Sajak-Sajak Heri Latief

Pertanyaan

cerita tentang bulan di balik comberan
keadaan memaksamu jadi anak jalanan
temanmu sejati cuma sinar lampu jalanan
nasib taman di tengah jalan lebih nyaman
bisakah syair puisi melawan penindasan?

Amsterdam, 16 Juni 2010

Bunga Merah Berlawan

ketika sajak jadi juru bicara
maka angin dan hujan jadi kawan
menulis keindahan kata dalam cahaya
bahkan langit bilang wangi bunga setaman

oya?!

tak ada lagi yang mesti dituliskan?
jika sebaris syair isinya cuma harapan
berkacalah pada puisi yang berlawan!

Amsterdam, 16 Juni 2010

Sarang

segampang itu ia melupakan kampungnya?
yang ditanya menganggukan kepalanya
negosiasi dalam sebungkus ilusi
bertahun-tahun menunggu
mimpinya lupa pulang ke sarang

Amsterdam, 16/06/2010

Lupa Waktu

setelah puluhan tahun berpisah, kita jumpa lagi di suatu reuni, saling bertanya, kenapa kita jadi makin tua? pertanyaan yang dulu tak ada dalam kamus anak muda. sekarang kita suka bertanya pada kawan, masih ingat saya? lupa, penyakit tua yang mengerikan.

tentu aja ada yang tak bisa lupa pada kelakuan orang yang lagi kasmaran, seperti bunyi petasan banting, yang meledak jika dibanting. ah itu kan dulu, sekarang lain lagi boss.

lalu menyadari waktu yang semakin habis dimakan lamunan.

Amsterdam, 15/06/2010

Biologi

seperti dongeng sebelum tidur, “generasiku yang terbuang”, dan sekarang ia makin percaya pada misterinya mistik, berkacalah pada kekuatan alam semesta yang tak ada batasnya.

tak ada lagi sisa memori yang sepi, yang ada cuma segepok puisi. susunan kata yang diramunya dari berbagai bumbu kehidupan, jadilah semangkok bubur merah putih.

betul juga apa kata ibu rohana, bahwa biologi adalah ilmu yang mengajarkan manusia untuk respek pada dirinya sendiri.

terima kasih ibu rohana.

Amsterdam, 15/06/2010

Kesepian

sudah dua bulan ia tak dibesuk keluarganya. tingkah lakunya semakin singit. di lapangan bola ia selalu bikin perkara yang berakhir dengan perkelahian. mendung gelap di hatinya, terlihat dari wajahnya yang selalu muram, hitam kelam seperti malam. tak ada yang berani mengajaknya bicara, kecuali si jendul.

semua orang tau, jendul yang suka ngomong sendiri itu mengaku punya teman imajiner yang katanya bekas bajak laut dari selat malaka.

mereka berdua cocok akibat dari persamaan penderitaan: kesepian.

Amsterdam, 15/06/2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *