Menunggu Sambil Membaca Sajak

Denny Mizhar

Keheningan menghampiriku di perjamuan ruang tunggu. Aku terus berdiri dengan harap, kau datang membawa sepucuk senyum yang hilang dariku. Sebab lelah memandang masa lalu, tak juga mau pergi. Kenangan-kenangan pahit menyelinap dalam hari-hariku.

Dalam ruang tunggumu aku ibarat petani yang menanti musim panen tiba. Menunggu sambil memupuk bibit-bibit dan tunas-tunas muda yang ditanam di sawah-sawah, ladang-ladang atau perkebunan. Berharap esok ketika panen, hasil dapat melimpah ruah.

Menunggu kadang kala ketika menjumpai yang ditunggu harus melewati halang dan rintangan. Hal itu dialamai petani bila banjir datang, bila musim wereng dan tak dapat diusir, bila kebutuhan air kurang maka kegagalan panen akan menimpah dan pastinya petani dirundung susah.

Tetapi menunggu bagiku adalah keindahan. Karena di dalamnya aku bertemu dengan keresahan, kadang kala keputus asaan yang harus cepat aku hapus sebab aku tak mau putus asa. Jika waktu yang ditentukan usai maka akan menjadi kekesalan.

Yang aku tunggu ini adalah menunggu cinta yang aku tanam dalam diri gadis bermata lentik. Waktu pun tak ada batas kapan ia membawa bunga-bunga dari hatinya buatku.Dalam kondisi yang begini aku suka membaca sajak:

Ikutlah aku, aku berkata, dan tak seorang pun tahu
kemana, atau bagaimana kesakitanku berdeyutan,
tak ada anyelir atau kidung para pendayung untukku,
hanya secercah luka yang telah dibuka oleh cinta.

Aku berkata lagi: Ikutlah aku, seakan aku sedang sekarat,
dan tak seorang pun memandang rembulan yang berdarah di mulutku
atau darah yang bangkit dari kesunyian.
O kekasih, kini kita bisa melupakan bintang yang punya begitu banyak duri!

Karena itulah, saat aku mendengar suaramu berulang
Datanglah padaku, seolah engkau membiaskan lepas
lara, cinta, kegeraman anggur yang tersumbat tutup botolnya

air mancur panas turah dari kedalamannya dan menyembur:
di mulutku aku rasakan saripati api kembali,
dari darah dan anyelir, dari darah yang mendidih.

(Soneta VII,Ciuman Hujan, Pablo Neruda penyulih Tia Setiadi, penerbit Madah 2009 Yogyakarta)

Sajak di atas pas dengan aku yang sedang menunggu dan tak kunjung datang. Rasa kesakitan yang bergelora dalam keheningan karena berkali-kali mengajak tak juga terpenuhi harapan. Sekali terpenuh meletuplah keresahan akan gelisah harapan. Ah, membaca soneta Neruda di atas hatiku bergelora berharap cepat dapat menemui jawab atas tanya cinta.

Aku suka sekali Neruda, dengan bermainya luka dan dara dalam tubuh dibedah dijumputi letak letak sarang-sarang resah. Rembulan pun dijadikan tidak seindah orang kebanyakan pandang mata sebab harus dimasukkan ke mulut (apakah ini perasahaan orang jatuh cinta bisa jadi apa saja dilakukan untuk mempertahankan cintanya) begitupun bintang yang punya duri, ah bayangan-bayangan dalam sajak Neruda ini menjadikan perasaanku lebih bergelora menanti cinta dari si mata lentik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *