Kasidah Asma

Kusprihyanto Namma
http://suaramerdeka.com/

KECAMUK perang baru saja usai. Aroma kepedihan masih bertabur di sekujur padang. Bacin darah menyeruak ke bening udara, mengundang beribu burung bangkai merayakan pesta. Tombak dan pedang belum tercerabut dari tubuh-tubuh terkapar kaku. Laksana hutan tonggak yang kering dan bisu.

Sementara itu, seorang ibu tua yang usianya mendekati bilangan seratus tahun, menyeret kakinya. Mencari jasad anak kesayangan. Satu per satu mayat dilewati. Dilangkahi. Menduga dan menerka. Peduli amat panas mentari. Tajam debu. Tukikan burung maut. Badan mati yang menghadang bersilang-silang. Setapak demi setapak kaki bergerak.

Di belantara mayat, Ibu Tua itu bagai pengembara yang tersesat.

“Engkau bukan anakku. Anakku takkan mati hanya dengan satu-dua tusukan pedang!”

“Ia takkan mati dengan sekali pukulan atau tombakan!”

“Kau juga bukan. Mana mungkin ia mati dengan wajah menghitam!”

“Kau prajurit yang tak surut karena takut. Kesetiaanmu tak kendur meski lainnya memilih kabur!”

“Kamu musuh anakku!”

“Kamu musuh anakku!”

Parau suaranya menjadi gema di langit. Membuat burung-burung maut menunda selera makan. Membentuk konvoi. Menjadi payung berbanjar. Ibu Tua yang peluhnya bagai lilitan hujan; tak lagi merasakan panas membakar.

Pesona keagungannya memancar. Mayat-mayat yang merupakan prajurit anaknya bagai menemukan samudera yang tenang. Sejuk. Tak bergelombang.

“Seandainya ia ibuku, betapa gembira aku. Dijenguk ketika mati di padang gersang. Ditimang dalam buaian kasih sayang. Dikubur dalam dada yang lapang!”

“Ia ibumu. Meski bukan yang menyusui dan membesarkanmu. Ia ibu kita semua. Ibu yang kelembutannya merata pada siapa saja. Tak peduli kita punya derajat apa!” “Kedatangannya telah mengubah bara jadi baring. Dendam menjadi denting. Seruling sengketa telah padam. Yang menyala tinggal jiwa yang dipanggil!”

“Ibu! Sentuhlah aku. Sentuhanmu bagaikan mawar. Harumnya akan kubawa terbang!”

Adapun mayat yang menjadi musuh anaknya menjerit “Tak usah mendekat. Aku sampah yang busuk. Tak dikenang siapa pun. Terkutuk sepanjang waktu!”

“Bagaimana aku harus bersembunyi dari pandanganmu, Ibu. Sementara tajam matamu bisa melihat apa yang tersembunyi di balik gunung hatiku!”

“Aku telah terbunuh oleh putramu, Ibu. Panas pedangnya belum habis sampai

kini!”

“Maafkanlah kami. Maafkanlah kami!”

Ibu Tua itu bukan tak mendengar dengus alam kubur. Namun kerinduan untuk segera menemui anak kesayangan mengalahkan segalanya. Tertatih dan tersaruk ia. Hingga seorang laki-laki datang menghampiri.

“Mari kutunjukkan jalan kepada putramu, Ibu!”

“Bagaimana dia?”

“Tentu lain dari yang lainnya!”

“Bagaimanakah cahayanya?”

“Bagai rembulan yang penuh!”

“Syukurlah.”

“Tubuhnya menyemburkan keharuman luar biasa!”

“Syukurlah!”

“Syuhada yang sempurna!”

“Kematian memang harus diterimanya. Apa yang ditakutkan. Yang takut maut cuma pengecut!”

Sambil berjalan keduanya terus berbincang. Sampai akhirnya Ibu Tua itu berhadap-hadapan dengan jasad anaknya.

“Diakah?”

“Ya!”

“Begitu gagah!”

“Ia yang paling gagah!”

“Kau bisa menghitung lukanya?”

“Tak terhitung. Nyaris seluruh tubuhnya berhias luka!”

“Sudah kuduga. Satu-dua tusukan pedang takkan sanggup membunuhnya!” “Perhatikan tubuhnya. Ia pasti menyambut maut dengan gembira!”

“Satu pun uratnya tak ada yang kendor!”

“Itu pertanda ia sangat bersemangat!”

“Sebelum terjun ke kancah perang yang akhirnya membawa kematiannya aku mendesak.”

“Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, sabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani Umaiyah! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!” 1)

“Semoga ia berada pada pihak yang benar!” Ibu Tua itu menjawab dengan anggukan. “Alam menghormati kepergiannya!”

“Aku turut merasakannya!”

“Tak ada satu pun burung pemakan bangkai mendekati tubuhnya!”

“Semoga ia terus terjaga!”

“Lalat pun tak berani menyentuhnya!”

Ibu Tua itu meski renta mampu berdiri tegar, tanpa harus jatuh pada kesedihan. Dengan menghadapkan tubuhnya pada sang anak, ia bagai sebuah gunung tinggi. Tegak tak bergerak.

“Apa yang kau rasakan anakku?”

“Kesejukan Ibu!”

“Apalagi?”

“Kedamaian yang tak menipu lagi!”

“Kelapangan yang tak terukur luas dan batasnya!”

“Kenikmatan yang tak bisa dituliskan kata-kata!”

“Pelayanan nan sempurna!”

“Engkau berada di tempat yang dijanjikan, Anakku!”

“Berkat doamu Ibu!”

“Berkat ikhtiarmu Anakku!”

“Berkat rida-Nya, Ibu!”

Ibu Tua itu tersenyum. Satu senyuman yang tak jelas sebagai kepedihan atau kegembiraan.

“Anakku kematianmu sungguh memesona!”

“Yang kubela kebenaran!”

“Ibu tahu!”

“Terhadap hal batil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham, dapat mengunyah batu menjadi lembut!” 2)

“Ya. Ya!”

“Kebenaran pasti menang!”

“Meski tidak lewat tanganmu!”

“Ibu …”

“Aku perlu melihatmu. Dan lagi, apa yang menghalangiku? Batang usiaku tak menjadi perintang untuk menjenguk anak yang gugur di medan perang!”

“Anakku, dengan begini tak pantas bagiku untuk jatuh dalam jurang kesedihan lantaran kematianmu. Sebagaimana engkau menjamu maut, aku pun turut gembira, dengan sepenuhnya kucerahkan wajahku!”

“Kelak, Ibumu akan menjadi saksi, tiada malam kau lewati tanpa linangan air mata. Tiada siang kau lewati tanpa shaum dan jihadun nafs!”

“Sejak kelahiranmu telah kau rontokkari fitnah sihir. Hingga sangat pantas kalau selera hidupmu terisi selera nabimu. Sebab dalam parumu telah terembus napasnya. Kekuatannya. Ketekunannya. Keteladanannya!”

“Kau kokoh bagai karang di lautan. Kau petir di lipatan awan. Kau obat dalam madu kehidupan. Kau pedang yang terus memburu musuh kebenaran!”

“Jangan malu dengan pakaian kematian seperti itu. Sungguh, Ibu bangga melihat dandananmu. Darah yang membelit tubuh bagai ular melingkar. Mengental di jurang takwa. Menyembul di puncak zuhud!”

“Dengan tubuh disalib seperti itu, tidak mengurangi kegagahanmu. Bahkan menambah wibawamu. Sedemikian hebatnya engkau, hingga musuh-musuhmu merasa perlu menghina dirimu dengan tindakan barbar seperti itu. Mereka punya tujuan jahat. Agar cemar namamu. Agar jatuh kebesaranmu. Namun bila engkau cahaya takkan pudar cahayamu. Ia akan tetap memancar meski dihadang dinding penghalang!”

“Pasak-pasak di tangan, kaki, dan lambung semakin memperindah kematianmu. Tentu dari pasak-pasak itu menyembur deras darahmu. Menyembur bagai lahar yang meletus dari perut gunung. Memerahkan langit. Memerahkan laut. Kehebatan kematianmu akan diingat sejarah. Dari generasi ke generasi!”

“Seperti Zakaria, nabi yang diburu kaum pendurhaka. Ketika ia munajat mohon perlindungan, sebatang pohon diperintahkan menjadi persembunyian. Maka segera terbelahlah pohon itu. Siapa yang menyangka dalam pohon yang tak ada cacat celanya tersimpan tubuh manusia!”

“Namun iblis dengan gemuruh kedengkiannya; memberitahukan rahasia. Lalu pohon itu pun digergaji. Mereka ingin membelah tubuh sang nabi menjadi dua. Dan tatkala gergaji itu sampai pada kepalanya, Zakaria menjerit; Aaah … !”

“Maka terjadilah gempa di kerajaan langit, sehingga dengan segera Jibril turun menemuinya, seraya berkata, ‘Ya, Zakaria bahwasanya Allah berfirman untukmu: bila engkau mengatakan sekali lagi “AH”, maka engkau akan dihapus dari daftar nabi-nabi!” 3)

“Karena kepatuhan dan rasa cintanya, ia tak mengaduh sedikit pun. Menyambut maut dengan gembira. Segembira orang yang hendak bertemu kekasihnya!”

“Juga Yahya. Nabi yang sangat takut kepada Tuhannya daripada rajanya. Hingga

dibayar mahal dengan mengorbankan nyawa. Ia disembelih. Kepalanya dijadikan hadiah bagi Salome, wanita durjana dan hina!”

“Kini, engkau pun mati tanpa mengenakan kepalamu. Tapi, tak usah malu. Tak

usah tunduk. Tatap ibu dengan semua kegagahanmu. Tetap tegak seperti tonggak. Biar saja kepalamu ditusuk tombak. Diacung-aeungkan ke udara. Dihina sampai sehina hinanya. Bila engkau bunga, harummu akan tersebar kemana-mana!”

“Ayo tatap Ibu. Jangan ragu. Jangan malu!”

“Tatap!”

Lelaki yang mengantarkan Ibu Tua itu, menunduk.

Debu gurun laksana bentangan sutera.

Halus dan teduh.

Ngawi, 2006

KETERANGAN:
1) Dikutip dari buku Karakteristik Perihidup 60 sahabat Rasulullah karya Khalid Muh Khalid. Alih bahasa Mahyudin Syaf, dkk (Kisah: Abdullah bin Zubeir)
2) sda
3) Dikutip dari buku Mengungkap 7 Rahasia Gaib karya Al Imam Asy Syaikh Abu Nasr Muhammad bin Abdurrahman al Hamdaany. Alih bahasa Adrus H Alkaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *