Paus Bicara soal Seks?

D Pujiyono
http://www.suaramerdeka.com/

Pelbagai sebutan telah dikenakan pada mendiang Paus Yohanes II.
Pejuang kebenaran, pembela kehidupan, penentang budaya kekerasan dan kematian, pelopor perdamaian, pembela kaum miskin dan komunikator ulung.

Presiden Iran Mohammad Khatami menyebut Paus Yohanes Paulus II sebagai seorang tokoh agama yang sangat terpuji. Dia juga mengatakan Paus yang bernama asli Karol Wojtyla ini adalah orang yang mengusahakan terciptanya koeksistensi damai, moderasi, dialog antar-agama, terutama antara Islam dan Katolik. Pernyataan ini disampaikan, ketika Paus Yohanes Paulus II wafat Sabtu, 2 April 2005 melalui Al-Jazeera.

Satu sebutan lagi yang mesti dikenakan, ia adalah seorang seksolog yang andal. Beberapa bulan setelah terpilih, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik pertamanya Redemptor Hominis (4 Maret 1979). Kemudian ia mengeluarkan Ensiklik II yang berjudul Dives in Misericordia (30 Nopember 1980). Pada tahun berikutnya muncul Ensiklik Laborem Exercens (14 September 1981). Kira-kira empat tahun sesudah itu, muncullah Ensiklik Slavorum Apostoli (2 Juni 1985).

Melihat itu semua, tentu saja banyak orang mencoba menebak-nebak arah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II.
Ternyata, tanpa diketahui oleh banyak orang, secara perlahan-lahan Paus Yohanes Paulus II sedang membuat revolusi besar. Boleh percaya atau tidak, Yohanes Paulus II membuat sebuah revolusi seks! (halaman 17).

Banyak orang mungkin akan bereaksi: seorang pemimpin besar agama, nan suci, agung dan terhormat bicara soal seks! Sebagian orang memandang seks, sebagai sesuatu yang rendah, tabu dan hanya konsumsi untuk obrolan orang-orang pinggiran. Ada pula yang berkomentar; tahu apa Paus tentang seks? Ia seorang selibat (tidak menikah). Ia menyerahkan hidup dan kesucian tubuhnya untuk Tuhan. Untuk bisa bicara tentang seks, tidak harus mengalami atau menghayati dulu, sebagaimana bicara soal etik lainnya: Jangan membunuh, Jangan berzina, Jangan mencuri. Untuk mengerti dan memahami segala hal yang berhubungan dengan seksualitas, tidak harus pernah mengalami dulu. Pun, seks tidak hanya terbatas pada hubungan seks atau persetubuhan. Istilah seks, sekarang sudah sering diselewengkan dan pada giliranya direduksi menjadi melulu hubungan badan. Seks itu menyangkut dasar hidup setiap manusia, sejak lahir, bertumbuh, sebelum menikah, selibat atau menikah, menyambut kelahiran anak, sampai akhirnya mati.

Deshi Ramadhani, penulis buku ini menjelaskan kekristenan senyatanya sangat seksual. Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam Kitab Suci tidak punya persoalan menggunakan tubuh manusia sebagai simbol. ?Mengapa sekarang pembicaraan tentang seksualitas menjadi sesuatu yang tabu, seolah-seolah menjadi sesuatu yang asing dari Kitab Suci, asing dari kesucian?? urai Doktor Teologi, pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. Buku ini disusun dari pergulatanya sebagai seorang selibat (yang menghayati hidup tidak menikah), dengan memasukkan ajaran ?Teologi Tubuh? dari mendiang Paus Yohanes Paulus II. Menurut Yohanes Paulus II, seperti dikutip dalam buku ini, tubuh memiliki arti yang melekat (nupsial), sehingga perubahan dunia akan bisa diperbaiki jika setiap manusia mulai memahami arti nupsial dalam tubuhnya.

Setiap bagian tubuh manusia adalah perkataan tentang Allah, sehingga Allah mau mewahyukan diri-Nya dalam Kitab Suci melalui simbol-simbol tubuh. Hanya tubuh manusia yang membuat terlihat apa yang tidak bisa terlihat, yang spiritual dan yang ilahi. Ajaran Paus ini sangat baik, terutama pada era modern ini ketika tubuh manusia sering disalahgunakan, bahkan hanya sebagai objek saja.

Buku ini bisa mengguncang pemahaman kita tentang ungkapan cinta insani lelaki dan perempuan, sebagai gambar dan rupa Allah sendiri! Paus Yohanes Paulus II telah menyediakan bom waktu lewat ajaran-ajarannya mengenai tubuh manusia. Pada saatnya bom waktu itu akan meledak, dan efeknya akan dirasakan tidak hanya di dalam gereja, tetapi di seluruh dunia, karena memang semua itu akan menyentuh manusia secara mendasar.

Bila bom ini meledak, tidak ada pilihan lain, cara manusia hidup dengan tubuhnya dan mengenali tubuhnya, atau memperlakukan tubuhnya, mau tidak mau harus diubah. Mau tidak mau, segala macam cara harus dilakukan agar tubuh manusia dikembalikan ke keadaan sebagaimana itu semua diciptakan.
Tidak ada pilihan lain, seluruh cara paham kita tentang seks dan seksualitas harus ditinjau kembali.

Tidak ada pilihan lain, seluruh ekonomi global akan terkena akibatnya, karena banyak bisnis besar bergerak dan ditentukan oleh perlakuan terhadap Judul: Lihatlah Tubuhku, Membebaskan Seks Besama Yohanes Paulus II Penulis: Deshi Ramadhani SJ Penerbit: Kanisius, Yogyakarta Cetakan: Pertama, Oktober 2009 Tebal: x+ 268 halaman tubuh manusia.

Teologi tubuh menawarkan sebuah pembebasan seksual dengan cara berbeda.
Kita diajak untuk melihat seks sebagai yang tak terpisahkan dari kenyataan diri kita manusia yang bertubuh ini. Istilah ?seks bebas? adalah tipuan zaman ini.
Yohanes Paulus II ingin menawarkan sebuah bentuk ?seks bebas? yang sejati.
Artinya, seks sebagai tanda penunjuk jelas akan keadaan manusia sebagai gamabar dan rupa Allah sendiri, yang pada dasarnya memiliki sifat dasar ?bebas?.
Bukan melakukan apa pun yang kita kehendaki, melainkan melakukan apa yang memang diserukan oleh bahasadalam tubuh kita. Seks yang pada dasarnya bebas itu adalah dorongan untuk mencintai. Artinya, seks memampukan kita untuk tidak melakukan apa yang ?kita rasa baik?, melainkan apa yang memang sungguh baik, not what ?feels? good, but what ?is? good.

Tidak hanya ajaran ?Teologi Tubuh? yang mengajak semua orang memandang tubuh sebagai bait Allah. Paus Yohanes Paulus II, juga bicara seks dalam arti sempit (hubungan suami-istri). Ia mengatakan.. ?secara anatomis gairah muncul dalam cara yang sama baik dalam diri perempuan maupun laki-laki (tempat bangkitnya gairah itu terdapat dalam system cerebro-spinal pada S2-S3)?. Lebih lanjut ia mengatakan: ?Klimaks harus dicapai dalam harmono, tidak dengan mengorbankan salah satu pihak, tetapi dengan keduanya terlibat secara penuh.? Dengan kata lain, wahai, suami dan istri, khususnya hai suami, usahakanlah supaya hubungan seks kalian tidak memanfaatkan pribadi lain, melainkan mencapai klimaks secara bersamaan.

Hal itu mulai dikumandangkan secara lantang sejak 1958, oleh seorang dosen etika di Universitas Lublin Polandia, yang bernama Karol Wojtila. Dengan demikian, sudah dua puluh tahun ia menjadi Paus, mediang Paus Yohanes Paulus II sungguh tahu soal seks. Ia memutuskan menerjukan diri ke bidang yang mungkin oleh rekan sesama imam atau uskup ketika itu dianggap wilayah tabu, kotor, tidak boleh didekati oleh orang yang ingin mengejar kesucian hidup. Ia melakukan itu karena ia yakin, dari sanalah penebusan manusia secara utuh harus dimulai.

Sekali lagi, melihat ini semua, Karol Wojtila –Yohanes Paulus II almarhum-adalah seorang seksolog yang ulung. Satu pesan singkat yang membaca buku ini muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *