Nephilim

Saroni Asikin
http://suaramerdeka.com/

HANNA tersenyum getir ketika bidan yang membantu persalinan mengatakan bayinya orok laki-laki yang tampan. Ia sudah tahu itu. Ini bayi kelima yang lahir dari rahimnya, dan semuanya laki-laki.

Ia juga tahu bahwa dari rahimnya masih mungkin lahir bayi lelaki keenam, ketujuh, kedelapan, kesepuluh, atau lebih dari itu. Selama perang saudara bangsa Aurelis memperebutkan Makhazareel belum berakhir, rahimnya harus siap menjadi wadah benih aurelis muda Danyael, utusan salah satu kubu aurelis pimpinan Mahakael. Tanpa memberikan alasan apa pun, juga tanpa meminta kesepakatan Hanna, aurelis muda Danyael mengatakan bahwa Hannalah manusia wanita pilihan kubu Mahakael untuk melahirkan makhluk setengah-manusia setengah-aurelis, dengan benih darinya.

Makhluk campuran itu harus diberi nama Nephilim. Para aurelis itu begitu yakin, bahwa makhluk mulat manusia-aurelis bernama Nephilim itulah yang bisa meredam perang saudara di antara kaum mereka. Semakin banyak Nephilim lahir, semakin cepat perang keji itu reda.

Pada awalnya Hanna begitu bangga menjadi manusia wanita yang dipilih rahimnya oleh kaum aurelis. Memang, sehabis bercinta untuk kali pertama dengan Danyael, dan pemuda itu mengatakan dirinya adalah bangsa aurelis, Hanna begitu terkesiap.

Sepanjang pengetahuannya, bangsa aurelis adalah makhluk yang memiliki wujud berbeda dengan dirinya sebagai manusia. Walaupun tidak bisa dibedakan menurut jenis kelamin, tetapi dalam pemahaman sebagian besar makhluk manusia, mereka berjenis kelamin laki-laki. Tubuh mereka memiliki sayap berwarna putih hingga mereka bisa terbang. Mereka biasanya sering digambarkan berselubungkan awan dengan pelangi di atas kepalanya dan muka bagaikan matahari. Tangan-tangan mereka sering memegang harpa, sangkakala ataupun seruling, dan kakinya panjang bagai tiang api.

Sebagian bangsa manusia bahkan memercayai bahwa makhluk aurelis itu bisa menyerupa apa saja. Mereka bisa menyerupa sebagai burung merpati, belibis, kijang, kuda putih, sosok lelaki tua, atau apa saja. Tidak setiap orang dalam bangsa manusia bisa melihat sosok mereka. Dan yang terpenting dari keberadaan makhluk aurelis itu, mereka menjadi simbol kedamaian, keteduhan, dan kebaikan. Dan tugas mereka memang menjaga kebaikan di bumi tempat Hanna tinggal.

Maka pada saat Danyael menguraikan jati dirinya, Hanna tak mau begitu saja percaya. Bagaimana mungkin makhluk penjaga kebaikan, makhluk simbol kedamaian itu malah saling berperang? Begitulah pertanyaan Hanna. Lagi pula Danyael yang baru saja menyenggamainya sama sekali tidak memiliki sayap. Ia juga melihat kedatangan Danyael di gerbang rumahnya tanpa selubung awan dan pelangi di kepalanya. Memang Hanna mengakui dirinya sangat terpesona ketika melihat pemuda itu berdiri di gerbang rumahnya, tersenyum, bergerak pelan menuju pintu, lalu begitu saja mereka bercinta.

Sehabis percintaan yang terjadi begitu saja itu, Danyael mengatakan dirinya adalah makhluk aurelis. Dan demi melihat Hanna bersikeras tidak percaya, makhluk itu menyuruhnya memejamkan mata. Ketika Hanna membuka mata, di depannya sesosok makhluk tampan dengan sayap putih yang mengembang tengah mengambang di udara. Tubuhnya berselubung awan dengan pelangi di kepalanya. Keringat dingin segera merembang di sekujur tubuh Hanna.

“Hanna, kamu memang telah kami pilih untuk melahirkan makhluk dari jenismu dan jenis kami,” berkata Danyael padanya, “Kamu akan melahirkan makhluk lelaki yang akan kauberi nama Nephilim. Menurut nubuat bangsa kami, dialah yang akan jadi juru damai bagi perseteruan kami. Maka kamu harus rela, suatu hari kamu akan kehilangan anak itu. Kamu akan melahirkannya, merawatnya, membesarkannya hingga usia sekolah, dan pada saat anakmu itu berangkat sekolah yang kali pertama, ia tak akan kembali padamu. Saat itu ia kami ambil ke dunia kami, lalu aku akan datang lagi padamu, menyemaikan benih lagi, dan kau akan melahirkan Nephilim lagi. Kalau perang telah berhenti, aku tak akan mendatangimu lagi. Tugasmu melahirkan Nephilim sudah selesai.”

Ya! Pada awalnya Hanna begitu bangga. Dia merasa mendapat kemuliaan melahirkan para penyelamat bangsa Aurelis. Itu artinya, dia berperan mengembalikan para penjaga kebaikan bumi itu bisa melakukan tugas mereka seperti sebelum mereka saling berperang.

Tapi kelahiran Nephilim kedua, ketiga, keempat, dan kini yang kelima, bagi Hanna telah menjadi rutinitas semata. Tidak ada lagi kebanggaan. Dan pada saat-saat tertentu, Hanna merasa hidupnya telah berhenti hanya sebagai tempat singgah bangsa Aurelis. Ia seperti kebun buah, tempat menyemai benih, menumbuhkan pohon, dan ketika buahnya setengah masak, pemiliknya datang memetik dan memilikinya sendiri, lalu ia disemai lagi, menumbuhkan lagi, menghasilkan buah, dipetik, disemai lagi, menumbuhkan lagi, dipetik lagi…..

Setelah percintaan pertama dengan Danyael, dia mengandung, lalu melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Nephilim. Ia merawat Nephilim pertama itu seorang diri, membesarkannya hingga usia sekolah, mengantar anaknya pergi ke sekolah hingga di gerbang rumahnya, lalu sang anak tak kembali ke rumah. Malamnya Danyael datang sambil berkata bahwa Nephilim kini telah kembali ke bangsa bapaknya dan diasuh oleh Zarafael. Mereka bercinta kembali malam itu. Maka Hanna hamil, lalu melahirkan Nephilim kedua; lalu ritual yang sama harus dijalani Hanna, lalu Nephilim ketiga, lalu Nephilim keempat, dan kini Nephilim kelima.

Ada yang berbeda saat Hanna mengandung Nephilim kelima. Ada yang masih mengganjal dalam diri Hanna. Itu membuatnya sangat kesakitan ketika melahirkan yang kelima ini. Pasalnya, Danyael tak mau mengakui bayi ini sebagai Nephilim, anaknya.

Hanna mengingat dengan pedih saat-saat sehabis percintaannya yang kelima dengan Danyael. Malam itu, selepas siangnya Nephilim keempat tak kembali ke rumahnya, seperti empat kali sebelumya Danyael datang dan mereka bercinta. Beberapa saat setelah Danyael terbang, (hal yang selalu terjadi setelah persetubuhan mereka dan ia baru kembali untuk menyemai benih baru beberapa tahun lagi), Hanna bersiap-siap tidur. Tapi ketika dia hendak masuk ke kamarnya, Danyael muncul lagi. Tentu saja hal itu tidak biasa. Hanna mengira, barangkali ada sesuatu yang terlupa oleh Danyael.

“Bukankah kau sudah datang dan kita baru saja bercinta?” tanya Hanna.

Danyael terkejut. Saat itu baru kali pertama Hanna melihat muka kekasihnya tak seteduh biasanya.

“Apa? Kamu mengada-ada, Hanna. Aku baru saja sampai dan hendak menyampaikan padamu kalau anak kita kini telah berada di tempat kami.”

“Lalu, tadi siapa?”

Mendadak sayap Danyael mengembang. Dia bersiap-siap terbang dan berkata sambil mengambang, “Ah, celaka, Hanna! Kamu telah diperdaya. Rupanya mahkluk bangsa Dajjalis telah memperdaya kamu. Oh, Hanna, Hanna, tahukah kamu bahwa kami berperang juga karena tipu daya makhluk bangsa itu. Mereka menginginkan Makhazareel, lalu mengobarkan api permusuhan di antara kami bangsa Aurelis. Kami juga terpedaya oleh mereka. Oh, celaka, celaka, Hanna! Kamu tak akan melahirkan Nephilim. Kamu akan melahirkan makhluk celaka. Kelahiran makhluk itu akan menjadi penghalang perdamaian kami.”

Hanna tercengang. Ia tak percaya sama sekali. Ia begitu yakin bahwa yang baru saja bercinta dengan dirinya adalah Danyael, ayah Nephilim-Nephilimnya. Kuduknya meremang ketika membayangkan bahwa dirinya mengandung benih makhluk Dajjalis, makhluk yang menjadi perusak buminya.

“Lalu kau akan membunuh benih ini?” tanya Hanna.

“Itu tidak mungkin! Makhluk itu tak akan pernah bisa mati walau kami bunuh jutaan kali. Celaka, celaka, Hanna! Aku harus segera menemui Mahakael.”

Makhluk aurelis bersayap putih itu terbang. Hanna termangu dan tetap tidak percaya. Dia begitu yakin akan melahirkan Nephilim.

***

WALAU Hanna masih yakin Nephilim kelima ini anak Danyael, ada hal-hal aneh pada diri anaknya itu yang tidak pernah terjadi pada keempat anaknya yang kini hidup di alam Aurelis. Kadangkala ia ingin membenarkan perkataan Danyael bahwa Nephilim yang ini bukan benih makhluk aurelis.

Anaknya yang ini makan dengan sangat rakus hingga saat usianya tiga bulan, tubuhnya sudah sebesar anak usia enam tahun dan sudah bisa berjalan. Pada usia satu tahun, tubuhnya sebesar anak usia tiga belas tahun. Perangainya pun bersebalikan dengan Nephilim-Nephilim sebelumnya yang tenang, tak pernah merengek-rengek meminta sesuatu, serta lembut dalam bertutur-sapa. Yang satu ini memiliki perangai yang rakus, suka merengek meminta sesuatu, gemar menyakiti serangga, dan beberapa kali memukuli ibunya kalau permintaannya tak diturut.

Hanna juga merasakan sesuatu yang berbeda ketika mereka berdua-duaan dengan anaknya. Ia dicekam rasa cemas dan takut. Dan pada usia anaknya lima tahun, tubuh dan parasnya seperti pemuda usia dua puluh tahun. Dan inilah saat malapetaka itu datang pada Hanna.

Suatu malam, Hanna diperkosa olehnya. Hanna berusaha melawan, tapi tenaganya kalah kuat dengan anaknya. Hal ini terjadi berulang kali. Selepas memperkosa ibunya sendiri, Nephilim pergi beberapa hari dan pulang dalam keadaan mabuk, lalu memperkosa ibunya lagi. Betapa sedihnya Hanna mengingat seharusnya pada usianya yang kelima itu, Nephilimnya akan bersekolah dan ia akan kembali ke rumah bapaknya, lalu Danyael yang dia tunggu-tunggu selama lima tahun ini akan muncul lagi.

Lebih pedih lagi ketika Hanna menyadari ada gumpalan darah yang berendam dalam rahimnya. Ia mengandung benih dari nutfah anaknya sendiri. Ia menangis pilu dan memanggil-manggil nama Danyael. Kesedihan dan kepiluan Hanna semakin tak tertanggungkan ketika melihat kandungannya yang baru berusia dua bulan itu menyerupai usia kandungan sembilan bulan. Betapa ia tak ingin melahirkan bayi yang dikandungnya!

Maka pada suatu tengah malam, tanpa bantuan bidan atau orang lainnya seperti lima kelahiran sebelumnya, Hanna melahirkan bayinya dengan sangat kesakitan. Tangis Hanna melengking tinggi ketika tahu ia melahirkan dua puluh lima makhluk kecil sebesar kepalan tangannya. Mereka secara serempak menangis keras-keras. Ia tidak bisa mengenali jenis kelamin mereka, karena masing-masing memiliki dua alat kelamin, laki-laki dan perempuan. Mereka terus-menerus menangis, lalu berebutan menyusu. Dengan sisa-sisa tenaganya sehabis kelelahan melahirkan, Hanna berusaha menepis mereka yang berebutan air susunya. Ia tak ingin memberi kehidupan pada mereka. Ia tak ingin mengakui bahwa mereka adalah anaknya.

Tapi barangkali memang sudah habis keterkejutan Hanna hingga dia tak bereaksi apa-apa manakala bayi-bayi yang baru lahir itu telah mampu merangkak-rangkak dan mengerubuti dirinya. Hanna kelelahan, dan sebelum jatuh pingsan, matanya seperti melihat suatu horison yang asing…

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit: dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkanNya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhtaNya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

Maka timbullah peperangan di surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.)*

Hanna siuman dari pingsan dan matanya menangkap tiga sosok makhluk bersayap putih tengah mengelilingi dirinya. Danyael dan dua makhluk aurelis yang tak dikenalnya. Tidak seperti kedatangannya pada masa-masa lalu, wajah Danyael begitu muram, juga kedua makhluk di sampingnya.

Danyael berkata padanya, “Hanna, akhirnya terjadi, bukan? Kamu telah diperdaya makhluk dajjalis. Kini bersamamu ada dua puluh enam makhluk itu. Dalam waktu singkat mereka akan berkembang biak dengan cepat. Itu artinya semakin lama kami harus menunggu waktu perseteruan kami ini berakhir. Aku datang bersama dengan Mahakael dan Zarafael. Kami hendak mengucapkan selamat berpisah padamu, karena kami harus mencari manusia wanita lainnya untuk melahirkan Nephilim-Nephilim baru. Apa boleh buat, Hanna, rahimmu telah sangat nista.”

Lalu ketiga makhluk aurelis itu terbang, sementara di pintu rumahnya segerombolan anak-anak kecil berebutan masuk. Bagaimana mungkin anak-anaknya yang baru beberapa jam yang lalu dia lahirkan hanya sebesar kepalan tangannya itu kini telah tumbuh serupa anak usia tujuh tahun? Maka Hanna memejamkan mata dan tak ingin bertanya-tanya lagi. Ia tak ingin peduli pada apapun lagi. Kini ia merasa tidak lagi hanya menjadi sebuah kebun buah melainkan tanah jajahan yang sudah tak bermanfaat lagi.

Catatan:
Cerpen ini diilhami oleh kisah dalam film Prophecy II
*) Petikan dari Kitab Wahyu 12:1-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *