Sang Humanis dari Kalkuta

Judul: Teresa dari Kalkuta
Penulis: Krispurwana Cahyadi, SJ
Penerbit: Kanisius Yogyakarta
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: 224 halaman
Peresensi: Siti Muyassarotul Hafidzoh*
KOMPAS.com

Pada pertengahan tahun 1940-an, situasi India sangatlah sulit. Tidak saja kemiskinan, tetapi juga pertikaian politik, terlebih menjelang kemerdekaan India (1945), juga perang antaragama yang nantinya membuahkan perpecahan dengan Pakistan. Kalkuta dipenuhi dengan pengungsi, korban perang, dan orang-orang miskin. Pertikaian sosial dan politik memang senantiasa membuahkan kemiskinan, penderitaan, dan ketidakadilan. Fragmentasi sosial-politik bukan saja terjadi di tingkat elitenya, melainkan sampai membuat konflik horizontal warga desa. Kaum bawah-marginal akhirnya menjadi korban tragedi politik yang hidupnya tersia-sia di pengungsian yang targis.

Di tengah kondisi kalut demikian inilah hadir sosok perempuan perkasa yang menjadi pahlawan rakyat Kalkuta. Dialah Bunda Teresa. Awalnya dia seorang pendidik tulen di sekolah elite yang jauh dari situasi rumit bangsanya. Konflik berdarah India akhirnya menghentakkan jiwa Teresa untuk terjun langsung mendidik dan mengayomi anak bangsanya yang terlunta-lunta. Tragedi Kalkuta justru dijadikan sebagai panggilan suci, mendarmabaktikan dirinya untuk India. Terasa akhirnya terjun langsung untuk mendidik kaum miskin-marginal, ikut serta meringankan beban penderitaan, dan aktif menggalang solidaritas sosial tanpa sekat apa pun. Teresa memproklamasikan cinta dan kemanusiaan harus bersatu membawa ketentraman dan kesejukan warga.

Teresa dari Kalkuta karya Krispurwana Cahyadi, SJ, hadir membuka kembali jejak Teresa dalam meneguhkan spirit kemanusiaan. Penulis menempatkan Teresa sebagai sang humanis yang lahir dari Kalkuta. Sebagai sosok humanis, Teresa hadir di tengah warga miskin, bukan saja di Kalkuta, melainkan juga di berbagai pelosok kumuh India. Teresa tak memedulikan asal-muasal warga miskin karena semua manusia adalah makhluk sama dan setara, dan semua harus dibela dalam rangka mengangkat harkat kemanusiaannya.

Kegigihan membela spirit kemanusiaan ditebarkan Teresa dengan pendidikan dan cinta. Mengangkat martabat kaum miskin-marginal dilakukan dengan mendirikan sekolah. Cara mendidik Teresa dilandasi sangat kuat dengan cinta. Cinta Teresa senantiasa mengajak kita untuk menanggalkan diri sendiri, memberikan diri kepada orang lain. Dengan cinta inilah Teresa menentang kaum elite dan bangsawan India yang terpaku dalam rumah kekuasaan dan alpa dengan kaum miskin-kumuh. Teresa juga menentang perang karena perang lahir hanyalah untuk memenuhi kuasa nafsu kekuasaan yang tak akan selesai berhenti (hlm 151).

Dengan cinta, Teresa juga menggugat kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Lahirnya ketimpangan sosial bagi Teresa merupakan bentuk runtuhnya naluri kesucian manusia. Teresa mengkritik elite politik India saat itu karena telah mati rasa. Kaum elite bagi Teresa kehilangan daya sensitivitas nuraninya sehingga, tatkala kaum miskin terus termarginalkan, kaum elite justru berdiri megah di tengah kegemerlapan kekuasaan dan kekayaan. Teresa juga mengkritik kaum elite karena tidak mau dan berani terjun langsung di lapangan untuk membela kaum kumuh. Pembelaan langsung inilah bagi Teresa yang bisa memberikan sentuhan kemanusiaan. Gedung kekuasaan sering kali justru membuat manusia buta dan lupa penderitaan saudara (hlm 98).

Perjuangan kemanusiaan yang dilakukan Teresa seirama dengan perjuangan sang humanis terkenal dari India lainnya, yang tak lain adalah Mahatma Gandi. Seperti halnya Gandi, Teresa tidak menghendaki kekerasan dalam perjuangannya. Semua harus dilakukan dengan damai, sejuk, dan penuh kebahagiaan. Dengan itulah, peradaban manusia di masa depan bisa semakin indah dan bercahaya. Perjuangan tak kenal lelah yang dilakukan Teresa menjadi inspirasi bagi pejuang kemanusiaan abad ke-21 saat ini untuk terus berjuang tanpa henti.

Teresa telah membuat kesaksian dalam hidupnya. Kesaksian yang diberikan oleh Teresa adalah kesaksian yang diberikan di tengah dunia yang akrab dengan perilaku egoisme, hedonisme, nafsu akan uang, serta ambisi untuk mengejar prestise dan kekuasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *