Puisi-Puisi Ahmad Maltuf Syamsury

Payudan

tatap wajahku dan jadikan relief di dinding retakmu
aku rindu gerimis tak kunjung hujan pada kemarau
aku rindu pelepah terbang memasuki celah jantungmu

lubang yang aku telanjangi jangan kau sumbat dengan kebisuan
karena aku tidak bisa meraba Jokotole dan Potre Koneng
di pusara Bujuk Lanjang dengan kemenyan tujuh rupa

Bindara Saot akan menangis
akan menjelma kembali pada segumpal daging
akan tiada lagi yang menyapa kita dari rahim ibu

kalau saja kau terkubur bersama waktu

Yogyakarta, 2008

*) Joko Tole, Potre Koneng, Bujuk Lanjang, dan Bindara Saot adalah tokoh dalam dongeng sastra lisan Madura.
**) Payudan adalah goa bersejarah dan menjadi objek wisata di bagian timur pulau Madura.

Warung Tunggu

Di warung tunggu
ku teguk kopi mengental dalam hati
sepekat rindu
ada suara merdu wajah sendu
saat asap rokok membubung tinggi mengejar bayangmu
aku baca sajak
tentang ojek tentang anak kecil pembawa gitar kecil
matanya binar melihat deret bus berhenti di depannya
sepertiku menemukan bayangmu
tapi warung tunggu masih tetap menunggu
-burung bersayap putih yang akan membawaku padamu.

Jombang, Akhir 2008

Memeluk Pusara

kemenyan tujuh rupa tujuh hari
menitipkan luka pada gundukan tanah

dentingan langkah-langkah
menjelma angus pada tungku terpendam

kokok ayam rintihan kucing
adalah lubang menganga jantung ulat-ulat putih

semua telah berakhir
menyisakan luka membekas bara

Yogyakarta, 2008

Tentang Perpisahan

Angin ribut malam ini
membanting pintu hatiku
begitu keras
menimbulkan suara hantaman
aku terjaga dari lelapku
kau tinggalkan sebiji kopi di lidahku
begitu pahit
mengeruhkan ludah
memuntahkan lahar
aku panik
menuruni gunung kemelut yang kau cipta
mencari celah rimba matamu
mungkin ada yang tertinggal
menafsirkan mimpi tentang rindu
walau aku tahu
begitu hina membasuh muka dengan air matamu.

Bragung, Januari 2009

Mengenang yang Terlupa
-Maisaroh

Aku pernah hidup bersamanya
tapi sesaat setelah rindu mengekal
memanjat suara merdu memetik buah lupa
dia punya yang lain terpendam dalam
di dasar sumur menusuk kerak bumi
mari kita bermimpi lagi mungkin ada sisa
sejak pertama Adam rebah di sisi Hawa telanjang
cukup teduh selamanya malam tanpa siang.

Aku pernah berlayar di genangan air matanya
tapi sesaat sebelum kapal cantik Columbus hadir
membawa sekeranjang bunga melumat asin lautan
tiba di dermaga aku melenggang pergi ke hutan
aku jadi terbiasa tidak mengulurkan tangan ke belakang
sampai waktu sejak tangannya digenggam dibawa terbang.

Aku pernah memetik mawar sore untuknya
tapi sesaat sebelum tertusuk duri lancip bibirnya.

Yogyakarta, 2010

*) dari buku Antologi Puisi ?Mazhab Kutub? terbitan PUstaka puJAngga 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *