PERCINTAAN DENGAN ALAM

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sejumlah kritikus sastra yang berorientasi pada pendekatan sosio-kultural, berkeyakinan bahwa karya sastra tidak lahir secara serta-merta. Ia mula-mula sangat mungkin lahir dari sebuah peristiwa sebagai pengalaman selintasan, atau pengalaman melihat, mendengar, merasakan, bahkan sampai pada pengalaman dahsyat yang menakjubkan?menakutkan. Segala pengalaman itu mengeram, menduduki singgasana memori yang tak gampang dihilangkan begitu saja. Ia mengganggu?menggelisahkan. Lalu mengendap dan terus mengikuti segala gerak pikiran dan perasaannya. Lalu, bersama kegelisahannya itu, ia menggoncang-goncangkan imajinasi dan intelegensianya. Maka, ketika ia sampai pada keputusan menjadikannya sebagai tugu peringatan atau monumen dalam deretan kata-kata, di situlah segala peristiwa itu wujud dalam bentuk karya sastra. Itulah proses panjang kelahiran sebuah karya (sastra).

Sastrawan, lantaran dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya tertentu, maka langsung atau tidak, keterpengaruhannya atas kondisi sekitar kerap mencelat begitu saja. Ia berada inheren dengan dirinya. Sastrawan sebagai anggota masyarakat, memang tidak dapat melepaskan diri dari faktor kemasyarakatan. Perilaku, etika, tata karma, norma, bahkan juga nilai-nilai moral yang berlaku dalam lingkungan sosial tertentu, kerap menjadi semacam perekat yang menyeret diri sastrawan ?bahkan profesi apa pun?ke dalam tarik-menarik menjadi bagian dari segala sikap budaya itu, mengikutinya tanpa reserve sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat tradisional, melakukan pemberontakan sambil menawarkan nilai-nilai atau paradigma baru, atau ia melakukan kompromi-kompromi. Itulah aturan main ketika seseorang masuk dalam sebuah komunitas sosial?budaya tertentu.

Posisi sastrawan dalam kehidupan sosial, kerap juga melakukan pemberontakan melalui gagasan-gagasan kreatifnya. Kalaupun ia melakukan sejumlah kompromi, pilihan itu diterima dan ditawarkan kembali sebagai reaksi kritis atas sejumlah hal yang mungkin disetujui atau tidak disetujuinya. Peran sosial sastrawan sebatas itu. Justru dengan cara itu pula, sastrawan sedang mengekspresikan berbagai peristiwa individual itu menjadi bagian dari usaha memberikan sesuatu kepada masyarakatnya. Ia boleh jadi sedang melakukan proses membangun tugu peringatan atau monumen dirinya, tetapi sesungguhnya, ia sedang mengejawantahkan empati, simpati, antipati, bahkan juga kebencian dan sikap evaluatifnya atas sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar. Sesuatu itu bisa berupa peristiwa yang sangat individual, peristiwa sosial, peristiwa kultural, bahkan peristiwa yang menggoncangkan dunia.

Dengan dasar pemikiran dan konteks tersebut, kita dapat mencermati kepenyairan Tri Astoto Kadarie sebagai sebuah perjalanan ekspresif ketika ia coba menawarkan segala pengalamannya dalam bentuk larik-larik puisi. Maka, yang dapat kita tangkap adalah gebalau kegelisahan atas peristiwa yang sangat individual itu ke dalam peralatan puitik: metaforis, simbolis, ironis, paradoksal, atau bersengaja memanfaatkan imaji. Dalam konteks itu pula, buku yang memuat 164 puisi karya Tri Astoto Kadarie ini menjadi penting tidak sekadar menambah jumlah judul buku antologi puisi dalam peta perpuisian Indonesia, tetapi lebih jauh dari itu, kita memperoleh gambaran, betapa konsistensi pada profesi dan kepedulian pada apa pun yang berada di sekeliling kita, bagaimanapun juga, tetaplah menyembulkan makna. Dalam serangkaian peralatan puitik yang ditawarkannya itu, ada nilai di balik makna sintaksis segala lariknya, dan nilai itu, paling tidak, secara subjektif, mewartakan sebuah ?lan dalam menjalani kehidupan; serangkaian semangat untuk melakukan kompromi-kompromi atau menerima pengalaman itu sebagai bentuk tarik-menarik introspeksi dan retrospeksi atas segala pengalaman dalam berhubungan intim dengan alam di sekitar.

Dari sudut itu, puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi ini, tidaklah mengusung sebuah tema tertentu. Problem, makna, atau nilai apa pun yang berada di balik setiap peristiwa, bisa menjadi tema puisi ?atau cerpen, sejauh kita dapat menangkap substansi, hakikat, ruh yang mengeram dan bersembunyi di belakang tirai peristiwa itu. Bukankah tema besar model apa pun tetaplah akan jatuh pada bentuk artifisial, jika sastrawan atau penyair yang bersangkutan gagal mengemaskannya ke dalam wilayah estetika.

***

Mencermati setumpuk puisi dengan berbagai-bagai tema, tidaklah sama dengan membaca penggalan berita sambil menikmati secangkir kopi. Kita seperti sedang menikmati potongan-potongan slide yang mewartakan bermacam peristiwa. Dan dalam setiap peristiwa itu, tersembunyi pesan tematik yang dibalut estetika puitik. Di sinilah perkara puisi menjadi sesuatu yang mudah diselesaikan jika kita membaca sebagai bentuk apresiasi belaka. Manakala kita mencoba menelusuri segala maknanya, mencoba menemukan endapan nilainya, seketika puisi berubah menjadi hamparan medan tafsir yang sangat luas. Itulah sebabnya, puisi yang dibentuk dengan larik kata-kata yang kemas, padat, dan metaforis, kerap memancarkan kekayaan tafsir yang luar biasa.

Meskipun demikian, tentu saja kita juga masih dapat melakukan simplifikasi dengan menarik benang merah melalui kecenderungan-kecenderungan tematik atau stilistik. Dengan cara itu, meski hasilnya berupa gambaran umum yang mencakup keseluruhan, setidak-tidaknya ia tetap dapat dianggap muwakil?representatif. Atas dasar pertimbangan itulah catatan ini coba memetakan kecenderungan-kecenderungan puitik yang coba ditawarkan Tri Astoto Kodarie.

***

Sejumlah besar puisi yang terhimpunan dalam antologi ini seperti hendak mewartakan percintaan aku lirik pada alam, lebih khusus lagi pada dunia laut. Laut dengan segala geraknya yang dinamis dan penuh gejolak, dan yang tak pernah diam itu, bagi penyair, seperti makhluk yang penuh misteri. Ia menghadapi kegamangan ketika ia menempatkan diri sebagai titik kecil dalam hamparan ombak. Tetapi, ia juga takjub dan terjerat pesonanya yang tak pernah berhenti bergerak. Jadi, di satu pihak, ia seperti dibetot kecemasan ketika laut memancarkan kedahsyatannya, tetapi sekaligus ia mencintai kedahsyatannya itu. Ambivalensi terus bergetayangan sampai akhirnya ia cenderung memilih untuk tidak menjawabnya.

Sejumlah besar puisi dalam antologi ini yang ditempatkan di bagian awal (periode 1980-an sampai 1990-an) menampakkan suasana suram, cemas, gamang, dan pertanyaan tentang masa depan. Begitu juga ketika ia berhadapan dengan Tuhan. Periksa saja puisi-puisinya yang bertajuk ?Dahaga?, ?Sepanjang Jalan KS?, ?Di Hari J? dan sebagian besar puisinya yang menggambarkan perhubungannya dengan Tuhan,[1] seperti kerinduan seseorang yang cemas pada masa depannya yang penuh misteri. Akibatnya, Tuhan seperti ditempatkan dalam jarak yang jauh nun di sana, tetapi ia ingin memperoleh jawaban atas masa depannya yang masih penuh misteri itu.

Bagaimana kerinduan pada Tuhan dengan menempatkan Tuhan sendiri berada nun jauh di sana? Inilah yang saya maksudkan sebagai ambivalensi ?kemenduaan yang bertolak belakang. Dalam hal ini, Tuhan laksana hendak dijadikan sebagai alat legitimasi untuk meneguhkan mitos masa depan. Tetapi, justru dengan cara itu pula, kerinduan Tri Astoto Kodarie pada Tuhan menjadi agak nyeleneh sendiri. Sebuah cara ekspresi yang aneh sebagaimana yang diperlihatkan penyair ketika ia memandang masa depannya yang masih disaputi misteri. Perhatikan salah satu bait dari puisi berjudul ?Sepanjang Jalan KS?: kalaulah di sini bisa kuperoleh jarak/akan kuakhiri segala tualang/dan bergayut pada lenganMu// Jadi, petualangan itu akan diakhirinya, meski ada jarak membentang yang memisahkannya. Aku lirik sebenarnya masih dalam proses petualangan. Di sinilah, Tuhan menjadi alat legitimasi untuk meneguhkan harapan masa depan, dan bukan sebagai muara untuk penyatuan.

Perhatikan juga bait terakhir dari puisi berjudul ?Lagu Senja?: tuhan, nampak lambaian-Mu dari masjid di ujung jalan/kulangkahkan hati meniti senja/menuju bilik-Mu yang dingin// ?Senja? di sana bukanlah masa menjelang kematian, melainkan rentetan waktu an sich. Aku lirik melangkah ke rumah Tuhan (masjid) dan bukan hendak menjumpai Tuhannya. Jadi, Tuhan sekadar sesuatu yang diandaikan dapat menciptakan ?bahkan mungkin juga memahami?harapan si aku lirik. Sementara, masjid sebagai tempat persinggahan yang di sana terbuka peluang untuk melakukan dialog. Kembali, Tuhan bagi Tri Astoto tetap ditempatkan berada entah di mana. Hubungan antara aku lirik dan Tuhan sebagai hubungan antara makhluk-Nya yang teraniaya dan Sesuatu yang dipercaya dapat memberi jalan keluar.

Begitulah, puisi-puisi Tri Astoto Kodarie yang bercerita tentang hubungan Aku?Tuhan memperlihatkan dua posisi secara vertikal. Meski Tuhan sendiri entah berada di mana, pada saat tertentu, aku lirik merasa perlu menyapa Tuhannya untuk menumbuhkan pengharapannya dalam pengelanaan menuju masa depan. Tuhan menjadi gayutan semata sebagai bentuk pengesahan bahwa masa depannya masih ada.

***

Perlakuan Tri Astoto Kodarie pada Tuhan ternyata berbeda dengan perlakuannya pada alam. Jika Tuhan ditempatkan sebagai alat legitimasi menatatp masa depan, maka alam bagi penyair menjadi alat metafora untuk melindungi kegelisahannya tidak pada pada persoalan masa depan, tetapi juga pada persoalan kehidupannya sendiri. Ada sesuatu yang disembunyikan dan tak terucapkan, dan sesuatu itu seperti makhluk misterius yang mencekam: perjalanan sang nasib. Dalam hal ini, alam ?terutama dunia laut?menjadi semacam pelarian ketika segalannya seperti tak berjawab, ketika misteri itu justru memancarkan misteri baru.

Dalam posisi yang menempatkan alam sebagai pelarian, penyair tidak hendak menafikan kuasa alam, juga tidak hendak menolaknya, apalagi mengeksploitasinya untuk tuntutan hidup. Alam sebagai keniscayaan tentang perjalanan hidup. Seperti konsep sangkan para ning dumadi ?eksistensialisme model Jawa, bahwa yang berasal dari alam akan kembali kea lam. Jadi, dalam pandangan penyair ?setidak-tidaknya itu yang dapat kita tangkap dalam sejumlah besar puisinya?alam tidak lain sebagai titik berangkat dan sekaligus sebagai titik akhir perjalanan. Periksalah puisi yang berjudul ?mengantar jenazah di saat hujan tengah hari?. Barisan para peziarah yang mengantarkan jenazah itu di suatu hari kelak, akan diperlakukan sama seperti halnya jasad yang tergolek di liang lahat. ?esok pun kita bakal melewati jajaran pohon kamboja/yang dingin dan kaku/bersama sahabat-sahabat setia yang akan mengantarnya//.

Periksa juga puisi yang berjudul ?elegi kepulangan? atau ?dendang?. Konsep sangkan para ning dumadi itu diterjemahkan dalam bentuk keterasingan sebagaimana yang dilakukan Sitor Situmorang dalam ?Hilangkan si Anak Hilang?. Eksistensi aku lirik pecah manakala kepulangannya itu justru menciptakan kehilangan harapan. Dalam ?Dendang? justru seperti makin meneguhkan dirinya sebagai ?anak hilang?, meski secara alegoris ia hendak menafikannya.

Secara keseluruhan, antologi puisi ini menggambarkan bagaimana sosok TriAstoto Kodarie tak dapat menghindar dari sikap reflektifnya dalam menggauli lingkungannya. Ia mencerap situasi di sekitar dan kemudian merefleksikannya kembali dengan alam ?sebagian besar?sebagai alat metaforanya. Oleh karena itu, segala kegetiran dan reaksi atas ketidakberesan yang terjadi di lingkungan yang dijumpainya di daratan mana pun, di kota-kota yang disinggahinya, tidak disampaikan secara reaktif dalam bentuk teriakan lantang, tidak juga dalam bentuk protes, melainkan secara metaforis. Seolah-olah, biarlah persoalan dan segala kegetiran itu menjadi miliknya sendiri, meski ia sendiri tak yakin pada kualitas kemampuannya menghadapi situasi seperti itu dalam menapaki masa depan. Bukankah masa depan ?bagi aku lirik?adalah makhluk misterius yang tak kunjung memperoleh jawaban?

Pilihan yang digunakan penyair adalah bercinta dengan alam. Maka, percintaannya dengan alam adalah bentuk kompromi dalam menghadapi kehidupan ini. Lihat saja puisi berjudul ?dermaga?

sudah kuhitung dengan jari-jari gemetaran
perahu-perahu yang bersandar
atau buih ombak yang lamban berpacu
padahal pohon-pohon nyiur pun yakin
sejarah akan kembali dari pelayarannya
sudah kuhitung dengan jari-jari gemetaran
tentang pengembaraan para nelayan
di tengah laut luka
sembunyikan rahasia semesta!

Bahwa keakraban (: percintaan) dengan lingkungan alam sekitar dan dunia laut yang dicitrakan secara obsesif, menunjukkan betapa penyair menempatkan alam sebagaimana yang tersirat pada konsep sangkan para ning dumadi. Pencarian eksistensi si aku lirik seperti berkejaran dengan misteri alam. Maka, laut, ombak, pesisir, gelombang, nelayan, perahu, camar, air pasang, dan segala kosakata yang menjadi bagian kehidupan dunia laut laksana sudah menempel lekat dan menjadi bagian dari sikap hidupnya.

Meski demikian, kecenderungan itu tidak mengisyaratkan bahwa aku lirik tidak dihidupi dan menghidupi alam itu sendiri. Ia seperti penonton yang takjub pada kepiawaian akrobatik para pemain sirkus. Ia sekadar melakukan percintaan platonis dengan alam. Maka, langkah yang perlu dilakukan Tri Astoto Kodarie adalah bukan sekadar percintaan, melainkan persetubuhan dengan alam. Hanya dengan itu, alam ?dan terutama laut?dapat mencengkeram ketakjubannya itu dan kemudian mengejawantah sebagai bagian dari suara alam.

***

Secara struktural, puisi-puisi dalam antologi ini, secara hamper maksimal, berusaha memanfaatkan metafora, simbolisme, bahkan juga paradoks. Permainan diksi seperti itu, tidak hanya menjadikan ?seperti telah disebutkan?alam sebagai alat metafora, melainkan juga pencitraan simbolik, sebagaimana yang digunakannya dalam ?Di antara Miliaran Badik? atau ?Kado Perkawinan bagi Istri? dan sejumlah puisi lain yang tidak bercerita tentang alam, tetapi sesungguhnya ia menempatkannya dalam alam yang lebih luas: semesta! Dengan demikian, ketika ia bercerita tentang meja bilyar, Gerimis di Cipayung, atau sebuah jalan di kota tertentu, ia menarik persoalan itu ke dalam dunia mikro, sangat individual. Di belakang itu, ada hamparan alam yang lebih luas, yaitu dunia makro: semesta alam!

Di luar persoalan itu, larik-larik yang dibangun dalam pola persajakan Tri Astoto Kodarie berkecenderungan memanfaatkan persajakan dalam larik. Akibatnya, pola repetisi dan persamaan bunyi dalam banyak larik puisinya, menciptakan keindahan estetik tersendiri. Itulah estetika puitik!

Akhirnya mesti saya katakan, menikmati puisi dalam antologi ini, kita seperti sedang menziarahi deretan kota, jalanan dan gerimis, hamparan pantai, buih dan gelombang ombak, yang segalanya seperti paradoks antara kehidupan dalam tataran mikrokosmos dan makrokosmos. Agaknya, penyair masih sedang melakukan kompromi antara sikap hidup yang bersumber dari konsep para ning dumadi dengan kenyataan sosial yang penuh misteri. Seperti ombak laut, segalanya tak terduga. Ia masih mencari jawabannya yang juga misterius. Itulah hidup! Maka, jalanilah kehidupan ini dengan segala komprominya. Jika tidak, biarlah ia menjadi milik sendiri!

Selamat buat penyair Tri Astoto Kodarie atas antologinya yang penuh misteri!

Bojonggede, 18 Februari 2007

[1] Bandingkan ekspresi kerinduan Tri Astoto Kodarie pada Tuhan sebagaimana yang terungkap dalam puisi-puisinya itu dengan ekspresi puitik Amir Hamzah ?yang rindu menyatu, Abdul Hadi WM ?yang rindu berjumpa, atau Jamal D. Rahman ?yang rindu pada pancaran kebesaran mahakarya-Nya. Orientasi kerinduan ini ternyata juga menjadikan ekspresi puitiknya berbeda tidak hanya menyangkut symbol-simbol yang digunakan, tetpai juga pada pilihan kata (diksi) dan metafora yang digunakannya. Jadi, makin jelas bagi kita, bahwa tema yang sama bisa diungkapkan berbeda bergantung pada pengalaman religiusitas masing-masing.

One Reply to “PERCINTAAN DENGAN ALAM”

  1. pelajaran dari keadaan, berguru pada sepoi angin, berkaca pada mendung kelam, berbalut selimut kabut
    sungguh sebuah teks panjang yang tidak mungkin diperoleh dari pidato guru di mika kelas

    karena yang demikian bagai berdialog dengan sang pencipta alam dan isinya, betapa kita masih harus banyak belajar pada setets embun setiap pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *