusnya kedua orang tuanya mengerti itu. Dia ingin seperti teman-teman SMA-nya dulu. Desakan ibu untuk bekerja di pabrik rokok, sebagai buruh linting, menyakitkannya. Seharusnya, kedua orangtuanya bisa menyekolahkannya. Sungguh mengherankan teman sekelasnya, Nia, yang ekonomi keluarganya, seperti orangtuanya, bisa mengambil D3 bahasa Inggris, entah dengan cara bagaimana. Kalau, bercerita pada ibu tentang Nia, ibu akan menyahutinya dengan marah-marah.
***
Ferlin melihat dari kaca mobil, lampu yang berkedip, gedung-gedung yang indah. Di salah satu gedung itu, dia masuk (butik yang termahal di kota ini) dia menawar sebuah gaun hitam dengan kredit card, yang didapat dari calon suaminya. Gaun hitam itu, semodel seorang bintang sinetron yang sedang menghadiri ulang tahun temannya.
Ferlin melihat ibunya masuk ke kamarnya dengan wajah lega, ?Aku sudah katakan pada Bu Mandor, Bu Mandor setuju, kamu menggantikan Tatik. Bu Mandor menganjurkan, mulai besok kamu harus belajar melinting dulu. Kamu harus bersyukur, banyak sekali yang ingin bekerja di sana.?
Ferlin diam saja. Dia melihat dirinya dalam gaun pengantin Eropa, serbaputih dan beberapa anak kecil terpaksa memegang ujung gaunnya yang menyapu lantai. Di sampingnya, bukan Tono atau Bambang, tetapi lelaki (yang bertemu di mal) yang menurut Lia cuma teman. Lia tidak mengatakan lelaki itu pacarnya. Jadi boleh saja, dia masuk sebagai kekasihnya.
Ferlin akhirnya mendapat lima ribu rupiah dari ibu, yang menganggap Ferlin selalu memboroskan uang belanja. Dia ingin sekali mengejar lelaki, yang bersama Lia itu. Dia menelepon ponselnya Lia, dan Lia bilang, ?Lelaki itu, teman kerja kakaknya di Jakarta, atau calon suami Mbaknya!?
Pulang ke rumah, Ferlin merasa dihantam, cuciannya kali ini penuh ompol dari adiknya paling kecil. Kalau dia tidak mencuci, adiknya bisa kehabisan celana di musim hujan ini. Ferlin tiba-tiba menangis keras. Dua adiknya segera datang, ?Mbak, sampeyan sakit tah?? Ferlin mengusir adiknya dengan batu-batu kecil di sekitar sumur. Apakah, dia sampai mati harus dan hanya berada di seputar sumur untuk mencuci.
Desas-desus sudah lama terdengar, walaupun bertengkar seru dengan orang tuanya (tidak sepakat) Bambang ingin melamar Ferlin, di hari dan bulan yang baik. Itu tentu saja sudah dikatakan kepada Ferlin berulang-ulang. Tapi Ferlin merasa tidak pernah menjadi pacarnya. Kalau dia mau diajak jalan-jalan, sekadar untuk menghilangkan stres dirinya. Ferlin memang paling suka makan bakso. Ferlin mengatakan kepada dirinya sendiri, dia akan menolak kalau orang tua Bambang datang dan melamarnya. Mudah-mudahan, berita ini tidak terdengar oleh ibunya. (Ibu selalu menganggap, Bambang yang tukang mebel itu pantas menjadi suaminya). Padahal Ferlin kan Putri Lingkungan!
Ferlin merasa kalau tidak ada jodohnya lagi di sini, dia harus ke mal supaya bertemu, lelaki yang punya masa depan! Tapi, ibu tidak pernah memberi uang untuk keperluan itu. Ibu selalu tidak paham bahwa semuanya itu perlu uang. Bukankah ibu sendiri pernah mengatakan, untuk mengambil menantu yang baik, kita harus punya modal. Jadi, tidak mungkin memancing kakap dengan cacing, pastinya dengan udang. Tapi ibu cuma ngomong saja. Kalau dimintai uang untuk keperluannya, Ibu selalu marah.
Dan berkata, ?Aku dan bapakmu sudah bekerja keras untuk anak-anak dan embahmu. Sudah waktunya kamu bekerja membantu kami, karena tadi siang bapakmu diberhentikan dari pekerjaannya. Sekarang kita semakin miskin.? Kemudian, Ibu menangis sangat keras sekali!
***
Ferlin berada di lift plaza yang baru dibuka. Seorang lelaki menanyakan nama, alamat rumahnya dan Ferlin menjawab dengan malu-malu. Namun lelaki itu tidak pernah menghiraukan jalan menuju rumahnya, bukan daerah tempat orang kaya. Lelaki itu berkata, ?Aku akan mengunjungimu. Aku seorang pangeran yang berasal dari negeri yang jauh di seberang sana. Aku sudah lama mencarimu. Orang pintar di negeriku bilang, kita akan bertemu di sini.?
Ferlin tersenyum, dia ingin menceritakan itu kepada orang-orang yang ada di rumahnya. Dan yang ini bukan sebuah mimpi lagi. Lelaki itu datang ke rumahnya mereka bercinta di sebuah tempat yang cantik, berenang di samudra biru tanpa tepi. Ferlin merasa tercekik, namun keindahan mengaliri seluruh urat nadinya. Dan pada suatu hari, ada pesta pernikahan yang megah antara Ferlin dengan lelaki yang datang dari seberang lautan itu.
Suatu kali, setelah beberapa bulan pernikahan, mereka jalan-jalan di plaza, di tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Lelaki itu berkata, ?Marilah kita naik lift seperti ketika kita pertama kali bertemu.? Namun, ketika berada di dalam lift, lelaki itu tidak ada lagi di sebelahnya!
Ferlin, mencuci bajunya, tadi dia cuma mendapat tujuh ribu limaratus rupiah dari hasil melinting rokok hari ini. Yang lima ribu, untuk beli lauk buat makan siang sekeluarga, dan Ibu bilang yang dua ribu limaratus harus diberikan pada bapak untuk beli rokok!
Malang, 7 Januari 2007 s/d 28 Februari 2010