Olin Pergi ke Bulan

M Arman Az
http://www.sinarharapan.co.id/

?Selamat pagi, Olin.? ?Selamat pagi juga, Cimot.? ?Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak??
?Ya, Cimot. Semalam aku mimpi indah.?
?Oya? Mimpi apa? Ceritain, dong.?
?Mmm, aku ketemu peri cantik. Dia membawaku terbang ke langit, Cimot. Kami tamasya ke tempat-tempat yang indah. Banyak anak-anak sepantarku sedang menyanyi, menari, dan bermain di setiap tempat.?
?Wah, asyik dong. Lalu??
?Terus, dia janji akan mengajakku ke istananya di bulan. Aku bebas mau ke mana saja. Katanya, di bulan tak ada tempat untuk air mata dan duka nestapa. Kamu nanti ikut, ya. Aku boleh mengajakmu, kok. Dia juga janji akan mendongeng untuk kita.?
Begitulah Olin. Sejak orang-orang dalam rumah itu sibuk masing-masing, Olin pun hanyut dalam dunianya sendiri. Dibangunnya masa kanak-kanak dengan imajinasi, seperti membangun istana pasir di pantai. Tak pernah sedih meski ombak menyapunya.
Bocah empat tahun itu memang beruntung. Dia terlahir dalam keluarga serba ada, yang tidak dijangkiti kecemasan meski negaranya jatuh melarat. Mau makan, tak perlu bersungut karena harga-harga mahal. Apalagi antre berjam-jam di bawah terik matahari demi sekilo dua kilo beras.
Tengok saja kamarnya. Cermin keluarga modern penghuni kota besar. Meja belajar dan perangkat komputer lengkap. Lemari berhias ukiran di pesan langsung dari Jepara. Isinya aneka macam boneka. Saking banyaknya, sebagian yang tak muat di lemari di susun di pojok kamar atau dibiarkan tergeletak di spring bed. Sejajar dengan ranjang ada televisi plus play station. Belum lagi AC yang siap melindungi Olin dari terik. Surga yang nyaman untuk seorang bocah.
Olin berjingkat menuju jendela. Rambut ekor kudanya bergoyang-goyang. Jemarinya menjulur, membuka lebar-lebar daun jendela. Angin dan sinar matahari pagi menyeruak masuk. Dia bertengger di jendela sambil menjulurkan kepala. Sekonyong-konyong roman muka Olin keruh, menatap pagar tembok yang tingginya menyaingi atap rumah. Membosankan! Sudah lama Olin penasaran. Seperti apa dunia di balik tembok tinggi itu? Pernah terpikir olehnya untuk bertemu Doraemon dan meminjam baling-baling bambunya, agar bisa terbang melihat kehidupan lain selain ruangan yang kelak saat ia dewasa, akan dikenangnya sebagai penjara.
Bola matanya bergerak lincah. Di bawah sana ada Mang Parmin. Tukang kebun rumah itu sedang memperbaiki pancuran air yang rusak sejak tiga hari lalu. Olin tersenyum melihat gerak-geriknya.
?Kenapa tersenyum, Olin? Ada yang lucu di luar sana??
?Hihihi, Mang Parmin basah kuyup, Cimot. Mang Parmin! Jangan main air! Nanti sakit!?
Mang Parmin menoleh ke arah jendela. Tersenyum pada tuan putrinya, lalu berteriak menyuruh Olin turun, menemaninya memperbaiki pancuran air.
?Kita turun, yuk, Cimot?!?
?Ayo! Kita main di taman!?
Tangan mungil Olin meraih tangan Cimot. Memeluk dan membawanya ke taman belakang rumah. Matahari minggu pagi bersinar ramah. Cahayanya menyepuh daun-daun.

***
Untuk bocah seukuran Olin, apa yang tercetus dari mulutnya, kadangkala di luar batas kewajaran anak kecil. Orang bisa terkaget-kaget mendengar kepolosannya. Zaman telah berubah. Makanan bergizi, informasi yang mudah dijangkau, teknologi canggih, dan otak yang encer, bersekutu membentuk Olin yang pemikirannya dewasa secara prematur.
Pernah suatu pagi Bik Lasmi belingsatan dan mukanya bersemu merah. Itu terjadi setelah malamnya, Olin memergoki Winda, kakak perempuannya yang sudah SMU, duduk berdempetan dengan seorang mahasiswa di gazebo belakang rumah. Suasana memang remang-remang, tapi mata bening Olin tak bisa dikelabui. Dengan nada polos, dia bertanya pada Bik Lasmi. Sebuah pertanyaan singkat: ?Kenapa orang pacaran meremas-remas dada, Bik??

***
Rumah megah itu kehilangan jiwa. Penghuninya seperti orang asing yang kebetulan bertemu di jalan. Berpapasan tanpa tegur sapa lalu melengos membawa wajah-wajah kaku mereka. Kesibukan memang menuntut pengorbanan. Untuk itu mereka memilih jarang pulang dan persetan dengan keadaan keluarga.
Suatu hari, Olin hilang. Seisi rumah panik dibuatnya. Bagaimana mungkin anak sekecil Olin bisa raib begitu saja? Jangankan tanda-tanda telah terjadi penculikan, secuil jejak kekerasan pun tak ditemukan di setiap jengkal rumah itu.
?Apa? Tidak mungkin! Bagaimana Olin bisa hilang? Cari sampai ketemu!? itulah bentakan pertama yang melompat dari mulut nyonya rumah. Roti yang tinggal beberapa senti di depan mulut yang menganga, diletakkannya lagi di piring. Matanya melotot tajam menatap Bik Lasmi. Perempuan tua itu telah merusak suasana paginya. Buru-buru dia menghubungi suami, dan anak-anak.
?Maaf, Nyonya, sudah saya cari ke mana-mana, tapi Neng Olin nggak ketemu juga.?
Ke mana anak itu? Tak ada yang tahu. Sepasang majikan dan dua tuan muda itu bingung. Apalagi Mang Parmin dan Bik Lasmi, suami istri yang dilimpahkan tanggung jawab penuh mengurus tetek bengek rumah. Rasanya mustahil Olin melarikan diri. Semua yang dibutuhkannya tersedia di rumah. Lantas, apa atau siapa yang menyebabkan Olin hilang?
Mang Parmin susah payah menyembunyikan rasa gugupnya. Dia menyimpan rahasia yang bisa jadi petunjuk hilangnya Olin. Tapi, sungguh tidak masuk akal kalau menceritakan kejadian semalam. Dia mendengar Olin ngobrol dengan seseorang. Persisnya bukan seseorang, tapi Cimot, boneka perempuan yang kumal namun begitu disayangi Olin. Mang Parmin masih ingat apa yang didengarnya semalam. Olin berkeluh kesah pada Cimot tentang peri yang tak kunjung datang menjemput. Tentang bulan. Tentang istana dan taman yang indah. Juga tentang niatnya untuk mencari peri dalam mimpinya yang berjanji mendongengkan cerita.
Mang Parmin membayangkan ia ceritakan hal itu pada tuannya. Mereka pasti keheranan mendengar cerita nonsens itu. Mungkin mereka akan menganggapnya telah berbohong. Lalu bisa saja ia di tuduh berkomplot menculik Olin, lalu minta tebusan. Bahkan, yang lebih parah, ia dan Bik Lasmi psati dipecat majikan mereka.
Mang Parmin tersiksa. Dorongan yang memaksanya untuk bercerita, sama berat dengan hasutan untuk tetap bungkam. Apa yang harus dilakukan, membuat Mang Parmin seperti bertumpu di ujung tanduk.

***
Sudah berminggu-minggu pencarian dilakukan. Sudah banyak usaha di tempuh. Menebar berita kehilangan Olin ke media massa, juga minta bantuan orang pintar. Barangkali dengan kemampuan yang dimiliki, mereka ada petunjuk di mana Olin berada. Tapi kesimpulannya sama saja. Nihil. Olin seperti raib di telan bumi.
Lambat laun, perasaan duka yang memayungi rumah megah itu pudar digerus waktu. Kesibukan menghisap mereka. Papa Olin yang pasrah dengan nasib anaknya kembali menggeluti bisnisnya. Mamanya disibukkan dengan butik dan sanggar senam yang baru diresmikan. Kakak lelaki Olin tersesat di dunia hura-hura. Kakak perempuan Olin makin tuman gonta-ganti pasangan. Mereka seperti tak merasa bahwa Olin pernah ada. Hati mereka sudah jadi batu.
Begitulah, hari-hari berlalu seperti sedia kala. Gersang. Kesunyian yang membentengi istana itu seperti menyaingi pekuburan. Penghuninya makin jarang pulang. Kalau pun ada di rumah, tak pernah lama. Mereka pura-pura lupa bahwa Olin pernah ada.
Tinggal Mang Parmin dan Bik Lasmi menunggui rumah itu, tanpa pernah mengerti apa yang sesungguhnya sedang mereka tunggu. Kalau suasana sudah benar-benar sepi, kedua jongos tua itu akan duduk di taman belakang. Biasanya, mereka melirik jendela kamar itu. Tempat seorang bidadari mungil biasa bertengger, dan dengan tongkat ajaibnya menyulap rumah itu jadi penuh warna. Sejak Olin pergi, hidup mereka tak lagi dihiasi mimpi indah. Ketika di puncak kehilangan, mereka kerap bergumam lirih dan nyaris tak terdengar, ?Olin, ke mana kamu pergi??

Bandarlampung, 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *