Membaca Pipa Air Mata

Romi Zarman
http://www.riaupos.com/

Hampir setiap koran di negri ini memiliki halaman sastra. Masing-masingnya tentu memiliki cara yang berbeda dalam mengapresiasi penulisnya. Ada yang mengapresiasi dengan cara memberikan honor yang layak bagi penulisnya. Ada yang mengapresiasi penulisnya dengan cara mengumpulkan sejumlah karya dalam satu buku. Kompas, misalnya, mereka menyeleksi cerpen-cerpen yang dimuat selama setahun dan mengumpulkannya dalam bentuk buku. Begitu pun puisi dan esai yang dimuat di rubrik ?Bentara?.

Belakangan Riau Pos juga mengapresiasi penulisnya dengan membukukan sejumlah karya. Adapun tahun 2008, Riau Pos mengumpulkan sejumlah cerpen yang pernah dimuat selama setahun dengan judul buku Pipa Air Mata. Dalam buku tersebut, terhimpun lima belas cerpen yang ditulis oleh berbagai pengarang. Selain dari Riau, buku tersebut juga menghimpun tiga cerpen dari pengarang Sumatra Barat dan daerah lain. Tentu hal itu mengindikasikan bahwa Riau Pos sangat diminati oleh pengarang-pengarang dari luar Riau. Bahkan, seperti dikatakan redaktur sastranya dalam buku ini, naskah-naskah yang masuk juga ada yang berasal dari Medan, Lampung, Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Semarang, dan Kudus, dll.

Adapun kelima belas pengarang itu adalah, Deddy Arsya, Eddy Akhmad RM, Fakhrunnas MA Jabbar, Fariz Ihsan Putra, Gde Agung Lontar, Hary B Kori?un, Joni Lis Efendi, M Badri, Mohm Amin MS, Pinto Anugrah, Olyrinson, Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, Sultan Yohana, dan Yetti A KA. Kelima belas pengarang di atas terdiri dari berbagai generasi. Ada Fakhrunnas, selama tahun 2008 saya juga membaca cerpen-cerpennya di sejumlah koran nasional. Ada Hary B Kori?un, karyanya yang paling kuat menurut saya adalah Nyanyian Batanghari (lihatlah bagaimana pengarangnya berhasil mengolah karakter Martinus Amin dengan jalinan cerita yang apik). Ada Yetti A KA, dengan bahasa yang puitik ia mengolah cerita, walau di beberapa cerpennya kita melihat adanya alur yang agak samar.

Cerpen pertama dari buku ini adalah karya Deddy Arsya, dengan judul ?Kurir Peluru?. Ia bercerita tentang seorang kurir yang bertugas sebagai pengantar peluru semasa terjadinya perang saudara. Saya pikir cerpen ini berhasil tanpa melibatkan tendensi cerita. Lihatlah ceritanya yang berlatar perang. Perang saudara yang dimaksud pengarang adalah perang antara Pusat dan PRRI/Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), yang terjadi di Sumatra Tengah antara tahun 1958-1961. Secara historis, perang saudara itu merupakan bentuk ketidakmampuan Jakarta untuk menerima kritik dari daerah. Saat itu daerah melancarkan kritik pada pusat. Akan tetapi, kritik itu dibalas dengan senjata. Padang dibombardir. Tentara Pusat merajalela. Permerkosaan dan penindasan terjadi di mana-mana. Efek dari semua itu adalah trauma yang sangat mendalam. Orang Minang disebut pemberontak. Dan lebih pedihnya lagi, Ahmad Yani, diberi gelar pahlawan oleh Jakarta. Sebagai seorang komandan operasi pada saat itu, Yani tak pernah dimintai pertanggungjawabannya atas jatuhnya korban dari kalangan sipil yang tak bersalah.

Tentu saja bila kita membaca latar cerpen itu akan membuat kita sedikit emosi. Akan tetapi, pada bagian inilah pengarangnya berhasil merangkai kisah. Tanpa tendensi, pengarangnya berhasil menggambarkan sosok manusia pandir dalam jalinan kisah yang apik. Bahasanya terang. Alurnya jelas, dengan sudut pandang orang pertama. Sekilas teknik cerpen ini mengingatkan kita pada teknik cerpen ?Rubuhnya Surau Kami?.

Cerpen kedua dalam buku ini adalah ?Pil-Kadal?, karya Eddy Akhmad RM. Bercerita tentang seorang anak yang hendak maju dalam pemilihan gubernur. Akan tetapi, ketakutan segera merayapi ayah kandungnya. Tokoh Ayah dapat digolongkan sebagai potret masyarakat kecil dengan tetap mempertahankan prinsip dan idealisme. Pada bagian awal cerpen ini, melalui tokoh Ayah, pengarang menyuarakan suara komunal tentang kegundahan masyarakat dalam setiap pemilihan gubernur. Lihatlah logika yang digunakan pengarangnya… paling sedikit setiap calon harus memiliki uang Rp.150 miliar. Ke mana hendak mencari uang sebanyak itu?… Kalaulah Ahmad melakukan hal yang sama seperti dilakukan calon lain… mau jadi apa negri ini? (hal. 11). Untunglah pengarangnya tidak terlalu hanyut dengan kegundahan itu. Di pertengahan cerita, pengarangnya mulai menarik cerita ke dalam konflik. Konflik itu terjadi ketika tokoh Ayah membaca di sebuah koran bahwa anaknya mundur dari pencalonan gubernur dikarenakan tidak mendapat restu dari orangtua. Tentu saja Ayahnya tersentak karena ia tak pernah melarang anaknya. Pada bagian inilah konflik antara Ayah dan anak mulai terjadi.

Cerpen Fakhrunnas, ?Kiamat Kecil di Sempadan Pulau?, berkisah tentang sebuah kota pelabuhan yang dilanda bencana karena merajalelanya perbuatan maksiat. Saya pikir, cerpen ini memiliki ruang tersendiri sehingga tidak heran kenapa ceritanya agak terasa bertenden. Sejauh pengamatan saya atas cerpen-cerpen Fakhrunnas, cerpen ini agak berbeda dari cerpen-cerpennya yang lain. Biasanya cerita digerakan oleh alur, dialog yang padu serta didukung dengan suasana yang menggigit.

Cerpen ?Simpul?, karya Fariz Ihsan Putra, bercerita tentang detik-detik kematian seorang presiden. Penyajian ceritanya sangat apik. Lihatlah bahasa yang digunakan pengarangnya, sangat detail dan penuh sebab-akibat. Ia bercerita dengan sabar dan memiliki alur yang terang. Tidak seperti ?Sejarah Sungai Darah?, karya Gde Agung Lontar. Meminjam istilah Raudal, cerpen ini adalah cerpen ?gumam? bila dilihat dari bahasa yang digunakan. Tidak adanya alur yang jelas dan ditambah lagi dengan bahasa yang cendrung metaforik menyebabkan pembaca sukar memahami cerita. Padahal bila ditelisik secara seksama, maka tokoh cerpen ini hanya bergumam tentang silsilah sebuah sungai. Sekilas pengarangnya nampak ingin bereksperimen. Hal itu terlihat dari minumnya tokoh cerita dan adanya beberapa suku kata yang mengganggu keutuhan sintaksis, seperti ?perlelahan?, ?terkekejut?, ?memarah? dan ?memasing? (saya kira keberadaan kata-kata ini perlu dipertanyakan secara morfologis).

Cerpen keenam adalah ?Cinta Ibu?, karya Hary B Kori`un. Cerpen ini menggambarkan kegetiran hidup di Tongar, Pasaman Barat. Saya kira Hary sangat memahami benar kondisi masyarakat Tongar. Tidak hanya pada cerpen ini. Dalam Nyanyian Batanghari pun ia juga berkisah tentang Tongar dengan segala kompleksitas persoalannya. Bahkah, jauh-jauh hari, Hary telah melakukan penelitian dalam bentuk skripsi atas kasus Tongar di Pasaman Barat. Tentu saja data-data itu akan semakin membantukannya dalam berimajinasi.

Lihatlah tokoh Aku dalam cerpen ini. Ceritanya mengalir lancar, mengisahkan seorang ibu yang tetap setia menunggu suaminya tiba dari Suriname. Kesetiaan itu terus dipertahankannya hingga akhir hayatnya. Cerita ini tidak hanya menceritakan tentang penantian seorang istri, melainkan juga bercerita tentang tragisnya kehidupan masyarakat Tongar. Lihatlah pada akhir cerita. Kuburan sang ibu diratakan dengan tanah dan dijadikan ladang sawit oleh pihak perkebunan. Sesuatu yang benar-benar tragis di negri ini!

Sementara, cerpen ?Teman Kecil?, Yetti A KA, juga bercerita tentang seorang ibu. Ia kecewa pada anaknya karena telah menghamili seorang perempuan. Seperti biasanya, bila kita perhatikan sejumlah cerpen Yetti, maka ceritanya sering berpusar pada tema-tema keluarga, dengan jalinan bahasa yang puitik dan terkadang dengan menyamarkan alur cerita.

?Pipa Air Mata?, karya M Badri, yang menjadi judul buku ini, bercerita tentang sebuah kampung di tengah hutan, yang diberangus oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Pengarangnya berhasil mengolah data jadi cerita yang memikat. Lihatlah bagaimana Badri membangun cerita dengan alur yang terang. Mampu membangkitkan emosi pembaca. Seperti halnya juga dalam ?Bakau Sungai Tanjung?, Sobirin Zaini. Dengan suasana yang mencekam, pengarangnya juga berhasil membangun cerita jadi memikat dengan latar yang sama-sama dunia Melayu. Sementara ?Hujan dan Pertemuan?, berkisah tentang seorang pelacur. Mohd Amin MS, melalui cepen ?Menjadi Kutu?, bercerita tentang seorang tokoh aku yang menjadi kutu. Cerpen ini bersifat simbolis. Lihat saja dari judulnya: Menjadi. Dan proses menjadi kutu itulah yang ditampilkan oleh pengarangnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *