Puisi-Puisi Alfiyan Harfi

Si Gila Pada Si Penanti

aku tahu kau merindukan
tanganku di atas tidurmu
cintaku di atas hidupmu
dan kau tahu
aku hidup di atas cintamu

cinta telah menguasai kita
bahkan sebelum kita
mampu mengucapkannya,
jiwaku dan jiwamu punya satu sayap
dan cinta kita yang menyatu
mengepakkan sepasang sayap kita
meninggalkan sepasang jasad yang rapuh

kau percaya
cintalah yang membawa kekasihmu
dan kesedihanmu dan kekuatanmu
membuat cinta mempercayaimu–
memilihmu jadi puterinya

di tanganku tersimpan abadi
detak jantung tidurmu
memberiku kekuatan
untuk menggoreskan nama kita
pada tiap benda
bahkan di atas otakku yang gila

bersyukurlah
pada ketidakwarasanku,
ia membawamu kemana aku pergi
untuk menyelamatkan hidupku
sebelum jasadku mengabu
ditelan bumi yang jauh

dan bila kau menemukanku
bersama hidup dan cintaku
tapi tidak bersama warasku
kau duduk bersandar kursi
mengamati dan menjagaku–
mengapa matamu basah
dan tubuhmu berguncang?

2006

Dengan Matahari

pada perjumpaan terakhir
kita bercerita tentang senja
pada parasmu yang muram
kudapati bola-bola api
digenggam alam tak berwarna

pada perjumpaan terakhir
kuceritakan dongeng-dongeng
agar kau terjaga dalam mimpimu
dan jasad melebur menjadi malam

ya senja, mari berpelukan dengan bulan
sebelum kita dapati wajah pagi telanjang
terbangun dari tidur, dan kita bertemu
di hari kedua yang asing

Cigaru 2004

Malam Pun Berjatuhan
Ke Dalam Gelapnya Hari

terlalu berbahaya bagi mereka
hidup dalam kilauan cahaya
ketika semua yang kelak sirna
tampak begitu nyata

untuk sekejap, hutan-hutan di langit
menyanyikan keperawanannya
untuk sekejap dan sekejap saja
malam pun berjatuhan ke dalam gelapnya hari

namun dalam hujan berat itu
semoga selalu ada yang bertahan
dalam kebebasan dari suka dan derita :
air mata pun mengalir dengan tabah ;
kebahagiaan menelusuri lekukan sungai

Cipari, 26 Agustus 2008

Planet Letih

tahun-tahun menjauhkanku
dari cahaya muasal?
ledak tangis yang suci.
setiap cinta kembali mengabu
ke dalam tubuh tuaku.
putaran-demi putaran
mengekalkan kebingunganku

demi kekuatan yang menguasai
getar setiap planet
demi planet yang menguasai
setiap getar abadi
demi setiap cahaya
yang melayari langit redup
demi mimpi
yang terbenam
di kerut mata tua
demi cinta yang letih
demi jiwa yang penuh
oleh anggur terpendam
demi air mata
yang menetas bagai kata

maafkan setiap duka
yang membusuk di tubuhku
tumbuhkanlah ia
menjadi bermacam warna
pada bermacam mahkota bunga
terimalah setiap warna
sebagai anugerah cinta
seperti cahaya melintasimu
o semesta abad-abad.

Cipari, 10 Januari 2008

Akhir Dunia

mari berpencar dan bersembunyi
mari, kau dan aku
dalam setiap diri

inilah akhir dunia
inilah sunyi kemenangan

akhirnya kita melihat
keajaiban dan kebahagiaan
dalam akhir kitab sejarah

kita pernah menjadi setiap manusia
menjadi seorang bayi
di pelukan seorang ibu
kita pernah menjadi apa saja:

ingatkah ketika kau menjadi bunga
ketika aku adalah akar-akarmu
ketika kau adalah cahaya
yang mengarsir bayanganku
pada setiap gerak dunia

bumi hancur dan tiada
rumah bagi jasad yang berat
kita tercerap hati masing-masing
dan kemahalembutan dan kemahaluasan
menjadi akhir yang bahagia.

namun dalam diriku dan dirimu
setiap kali dunia berakhir
ia membangun dirinya kembali

8 maret 2008

Subuh Yang Lain

di sana seseorang tengah tertidur
di dalamnya seberkas cahaya mungil
menemukan kebangkitan yang adalah dirinya
serupa air, ia pernah melewati pohonan, batu dan lautan
serupa manusia ia pernah menjadi semuanya

di langit yang lain ia melenguh dan kekuningan
di langit yang pertanyaan-pertanyaan telah mengabu
subuh yang anggun menjelma ke dalam tarian
namun semuanya terhenti
ketika seseorang menanyakan kesadarannya
dan siang yang sibuk pun melupakannya

di sana aku menemukan puisiku:
ribuan gadis turun dari langit bulan juni
dan sekuntum mawar kegaiban
memancar dari sebuah nama
yang aku tak kuasa memanggilnya

Juni 2008

Sajak Musafir

kau telah menjadi segalanya:
menjadi jalan
di mana tak dapat kukembali
menjadi cahaya
yang menghangatkan tulang-tulangku
menjadi malam
yang memberiku bintang-bintang
menjadi hujan
yang menyucikan hidupku
menjadi kebahagiaan
yang meluaskan jiwaku
menjadi duka derita
yang membuatku kaya
menjadi seribu mawar
yang menyebarkan wewangian
pada seribu musim

dan suatu saat nanti,
kau menjadi tanah
tempat aku istirah.
akan menjadi malam dan impian
ketika jasad tertidur
dan engkau dan aku
benar-benar menjadi satu
dalam bumi yang terus berputar
dalam bunga yang mekar
dalam senja yang bergetar

September 2007

*) dari buku Antologi Puisi ?Mazhab Kutub? terbitan PUstaka puJAngga 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *