Pertanyaan Tahun Ini: Kapan PSSI?

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.co.id/

KONON Albert Camus pernah ditanya oleh salah seorang temannya, Charles Poncet, mana yang lebih ia suka, sepak bola atau teater, dan ia menjawab, ”Sudah pasti sepak bola.”

Peraih Nobel Sastra 1957 itu lahir dari keluarga miskin di Aljazair. Di masa kanak-kanaknya, ia memainkan sepak bola dalam cara yang serupa dengan anak-anak lain di wilayah kumuh belahan dunia mana pun: di jalanan. Tetapi ia tidak banyak berlari.

Ayahnya, seorang Prancis, terbunuh di awal Perang Dunia I ketika Camus berusia satu tahun. Ibunya, perempuan berdarah Spanyol, membesarkannya dalam cara yang keras. Neneknya suka memukul. Maka, ia hanya punya satu posisi di lapangan, yakni sebagai kiper. Hanya posisi itu yang menjamin sepatunya awet karena ia tidak perlu banyak berlari. Neneknya selalu memeriksa sol sepatunya setiap malam dan akan memukulnya jika sol itu aus.

Pada usia 17, di tahun 1930 (pada tahun ini Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar di Uruguay), Albert menjadi kiper pada tim junior Racing Universitaire Algerios (RUA). Setahun kemudian ia membuktikan bahwa tuberkulosis lebih galak ketimbang neneknya. Penyakit itu tidak memungkinkannya memilih posisi apa pun di lapangan. Selanjutnya ia menjadi wartawan, aktivis, pemikir, dan penulis. Dan pada umur 44 ia meraih Nobel. Dua tahun kemudian ia meninggal dan, hingga sekarang, replika kaus kiper dengan nama Albert Camus terjual lebih dari 5.000 biji setiap tahun. Di bagian depan kaus itu Anda bisa membaca ucapan terkenalnya: ”Banyak hal tentang moralitas dan kewajiban saya dapatkan dari sepak bola.”

Ucapan itu mungkin terdengar antik sekarang, sama antiknya dengan ucapan Pele, ”Sepak bola seperti agama bagi saya. Aku memuja bola, dan aku memperlakukannya seperti sesembahan.” Hari ini, jika ada satu saja pemain yang mengucapkan kalimat semacam itu, bahkan pemain dengan label terbaik di dunia sekalipun, rasa-rasanya ia akan terdengar seperti anggota fanatik sebuah sekte.

Anda tahu, Camus menyampaikan ucapan ”luhur” tentang sepak bola itu melulu berangkat dari pengalamannya di lapangan sepak bola ”kampungan”. Hal yang nyaris sama tentang sepak bola kampungan digarisbawahi juga oleh Eduardo Galeano. Penulis Uruguay ini, dalam bukunya Soccer in Sun and Shadow, selain menuliskan beberapa hal tentang Camus dan sepak bola, secara keseluruhan ia menggambarkan kegembiraan bermain bola bukan di level pertandingan tertinggi, melainkan di tingkat kampungan. Dan, Anda tahu, itu kegembiraan yang nyaris punah karena apa saja yang ”kampungan” sekarang ini tampaknya sudah sangat sulit dijumpai.

Di negara kita, lapangan sepak bola kampungan semakin menghilang. Yang tumbuh pesat di sekitar kita adalah lapangan golf. Saya kira itu terjadi bukan karena minat olahraga rakyat Indonesia bergeser dari sepak bola ke golf. Itu melulu masalah pemihakan. Disengaja atau tidak, kebijakan pemerintah kita hari ini memang lebih berpihak pada orang-orang kaya.

Dalam situasi pemihakan yang seperti ini, saya merasa sedikit tercengang ketika presiden, merespons peristiwa akbar Piala Dunia tahun ini, mengajukan pertanyaan yang terdengar naif, kalau bukan absurd: ”Kapan Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia?” Persis seperti itulah pertanyaan yang banyak diajukan oleh warga negara ini –sebuah pertanyaan yang nyaris tidak mengandung harapan dan hanya menyiratkan rasa frustrasi terhadap persepakbolaan kita. Atau mungkin saya keliru. Jangan-jangan sudah tidak ada satu orang pun, selain presiden, yang tega mengajukan pertanyaan seperti itu. PSSI main di Piala Dunia? Nggak lah yaaaa!

Saya terus-menerus mengingat pertanyaan presiden itu, dan memikirkan bahwa pertanyaan itu mungkin bisa menjadi pertanyaan ajaib tahun ini. Pak Presiden memiliki menteri olahraga. Saya kira ia bisa memberi perintah saja kepada menterinya. ”Hai, menteriku, salah satu urusanmu adalah mendorong kesebelasan nasional kita, entah bagaimana caranya, menjadi dua kali lebih baik ketimbang sekarang dalam waktu setahun. Setahun berikutnya ia harus dua kali lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Dan seterusnya begitu, dua kali lebih baik. Kau sanggup?”

Perintah semacam itu akan membantu kita memikirkan secara sungguh-sungguh apa yang harus dilakukan untuk menjadikan kesebelasan nasional setiap tahun meningkat dua kali lebih baik. Jepang melakukan pengembangan sepak bola dengan riset serius yang melibatkan sejumlah ahli pendidikan. Mereka berpikir serius tentang bagaimana menjadikan generasi baru Jepang bisa menyukai sepak bola. Maka dari sanalah lahir produk-produk untuk anak-anak yang diarahkan ke sana, di antaranya komik Kapten Tsubasa.

Kenapa komik? Di tahun-tahun belakangan, orang-orang Jepang memang sangat menyukai komik. Itu bacaan yang mereka manfaatkan sebagai perintang waktu selama perjalanan ke tempat kerja atau ke mana pun, yang mulai dibaca di stasiun pertama dan selesai pada stasiun di mana mereka turun. Dan bacaan itu bisa mereka tinggalkan begitu saja di bangku duduk kereta.

Dengan komik Kapten Tsubasa, Jepang membangun minat anak-anak terhadap sepak bola. Dan bersamaan dengan itu pemerintah menyediakan fasilitas berupa lapangan sepak bola di mana anak-anak yang mulai berminat bisa bermain bola sembari membayangkan dirinya adalah ”Kapten Tsubasa”. Tentu saja tak ada gunanya membangun minat anak-anak tanpa menyediakan fasilitas yang memadai untuk melakukan apa yang mereka minati. Yang terakhir ini terjadi pada kita, tanpa kesengajaan.

Karena Kapten Tsubasa adalah komik yang disukai banyak anak di negeri asalnya dan sangat laris di pasaran, maka kita mengimpornya. Kita menerjemahkan komik itu dan anak-anak kita menyukainya. Tetapi itu hanya urusan dagang dan bukan berkaitan dengan strategi apa pun yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Ketika anak-anak kita menyukai Kapten Tsubasa dan mengidentifikasi diri sebagai tokoh komik tersebut, tanah lapang tempat mereka bermain bola semakin tidak ada. Tidak mungkin anak-anak bermain bola di lapangan golf.

Tanpa strategi yang matang, saya kira pertanyaan presiden tentang kapan Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia bisa dianggap saja sebagai pertanyaan asal-asalan. Atau bukan pertanyaan seorang presiden sama sekali. Jika serius menanggapinya, kita akan mendapati bahwa pertanyaan itu tak beda rasanya dengan presiden menanyakan, ”Kapan hukum di negeri kita ini bisa benar-benar tegak?”

Namun, kalau presiden menganggap pertanyaannya tentang sepak bola itu serius, saya ingin sedikit membantunya menemukan jawaban. Mula-mula ada baiknya presiden sesekali membuka situsweb resmi PSSI. Saya telah membuka situs ini dan rasanya seperti memasuki rumah yang kosong melompong tanpa penghuni.

Sekarang ini, akan jauh lebih mudah bagi Anda untuk mencari tahu apa dan siapa pemain sepak bola mancanegara ketimbang mencari tulisan tentang Iswadi Idris atau Andi Lala atau Ramang. Di situsweb PSSI saya tidak bisa menemukan tulisan tentang pemain-pemain PSSI dari masa ke masa, baik pada saat kesebelasan negeri ini masih bisa dibanggakan maupun ketika kesebelasan nasional keok melulu.

Atau jika Anda peminat statistik persepakbolaan, dan Anda ingin mengetahui siapa pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah kesebelasan nasional, siapa pemain yang terbanyak bermain di tim nasional, siapa pemain tertua yang pernah bermain di kesebelasan nasional, siapa pemain kita yang paling banyak memenangi kejuaraan, sebagai juara berapa pun, Anda tidak akan mendapatkannya. Anda juga tidak akan mendapati catatan remeh temeh misalnya tentang sudah berapa kali kita berlaga melawan Thailand, dan bagaimana hasil pertemuan kedua kesebelasan (menang, seri, kalah); berapa kali Indonesia sudah bertanding lawan Malaysia, Singapura, atau Korea Selatan.

Anda tak bisa menemukan informasi apa-apa di sebuah rumah yang nyaris kosong. Saya kira pengurus PSSI juga tidak akan bisa belajar banyak dari situs mereka sendiri.

Namun saya yakin Anda tetap bisa menggemari sepak bola seandainya kita tak punya kesebelasan nasional. Dan saya kira Anda juga akan menjawab seperti Albert Camus jika ada teman Anda menanyakan, mana yang lebih Anda suka, sepak bola atau sandiwara? Sudah pasti sepak bola, sebab sandiwara berlangsung setiap hari dan memang menjemukan. Maksud saya, sandiwara politik, sandiwara hukum, dan sandiwara-sandiwara di seputar kekuasaan. Dan, seperti Anda, saya pun akan menjawab, tentu saja sepak bola. (*)

*) Bertempat tinggal di aslaksana@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *