KEGELISAHAN TANDA HIDUP

Maman S. Mahayana *

Kegairahan hidup dan semangat yang meledak-ledak! Itulah kesan yang segera muncul ketika kita pertama kali dapat mengobrol dengan sosok Sitor Situmorang. Sebagai seorang Batak, ia sangat terbuka, lugas, dan gampang diajak bicara. Semalaman kita bisa dengan enteng berdiskusi, berdebat atau berbual-bual ke sana ke mari, jika ada topik pembicaraan yang diminatinya. Gaya dan sikapnya yang terkesan sangat egaliter itu, tidak jarang bakal menyeret kita pada pusaran masalah yang disodorkannya. Itulah sebabnya, mengobrol dan berdiskusi dengan seorang Sitor Situmorang, selalu memberi keasyikan dan pesona tersendiri. Jika tak berhati-hati, ia akan menghipnotis kita dengan masalah-masalah yang sebenarnya bukan masalah kita. Itu juga salah satu kepiawaiannya menyodorkan problem dirinya yang lalu digiring seolah-olah menjadi problem bersama.

Meskipun demikian, dalam hal tertentu atau jika ia punya masalah yang belum dapat diselesaikannya, Sitor juga terkesan seperti sengaja menyimpan misteri. Jika sudah begitu, sangat mungkin ia lebih suka memilih menyendiri, mengasingkan diri, menikmati sepi, atau asyik-masyuk dalam perjalanan kegelisahannya mencari. Itulah sosok pengelana yang terjerat oleh hasratnya yang tak pernah berhenti mencari. Dan ia akan terus melakukan itu dalam hiruk-pikuk keramaian atau dalam sepi yang membakarnya. Demikianlah, kesan yang samar-samar dapat kita tangkap dari sosok pribadi Sitor Situmorang, salah seorang penyair penting dan terkemuka di negeri ini.

Boleh jadi lantaran itu pula, ciri yang paling menonjol dari kepenyairan Sitor adalah gerak langkahnya yang seperti tiada pernah berhenti mencari. Periksalah puisi-puisi awalnya sebagaimana yang termuat dalam Surat Kertas Hijau (Jakarta: Dian Rakyat, 1985 (cet. III, Cet. I, 1953). Dikatakannya, “Kujelajahi bumi dan alis kekasih/ Kuketok dinding segala kota/Semua menyisih// Dalam kegelandangannya itu, lahirlah sikap yang justru sangat menentukan gerak langkah perjalanan hidupnya kemudian: Sejak itu sepakat kebuntuan/Jadi teman seperjalanan kekosongan/Dalam sajak mencari kepenuhan/Perang antara kesetiaan dan pengembaraan// (“Berita Perjalanan”)

Hampir semua puisinya dalam antologi itu mewartakan sebuah pencarian yang panjang. Dan sepi terasing menjadi bagian yang tak pernah lepas dari perjalanannya itu hingga kini. Dalam hal itulah, dapat dipahami jika kemudian A. Teeuw –di antara keterpesonaannya pada puisi-puisi Sitor—menyebutnya sebagai manusia penyair dari tiga zaman, tiga negeri, dan tiga bahasa. Inilah yang dikatakan kritikus asal Belanda itu dalam bukunya Tergantung pada Kata (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980: 32—33).

“Tiga zaman: sesudah Chairil Anwar, dia menjadi penyair Angkatan 45 yang terkemuka, dengan varian eksistensialisnya sendiri; lantar dia menonjol pula di zaman demokrasi terpimpin, dengan sajak yang … kehilangan sari kepenyairannya; kemudian, sesudah selingan delapan tahun terpaksa bungkam dalam tahanan, dia muncul lagi di panggung puisi Indonesia dengan arus sajak baru yang mewakili perkembangan baru ….

Tiga negeri: sebagai penyair Sitor menunjukkan tiga sifat orientasi geografi budaya: jelas dia penyair Batak, yang setiap kali kembali pada tanah asal. Sudah tentu dia penyair Indonesia pula, wakil negara … Dan akhirnya (atau awalnya; sebab Surat Kertas Hijau sebagian besar lahir dari “bumi Prancis”) dia penghuni Eropa, khususnya Prancis, tetapi pula Italia dan Belanda dan beberapa negeri lagi.”

Tiga bahasa: sudah tentu puisi yang dikarangnya terutama dalam bahasa Indonesia –tetapi sesudah pembebasannya dari tahanan, dia mencipta pula cukup banyak puisi dalam bahasa Inggris (The Rites of the Bali Aga) dan dalam bahasa Belanda.”

Pernyataan Teeuw itu tentu saja sangat beralasan. Bagaimanapun juga, sikap hidup Sitor yang ingin terus mencari dan menikmati kegelisahannya dalam sepi –yang dalam bahasa Sitor sendiri, ”kegelisahan tanda hidup”—menyeretnya pada sejumlah risiko yang harus dihadapinya. Dan Sitor bukan sosok manusia yang suka melepaskan diri dari tanggung jawab. Ia konsekuen atas pilihan hidup yang dijalaninya. Niscaya pula di dalamnya, termasuk sikap kepenyairannya. Dalam arti luas, sikap itu menjadi sebuah ideologi yang dianut dalam kehidupan berkesenian.

Sikap hidup berkesenian itu, tentu saja didasari oleh komitmennya terhadap perjuangan kebangsaan yang diyakini sebagai keharusan. Maka, di awal memasuki kehidupan berkesenian, selepas keterlibatannya di dalam pergolakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga ia ditangkap Belanda dalam agresi kedua dan kemudian dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta, ketika ia merasa ikut terpanggil memikirkan masalah-masalah kebudayaan, Sitor Situmorang dengan lantang membela konsepsi kesenian Angkatan 45.

Manakala keberadaan Angkatan 45 mendapat serangan dan tentangan yang secara tegas dikatakan Jogaswara, bahwa “Angkatan 45 Sudah Mampus” (Spektra, No. 1, Th. I, 1949), Sitor dalam artikelnya, “Konsepsi Seni Angkatan 45” (Gelanggang, 27 November 1949), justru menafikan pandangan itu. “Angkatan 45 tidak mampus, tetapi sungguh masih hidup segar dan lincah!” Jika bagi pelukis Affandi konsepsi seni Angkatan 45 itu sebagai “Peri-kemanusiaan” yang menurut Chairil Anwar, “human-dignity”, maka Sitor menerjemahkannya sebagai harga-diri manusia. Pembelaannya atas gagasan Chairil itu, jelas mencerminkan pandangan dan sekaligus sikapnya dalam berkesenian. Dari berbagai pandangan dan istilah yang berkembang berkenaan dengan konsepsi seni Angkatan 45 itulah, H.B. Jassin kemudian merumuskannya dengan istilah humanisme universal. Sebuah ideologi kultural yang menempatkan martabat manusia dan kemanusiaan sejagat sebagai dasar dalam perjuangan di lapangan kesenian dan kebudayaan.
***

Selanjutnya, Sitor Situmorang tidak lagi terlibat dalam simpang-siur perdebatan mengenai konsepsi seni Angkatan 45 lantaran ia pergi ke Belanda (1950) dan kemudian ke Prancis (1952). Tahun 1953 ia kembali ke tanah air sambil mengusung oleh-olehnya mengenai eksistensialisme. Ia hanyut dalam problem filsafat itu yang –sadar atau tidak—masuk dan menyelusup dalam tiga antologi puisi, Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah tak Bernama (1955), satu antologi cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan satu antologi drama Jalan Mutiara (1954).

Ketika kepengarangannya begitu penting dalam peta kesusastraan Indonesia masa itu dan karya-karyanya mendapat sorotan luas, Sitor kembali meninggalkan Indonesia untuk studi tentang film dan drama di Amerika Serikat (1956). Setahun studi di negeri Paman Sam itu (1956—1957), ia pulang ke Indonesia dan kemudian menjadi Pemimpin Umum harian Berita Indonesia dan Warta Dunia (1957) dan menjadi dosen di Akademi Theater Nasional Indonesia. Di samping itu, ia juga kemudian dipercaya menduduki jabatan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959). Boleh jadi karena berbagai kesibukannya yang cenderung rutin itu atau mungkin juga lantaran kemapanannya, sosok Sitor Situmorang seperti telah melupakan sikap hidupnya. Bahkan, belakangan, ia ikut hanyut dalam hingar-bingar kegiatan politik praktis. Di situlah kepribadian Sitor yang semula menyatakan “kegelisahan tanda hidup” seperti tenggelam. Ia condong mengabdikan diri pada hiruk-pikuk politik.

Perubahan pun terjadi. Ia tercatat sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak terelakkan, sikap berkeseniannya, juga mengikuti arus deras kehidupan politik. Tentu saja keadaan itu sangat besar pengaruhnya dalam diri kepengarangannya. Maka, karya-karyanya yang terbit ketika itu, sungguh tidak mewakili pribadi asli sosok pengelana yang tiada henti mencari atau seseorang yang senantiasa diterjang kegelisahan. “Kelincahan dan kemerduan yang tadinya terdapat dalam sajak-sajaknya diganti dengan bahasa bombastis dan slogan-slogan murah. Hal itu tampak sekali dalam sajak-sajaknya yang terkumpul dalam antologi Zaman Baru (1962),” begitulah komentar Ajip Rosidi (1976: 118) atas terjadinya perubahan kepengarangan Sitor Situmorang.

Politik agaknya memang sering kali mengubah sikap dan pandangan seseorang tentang sesuatu. Itu pula yang terjadi dalam diri Sitor Situmorang. Mengenai hal itu, perhatikanlah pendapat Subagio Sastrowardojo (1989; 202) berikut ini: “Sitor Situmorang pada dasarnya adalah seorang individualis, yang telah terbukti sanggup menciptakan sajak-sajak yang bagus dalam kumpulan-kumpulan sajaknya yang terdahulu, justru karena menyatakan dirinya secara jujur dalam sajak. Tetapi sekali ia berusaha melibatkan dirinya ke dalam kepentingan kolektif dalam ujud ideologi politik, agama, atau budaya, sajak-sajaknya lalu kehilangan keyakinan. Penyelaman dan penyatuan dirinya tidak bisa lebih dari lintasan permukaan.”

Tak hanya itu, Sitor Situmorang yang semula membela Chairil Anwar, kini hendak disisihkan. Dikatakannya, “Chairil Anwar adalah individualis tak bertanah air, kosmopolitan versi Indonesia. … Jadi, dapatlah dikatakan, bahwa Chairil Anwar adalah penyair yang dalam sikap maupun pengakuan adalah kosmopolitan yang tidak punya arti buat revolusi kita, kecuali sebagai dokumentasi tentang keasingan dan keisengan di tengah revolusi dan di tengah masyarakat sendiri. … Penamaan “Angkatan 45” oleh karenanya sepanjang dihubungkan dengan prestasi Chairil Anwar, makin tidak tepat lagi.” Begitu penegasan Sitor Situmorang dalam artikelnya, “Chairil Anwar dalam Alam Manipol” (Sastra Revolusioner. Lembaga Kebudayaan Nasional Daerah Jawa Barat, 1965; 30—31).
***

Tetapi, bukan Sitor Situmorang namanya jika ia berhenti mengalami kegelisahan. Maka, selepas ia dibebaskan dari tahanan politik (1966—1974), ia seperti menemukan dirinya kembali. Di dalam penjara, ia memang diam dalam pengertian yang “sediam-diamnya”. Dan seperti sikap hidupnya semula, “kegelisahan tanda hidup” Sitor pun diterjang oleh perasaan itu. Di sini terjadi lagi perubahan sikapnya dalam berkesenian.

Ketika ia dibelenggu ideologi politik, ia mengusung propaganda Sastra Revolusioner. Menurutnya, “suatu gagasan dan kegiatan kebudayaan yang basis sosialnya adalah pada perjuangan revolusioner, dengan sokoguru-sokoguru penyelesaian revolusi, sokoguru pembebasan rakyat: buruh dan tani… dan segalanya diabdikan kepada politik revolusioner …” (Sastra Revolusioner, hlm. 16), maka sikap dan pandangan mengenai sastra revolusioner itupun, dicampakkannya sejalan dengan kebebasan dirinya. Sitor kembali menjadi manusia pencari yang tak pernah berhenti, penggelisah yang menikmati kegelisahannya sebagai tanda hidup! Sitor pun kembali menggelandang.

“… kebebasan yang baru ditemukan Sitor sesudah delapan tahun terpaksa diam dan terasing, membuatnya mabuk dan mempunyai nafsu lapar untuk hidup, dan puisi menjadi salah satu kebutuhan hidup yang pokok, yang harus dipenuhi belaka. Curahan puisinya tidak hanya terbatas dalam bahasa Indonesia –ia juga menerbitkan sajak-sajaknya dalam bahasa Inggris … dan dalam bahasa Belanda. … Dorongan kreatifnya begitu kuat, sehingga Sitor bisa disebut … sebagai penyembur sajak,” begitu A. Teeuw (Sastra Indonesia Modern II, hlm. 112) melihat lahirnya kembali penyair ini.

Selepas itu, dari tangan Sitor Situmorang lahirlah sejumlah karyanya yang terasa begitu jujur dan lebih mencerminkan kembali sikap berkeseniannya semula: “kegelisahan tanda hidup!” Tercatat, beberapa karyanya yang penting: Dinding Waktu (1976), Angin Danau (1982), Bloem op enn Rots (1990), dan Rindu Kelana (1994).
***

Bagaimanapun, dalam perjalanan kesusastraan Indonesia, sosok penyair Sitor Situmorang, tetaplah punya tempat tersendiri. Dan karya-karya yang telah dihasilkannya, tidak hanya memancangkan tonggak-tonggak penting, tetapi juga mengungkapkan sikap kepenyairan dan berkeseniannya. Di luar persoalan itu, yang sungguh mengagumkan dari kesadarannya berkesenian adalah hasrat untuk tak berhenti menjalani proses belajar: Belajar sepanjang hayat!

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Komunitas Bambu beberapa tahun lalu, Sitor menyampaikan pengakuannya: “Guru spiritual saya tidak lain adalah Hamzah Fansuri! Dan saya banyak belajar dari penyair sufi itu.” Niscaya Hamzah Fansuri hanyalah satu satu saja dari sekian banyak guru spiritual lain yang memberi pencerahan pada kepenyairan Sitor. Boleh jadi karena itu pula, Sitor tak hendak menghentikan proses belajar. Tentu saja ia juga tak mau mencampakkan kegelisahannya, agar ia dapat terus berkarya. Maka, pantaslah jika sikap hidup Sitor cukup dinyatakan dalam satu kalimat: Kegelisahan tanda hidup! Kita tunggu saja karyanya yang mencerminkan sikap hidupnya itu!
***

*) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *