Puisi-Puisi Budhi Setyawan

http://www.jurnalnasional.com/
Saat Kauukir Jarak Sajak

di sketsa hujan
kutemani cadasmu menari berlari
tanpa payung
tanpa kata

kau tertawa dan lincah dalam gemulai menggelar jarak
aku terlunta tersedak menggapai irama tarian detak retak

panah panah berdesingan di kaki cakrawala
kutergores perih merepih di beranda tanya

gerimis rinai
tertinggal derai

ada yang memanggil manggil dalam senja tembaga,
sembari memaparkan sayu:
kapan bisa kau lambatkan langkahmu?

Bekasi, 2008

Risau Yang Memisau

nafasku masih tersaruk pada lusuh percakapan kita yang ada di belakang taman kota. memang tak begitu terawat karena cuaca yang sering menghunjam tanpa pemberitahuan. juga keisengan para pembaca riwayat yang suka datang dengan membuang serapah semaunya. bisa saja telah ada gerumbul semak di situ, serupa kata kata yang menghambur dan bergerombol berupaya menjadi sajak. semenjak kita berbeda rute jalan di senja yang lengang. tak ada deru kendaraan juga tampias senandung yang melenggang. taburan debu memang masih menggantung di krah baju kita. masing masing. sendiri. kering. pasi. arung pencarian sarat kelokan dan menanjak. aku selalu bingung dan tak sanggup menghitung. ketika jarak mulai menggelarkan jauh. tentang tuduhanmu kala itu. sungguh aku tak sepenuhnya meninggalkanmu. karena telah kusiapkan sepetak kenangan, dan aku selalu mengairinya di sepanjang rentang kemarau. meski aku harus berebut dengan banyak wajah asing yang juga menyebut namamu untuk membasahkan kisah. tapi menunggumu untuk kembali seperti kebingungan mengisi teka teki silang yang masih menyisakan tiga pertanyaan dalam bahasa yang tak kukenal. lepas dari jaring ingatan. kata kata itu telah kau bawa pergi. entah kau simpan di mana hingga tak pernah terjamah dan terjemah.

barangkali ada yang membantu menampung temaram muram. malam rintih dalam cucuran sisik rembulan. jengkerik mengadukan igaunya kepada dada langit. belalang terbirit mengejar nyanyinya yang dicuri angin dahaga.

Jakarta, 2008

Slendro Frasa 13

kenangan itu duduk terkantuk kantuk di kursi tua yang meratapi hujan di sebuah tepian kelam. dedaunan rinai melewati saluran saluran pembuluh yang sering ada sampan bergerak tanpa dayung. sejarah tak mencatat siapa yang mencuri matahari dan siapa yang sembunyikan rembulan. seberapa banyak tawa yang tersimpan di kamar kusam. abad sedemikian merunduk kuyu oleh genangan kecemasan. ikan plastik riuh bercakap di akuarium. wajah pengetahuan sarat ditumbuhi ilalang. mengepal kepada angin yang melintas dengan topeng. kapan air mata pertama dilahirkan?

musim bertiup tanpa peta dan kompas kisah, terengah engah dalam kejaran berontak sepi. angan tergantung pada seutas rambut pada tebing berlumut yang ingin menghindar dari perangkap kata yang kerlip. pada bilik mana gemintang bersemayam sembari mengajak awan bermain tebak teakan. seberapa banyak muram yang tertahan di belakang pintu. wilayah wilayah keramat telah dipagari dengan sumpah yang berdaun tentakel bunga api. kembang kertas mekar di taman kota. ada yang rajin memetik maki sembari menebar nada terdistorsi dan warna terdispersi. di mana air mata pertama dilahirkan?

dalam terpaan badai panah tanya mencekat sergap jalanku di lorong tanpa nama tanpa rupa. aku masih bersila di bawah perdu cerita, menunggu molek sapa berputar menari nari tampakkan ronanya sembunyikan perihnya. langit menyempit melipat rusuknya bersama kepul debu yang memburu, melesat pesat tak kenal tatap pada rerumputan yang lesu. bayang bayang berkelok berbelok, masih saja terseok, terus saja teronggok, kupunguti serpih keheningan yang menerpa ragu. ku ingin leburkan letih di dada malam yang begitu ibu.

Jakarta, 2008

Putaran Kesunyian

bayang siapa mengintip di balik jendela. atau dedaun jatuh yang mengetuk disuruh angin. bukankah pergantian musim tak pernah sungguh sungguh mengabarkan dan mengubah apa apa. hanya sekedar pengulangan dari kegamangan dan kebimbangan. sejauh jauh lari tak juga sanggup tanggalkan hunjam kesunyian. yang meloncat loncat pada nama nama yang dipanggil juga hanya diam di tempat. telah berapa kali belalang mengganti lagunya, lalu kembali terputar irama yang di awal suara. nada yang terbit dari lorong seruling adalah semacam lolong yang menyayat jauh, karena memang merunut nafas yang memindai jarak. mengasah kerinduan menyentuh keharuan. kerinduan pada diri yang pesat berpindah puja tatap, keharuan pada jantung yang lirih melubuk termenung. dan rembulan tak pernah merias wajahnya. dia tak ingin tertular kegenitan lampu kota.

bayang siapa mengintip di cermin buram lemari muram. nanarnya mengirimkan jerit perih atau tawa rapuh sembari menyimpan malu dalam temaram.

Jakarta, 2008

Apatis Tragis

jerit langit menghampiri berputar putar atas kepalamu. tak pernah terdengar karena telingamu telah penuh dengan bingar dengus deru mesiu. mesin yang menjadi bintang idola pemuja gelembung angka angka, yang akan diletakkan di udara. dalam kubang kaca yang memisah riwayat, memupuk jarak sebatu bisa. kebekuan roman belum rengat, dinding kelas derajat tak sanggup resapkan rintih yang ketuk. kian dibangun pola pemisah nasib, diturunkan dari kitab kuno yang bertumpuk di kepala dengan dibumbui euphoria phobia tentang hari esok.

tak kau lihatkah di sana pada anak anak kusam sepanjang nafas jalanan. debu adalah kelambu penutup bagi tubuh tubuh penempuh kisah garang. yang nyata cuma hari ini, selanjutnya hanya busuk mimpi. bersama imaji berkarat digampar lembab zaman. senandung membagikan parau iba yang terus menelusur jalan menanjak. telah usai segala teriak. telah punah segenap isak. yang ada hanya lolong tanpa suara dari tapak pedalaman yang akrab melata.

Jakarta, 2008

Kelopak Teratai
: sahabat yang terluka

musim penghujan masihlah jauh namun telah mengirimkan lambai gordyn jendela dan derit pintu tua. tak beda dengan lambaian di acara lulus sekolah dan sirine jam malam. ya aku pernah sekolah denganmu. belajar padamu. aku belajar apa saja. kapan saja. belajar memanah cita asa. menghitung dan mengingat khilaf dan kesalahan diri serta segera melupakan amal kebajikan sendiri. menuliskan nikmat dan syahdu zaman. membaca cuaca lingkungan sekitar dan perasaan alam. membaca diri. membaca jiwa. bukankah sejarah telah lama mendengungkan perintah: bacalah. dan mengenai jam malam, memang sering diterbitkan sebagai sebuah edisi maklumat di masa perang atau kondisi darurat. tapi di rumahku tak ada perang. kondisi aman terkendali. situasi kondusif. kamarku tak pernah mengenal jam malam. malam tak pernah berakhir bagiku karena tak usai usai aku melukis tabah bijakmu. bersama alur geriap tatapmu malam itu yang masih kusimpan dalam peram sajakku tertatih kumencoba kumpulkan perca nyali untuk mengetuk rumah diammu. karena masih tersisa debu dari jalanan menderu, akankah kaubukakan sapamu untukku?

Jakarta, 2008

Larut Lalai

telah berapa banyak kita kehilangan detik. luruh satu satu. berlalu meninggalkan kita yang sibuk mematung harapan di lengkung kamar kamar pengap oleh desak wajah asing runcing. menikam langit yang terbuka dadanya. bajunya tertinggal di pinggir kali yang mengalirkan pelangi. pacuan kesemuan dalam balutan kejemuan. lupa pada lirih cakap yang tersimpan ukir dalam. tepis pada sentuh yang paling degup. mozaik damai beringsut lembut menjauh.
lalu di mana kita?
terdesak terhanyut terbawa arus musim yang rajin menghujani dengan kata kata berbalut taring.

Jakarta, 2008

Yang Asing Membeku

aku tunggu kabarmu di karang debu. menepuk deru dalam terpaan kelu gagu. aku tak sempat menanyakan apakah telah sampai suratku. terbacakah olehmu. atau huruf huruf yang kupasang melukai matamu. mungkin aku terburu memburumu. seperti merasa ada lagu baru. mengepak melayang ke perbukitan. dataran tinggi suka menyambut dengan serbuan pelukan kabut. tak ada jawaban teriak selain gema suara sendiri yang menyahut. hanya ada setapak jalan kecil. rumit dan licin. juga lorong di tubir yang mungil. kelam dan tajam. ada sedikit wilayah rata terbuka. timbul leluasa mengedarkan bola mata. di sebelah barat itu bukankah kotamu. ada sungai membelah agak di tengah. ada menara air mencuat. meminta pengakuan bahwa air bersih telah merata. sedang di sini aku kegerahan digelayuti kehausan. aku seperti baru keluar dari gedung bioskop tanpa pendingin udara. di luar hujan deras mengangkut igauan. mengirimkan lapuk mimpi. di remang pertikaian bayang bayang cerita film laga. asing mencari cari, gasing menari nari. kulihat kau berdiri di pojok perempatan itu, berpayung senja yang ungu. dari seberang musim kupanggili dirimu, juga dengan nama lengkapmu, namun tak terbit terbit juga suaramu.

Jakarta, 2008

Kulihat Anjing di Matamu

anjing. mungkin perlu aku endapkan sebersit kata dan warna darimu pada selipat gelap. telah teramat jenuh hari memuat serpihan kaca pecah belah. repihan maki dan perih sumpah. menjelma sampah yang menggunung menutup mengepung rumah. seperti tak berjendela ceritamu. masih saja kausuling nanar dari nama nama yang kau baca di papan iklan. juga serombongan mulut ternganga yang tamasya ke dalam kepalamu. sampai kau tak pernah lagi punya tempat buat dirimu membuat sketsa usia. kau tumpas tanya yang sungguhnya menakarmu sendiri, sampai kapan kau cari kutu di kepala lelakimu. atau apapun yang kauanggap asing runcing bagimu dan mengganggu lalu lintas nafas degupmu. tarian yang semakin kusut dan akan membakar sawah ladangmu. ketakutan dan kecemasan masyuk bersetubuh di hampar padang dan taman yang kausediakan. tak ada malam yang sanggup menahan. bayangan kekalahan menyulutmu bergegas beringas. bukankah keramaian sepakbola ada di penontonnya. beberapa menyebut dengan supporter, namun kata ganti apalagi yang cocok jika hujan batu dan benda benda menyeruak tampil di lapangan. dan laporan pandangan mata akan memanen runyam hingga terjebak macet di sini. anjing. kausimpan sebagai fatwa lingkar serbuan kata dari pasar sinetron di televisi yang telah lama kaupacari. kamar kecilmu tak pernah kaupagari. juga bisik tetangga yang menurutmu pelangi jingga. kau tak pernah mencoba mendengar dengan telinga yang lebih putih. kau makin sibuk mengulum kembang gula dan kau tak pernah tahu semua itu gonggong di siang bolong. gonggong yang setia mengukir lolong yang sedemikian sabar dan setia melubangi dadamu. nanti akan koyak nganga satu demi satu, hingga terkaman waktu merebutmu. mungkin akan ada semacam kristal keajaiban di merah tembaga jelajah kisah pengap. namun aku tak sungguh berharap. karena kutemukan dirimu sebagai mawar yang lengkap. aku tahu, semerbak wangi segera menguap, basah segar segera melindap. namun durimu taring yang akan terus tegak berhadap. anjing.

Jakarta, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *