PROBLEM EKSISTENSIAL CINTA TAI KUCING!?

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Realitas manusia adalah bebas, pada dasarnya dan sepenuhnya bebas!? demikian semangat yang dikumandangkan Sartre. Hanya dengan kebebasan, manusia akan menyadari eksistensinya, dan sekaligus dapat membentuk individu yang berpribadi. ?Jadilah diri sendiri, dan hiduplah sebagai manusia unggul!? begitulah penegasan Nietzsche dalam fatwa eksistensialismenya. Meski disadari tidak ada kebebasan mutlak, bagi seorang eksistensialis, independensi merupakan hal yang mutlak perlu. Tanpa itu, ia akan kehilangan kebebasannya dan akan tetap meringkuk dalam ketiak individu lain. Itulah problem eksistensial yang tampak dalam diri hampir semua tokoh cerpen antologi Cinta? Tai Kucing! karya Maroeli Simbolon (Yogyakarta: Jalasutra, 2003; ix + 152 halaman).

Dari 18 cerpen yang terhimpun dalam antologi ini, Maroeli seperti sengaja menampilkan tokoh-tokoh dengan kepribadian yang terbelah, lemah, dan cengeng. Dengan mengusung tema cinta yang mendominasi keseluruhan cerpen dalam antologi ini, ia seperti hendak mewartakan bahwa konsep cinta sebagaimana yang diperlihatkan para tokohnya hanyalah milik para pecundang. Cinta menjadi sesuatu yang melekat dengan air mata, problem domestik, dan segala urusan rumah tangga. Cinta menjadi begitu naif dan artifisial.

Dalam ?Elegi Dua Hati? misalnya, perpisahan suami-istri, Baskoro dan Danar, terjadi hanya karena isu selingkuh yang tak jelas. Dan mereka bersatu kembali setelah keduanya menyadari bahwa masing-masing merasa bergantung satu sama lain. Keduanya gagal menjadi manusia mandiri. Maka, perpisahan yang mereka pilih sesungguhnya lebih disebabkan oleh pribadi yang lemah, cengeng, dan tak bertanggung jawab. Dalam hal ini, kedua tokoh itu seperti simbol rapuhnya pemahaman makna cinta dalam kehidupan domestik. Boleh jadi, itulah potret sosial kehidupan sebagian besar rumah tangga masyarakat kita yang banyak diwarnai tindak kekerasan, penganiayaan, dan pelecehan jender.

Prahara rumah tangga yang terjadi lantaran isu selingkuh, muncul pula dalam cerpen ?Cinderala? (hlm. 25?32). Pilihan untuk berumah tangga dan mempunyai keturunan, pecah hanya karena rumor yang tak jelas pangkal-ujungnya. Suami-istri itu baru sadar, ketika anaknya, Nining, ditemukan tewas. Tentu saja penyesalan menjadi tiada berguna lagi. Di sini, konsep cinta menjadi sesuatu yang mubazir, dan makna perkawinan sekadar alat legitimasi persetubuhan. Dan anak sebagai buah perkawinan pun diperlakukan seperti makhluk asing.

Potret itu secara paradoksal dihadirkan melalui tokoh-tokoh wanita. Sebagian besar cerpen dalam antologi ini menampilkan tokoh utama wanita. Mengapa wanita yang menjadi pilihannya? Di situlah pentingnya konteks antologi ini. Sadar atau tidak, melalui tema cinta, Maroeli telah mengangkat ideologi jender. Maka, problem eksistensial yang dihadapi tokoh-tokohnya menjadi semacam sarana untuk menghadirkan potret paradoksal itu.

Periksalah cerpen ?Bibir? yang mengawali antologi ini. ?Cuma karena sepotong bibir? Cih! Rendahnya aku! (hlm. 1). Kesadaran itu ternyata tak membuatnya dapat mengembalikan kepribadiannya. Maroeli seperti hendak mengejek dunia laki-laki. Kekaguman pada bibir telah menghilangkan eksistensinya. ?O, tanpa kusadari, bibir itu lambat laun menyatu dengan urat nadiku. Hari-hariku terasa sepi bila tak menatapnya. Rasanya kehidupanku tak berarti tanpa menatapnya?meski sejenak.? (hlm. 6). Meski dengan gaya agak surealis, pesan tematis jelas ketika tokoh aku menatap bibir itu menjelma nenek sihir. Begitulah, problem eksistensial telah menghancurkan kepribadian seseorang. Ia tidak hanya kehilangan kebebasannya, tetapi juga kehilangan rasionalitas. Ia menjadi sangat bergantung pada keberadan pihak lain.

Problem eksistensial kembali muncul dalam cerpen kedua, ?Dongeng Kesunyian.? Tokoh Sunarti Sukoco yang lantaran tak cantik, harus terpuruk pada perasaan minder. Ia kehilangan jati dirinya, kehilangan hatinya, dan sibuk berkaca pada bentuk fisik. Oleh karena itulah ia kemudian menciptakan kebahagiaannya dalam dunia mimpi. Sebuah gambaran, betapa celakanya seseorang yang terpaku pada dunia fisik dan melupakan keindahan hati.

Demikianlah, sejumlah cerpen lainnya dalam antologi ini seperti hendak meledek makna cinta yang kerap diobral sang kekasih atau bahkan suami-istri yang malah kemudian mencampakkan kata itu ke keranjang sampah. Jika begitu, betapa rendahnya kualitas pribadi mereka yang tak bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Mereka gagal menjadi dirinya sendiri. Dalam hal ini, cinta bagi mereka yang menghadapi problem eksistensial, dimaknai secara sederhana dan mengejawantah hanya dalam pernyataan, dan bukan tindakan.
***

Bahwa tema cinta digambarkan menjadi sesuatu yang naif ketika melekat dalam diri individu yang mengalami problem eksistensial, boleh jadi itu merupakan pesan implisit yang hendak ditawarkan Maroeli. Oleh karena itu, tema cinta yang diangkatnya cenderung sebatas yang menyangkut hubungan jantina. Maroeli agaknya belum punya keberanian mengangkat problem itu masuk ke wilayah yang lebih mendalam.

Problem eksistensial juga bisa saja terjadi bukan lantaran persoalan cinta. Lihat saja cerpen ?Bendera?, ?Sepotong Cinta yang Tersisa? dan ?Sepenggal Kepala? (hlm. 61?80). Mantan veteran perang, misalnya, mengalami kegilaan lantaran negara yang dulu diperjuangkannya, tidak juga kunjung baik. Nasionalisme masyarakat ?yang disimbolkan lewat bendera? makin tak menghargai lambang negara itu. Dalam ?Sepotong Cinta yang Tersisa? banjir yang menghanyutkan segalanya, menghancurkan pula eksistensi tokoh aku. Suratnya yang ditujukan kepada para pemimpin negeri ini merupakan bentuk ketakberdayaan dan sekaligus protes seorang warga masyarakat atas hilangnya kepedulian sosial pemerintah. Sementara itu, dalam ?Sepenggal Kepala,? presiden ?yang disimbolkan lewat istana? yang seharusnya mengangkat dunia pendidikan, malah justru merampas dan mencampakkannya.

Dibandingkan antologi sebelumnya, Bara Negeri Dongeng (Yogyakarta: Jalasutra, 2002), secara tematis antologi Cinta? Tai Kucing! terasa lebih cair. Boleh jadi Maroeli sengaja mengangkat persoalannya itu secara agak ringan, justru sebagai bentuk pelecehan terhadap mereka yang menghadapi problem eksistensial. Dengan begitu, pemahaman makna cinta secara naif, cengeng, dan artifisial, hanya mungkin terjadi pada diri manusia yang gagal menemukan jati dirinya, manusia yang sangat bergantung pada pihak lain, dan manusia yang tidak punya kepribadian. Bagi manusia seperti itu, tidak berlaku pesan Nietzsche, ?Jadilah diri sendiri ?? mengingat mereka selalu tidak bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dan sekadar menikmati hidup dengan meringkuk dalam ketiak pihak lain.
***

Di luar masalah tematis yang digambarkan secara paradoksal itu, antologi cerpen ini agaknya makin meneguhkan keberadaan Maroeli Simbolon dalam peta cerpen Indonesia mutakhir. Cara bertuturnya puitis dan kerap menyembulkan rangkaian citraan. Bahkan, tidak jarang pula beberapa peristiwa sengaja dibangun lewat bentuk puisi. Dalam hal inilah antologi cerpen ini seperti sengaja memanfaatkan puisi untuk menciptakan suasana peristiwa. Model bahasa puitik itu pula yang mendominasi narasi dalam antologi cerpen ini.

Cara bertuturnya yang puitis dan mengalir lancar itu tentu saja merupakan modal penting bagi Maroeli, meski kadang kala ia terjebak pada bentuk klise. Dalam hal inilah, penggalian pada tema ?sebagaimana yang dilakukan dalam Bara Negeri Dongeng? mestinya menjadi tuntutan yang tak dapat diabaikan. Hanya dengan cara itu, ia akan tetap bertahan dan niscaya pula bakal memperkaya pesan ideologis yang ditawarkannya.

(Maman S. Mahayana, Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *