Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

PERTUNJUKAN KE SEKIAN

panggung adalah lautan
kilau lokan nyala ikan
suara ombak telan menelan

ada yang berhasil sampai ke dasar
meski berperan sebagai perahu
tapi bukannya karam

angin dengan kristal garam
mengajak orang tepuk tangan

heii kaukah itu sayang

duduk di deret kursi paling depan
melambaikan tangan kepadaku
yang mabuk sendirian

sebotol arak masih tergenggam
saat nyanyian air beraroma karang
meninggalkan ruang

lampulampu akhirnya padam

aku masih di sini
sibuk menangkar segala kegilaan

09.06.2010

MELEWATI KUTUB

tak hanya engkau yang merasa lega
aku seperti turut meluncur keluar dari mata
setelah sekian lama terperangkap dalam kacakaca

biarlah bayang kita saling meninggalkan
punyamu ke utara punyaku ke selatan
setelah melewati kutub pasti kembali bertemu bukan

di sini di ruang tanpa pintu tanpa jendela

meski telah berabadabad di dalamnya
kita tak lagi butuh waktu untuk menunggu
kerna jantungku sejarak detak dengan dadamu

08.06.2010

MENJELMA APA SAJA

bagaimana mungkin merindu
jika kau telah menjelma zat asam
terhirup di tiap nafas yang satu satu

jika bertemu adalah sebuah keinginan
maka persetan dengan rindu
kerna aku tidak ingin bernafas

seperti halnya saat buang kotoran
tak perlu diinginkan bukan.

MEMBUNUH

sudah berulang kali kau membunuhku tapi seperti yang sudahsudah aku kembali menyapamu
membuatmu terdiam sebelum kemudian menyeringai saat kau lihat aku memasuki jantungmu
dan dari dalam aku hanya tersenyum saat ujung belati hanya berjarak sesenti dengan dada kiri
sepertinya kau telah paham dan ngerti bagaimana membuatku benarbenar mati kali ini

meski setelahnya aku yakin kau yang akan lebih dulu tersenyum menyapaku

02.06.2010

TAHUN KE EMPAT PULUH

beku dan dingin
entah butuh berapa musim
untuk dapat mencair mengalir ke muara
ke pertemuan milyaran noktah

airmatakah yang ingin terasa payau di lidah

saat nyaris segala yang tumpah
tak lagi pada rumah

halamanmu tibatiba menjelma hutan belantara
betapapun pintu telah terbuka
tapi arah entah ke mana

inilah tahun ke empatpuluh
masih terbatabata mengeja usia
pada lipatan lemak yang mulai memadat

sebagaimana pula sebuah isyarat
bagi nafas yang kian berkarat
yang tiap helanya setapak mendekat

menuju kematian

02.06.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *