Sebuah Rahasia

Venny Mandasari
http://oase.kompas.com/

Namanya Sa?aroh. Gadis kecil berusia lima tahun itu adalah putri dari seorang perempuan muda berwajah cantik bernama Mirna. Aroh mempunyai satu orang adik perempuan bernama Tasya, berumur dua tahun. Mereka tinggal di rumah sewaan yang cukup sederhana, di samping rumahku. Ayah Si Aroh jarang sekali terlihat batang hidungnya. Sesekali aku melihatnya, itu pun malam, saat dia akan pergi bekerja.

Bandar judi bola, begitu pekerjaan Ayah Aroh yang aku dengar. Dulu, saat baru pindah, mereka merahasiakan pekerjaannya itu. Kemudian Mirna mengatakannya pada satu tetangga dekat, lalu dua tetangga, dan berlanjut hingga satu gang kami tahu pekerjaan suaminya. Setiap sore ada saja yang datang ke rumahnya, menyerahkan uang taruhan mereka pada ?Mr. J?. Begitu panggilan mereka yang aku dengar untuk Juned, Ayah Aroh.

Yah, aku melihat orang-orang itu masuk ke kamar Mr. J, sembunyi-sembunyi memberikan uang taruhan mereka pada dia. Sore itu aku sedang bertandang di rumah Mirna, bermain bersama Aroh dan Tasya. Baru kali itu aku main ke rumahnya, itu pun karena rindu pada Aroh. Biasanya Aroh yang selalu ke rumahku, bermain denganku. Kesibukanku memang sangat padat beberapa hari ini, sehingga dia kuabaikan.

Ketika mataku melihat ke layar TV, tidak sengaja Aroh membuat adiknya terjatuh. Mirna sedang menekan tombol-tombol hp, entah siapa yang disms-nya dari tadi. Kulihat dia asyik sekali sejak kedatanganku, senyum-senyum dengan layar hp-nya.

Mirna langsung menghentikan aktivitasnya karena Tasya menangis. Dia meloncat dari posisinya, menjerit pada Aroh.

?Kau apakan adikmu, Aroh?!? bentaknya. Belum sempat Aroh menjawab, beberapa pukulan mendarat di tubuhnya. Suaranya sangat kuat. Tubuh Aroh memerah.
?Aroh nggak sengaja, Mak.? Seraya memegang tangan bekas pukulan ibunya, Aroh menjelaskan dengan suara parau. Air matanya mulai mengalir.
?Ya ampun Aroh, berdarah!? Sambung Mirna tanpa peduli dengan ucapan Aroh. Dia cemas saat melihat darah di bibir Tasya. Menurutku, mulut Tasya kerantuk ujung meja.
?Kurang ajar kau ya, Aroh!? Beberapa tamparan lagi mendarat di tubuh Aroh yang ceking. Kulitnya yang putih jadi memerah. Belum pudar bekas tamparannya tadi, sudah ditambah lagi.
Ayahnya asyik bertransaksi dengan pelanggannya di kamar. Untung saja ayahnya tidak mendengar! Biasanya kalau dia mendengar Aroh dipukul, dia pasti akan sangat marah pada Mirna. Dia sangat menyayangi Aroh.

Aroh ingin menangis kuat, tak tahan dengan sakit di tubuhnya, tapi dicegah oleh Mirna.
?Diam kau, diam! Atau kupukul lagi!? kata Mirna, pelan.

Aroh tetap mengeluarkan suara tangisnya karena tidak tahan dengan sakitnya. Tamparan mendarat lagi, kali ini di pipinya.
?Nanti Ayahmu dengar!? Lalu sumpah serapah pun keluar dari mulut Mirna. Dia takut suaminya marah.

Aroh menutup mulutnya, berusaha menahan suaranya. Namun air mata itu terus mengalir, seraya sesenggukan. Aku tak ingin ikut campur. Sesekali kubilang pada Mirna, ?sudah Mir,? tapi dia tetap memukuli anaknya, tak peduli padaku. Hatiku miris melihat Aroh.

Mirna cepat-cepat mendiamkan Tasya, keluar dari rumah, membersihkan darah di bibir Tasya sebelum Mr. J melihatnya. Suaminya itu pasti akan marah sekali jika melihat anaknya terluka. Dia pasti akan mengatakan bahwa Mirna tidak memperhatikan anaknya. Yah, memang benar!

Aku menenangkan Aroh, ?Cup…, diam, nanti Ayah keluar dan lihat Aroh nangis. Aroh nggak mau kan, Ayah marah sama Mamak?? kataku padanya.

Dia menggeleng seraya mengusap air mata dengan tangan mungilnya. Anak yang baik. Aku membantu mengelap air matanya dengan tanganku. Bajunya basah karena keringat. Sesekali kulihat Mirna di depan pagar, dia kembali menekan-nekan keypad hp-nya. Ternyata dia melanjutkan sms-nya tadi yang tertunda. Tangis Tasya sudah mereda.

Padahal Mr. J hanya ayah tiri Aroh. Dulunya Aroh tinggal bersama neneknya, ibu kandung Mirna. Kemudian Mirna mengambil Aroh, karena Mr. J mau membiayainya dan menganggap Aroh sebagai anak kandungnya. Ternyata memang benar, Mr. J menunjukkan sikap seorang ayah yang baik bagi Aroh. Malah Mirna yang berlaku seperti ibu tiri terhadap Aroh. Padahal Aroh adalah anak kandungnya.

Hari itu aku sudah tidak bekerja lagi sebagai petugas sensus. Kontrak kerjaku cuma satu bulan. Kembali aku menganggur seperti dulu. Aku rindu pada Aroh. Tapi dia sudah jarang terlihat. Dia selalu pergi bersama ibu dan adiknya. Kuperhatikan mereka selalu pergi siang dan pulang sore. Entah ke mana.

Tersiar kabar dari tetangga, Mirna selingkuh. Setiap hari Mirna membawa kedua anaknya untuk menemui selingkuhannya. Pagi itu aku sedang belanja sayuran di warung Mak Hutapea. Mereka sedang membicarakan Si Mirna. Aku jadi pendengar saja. Aku tak mau asal berkomentar karena takut, sedikit komentarku akan diperlebar sama mereka nanti.
?Hei Manti, kau tahu tidak tetangga sebelah kau itu selingkuh?? tanya Mak Hutapea. Baru datang aku sudah disongsong dengan pertanyaan tentang Si Mirna. Ibu-ibu lain melihat ke arahku, menunggu jawaban.
?Mana aku tahu, Mak. Mak kan tahu aku jarang kali keluar rumah. Paling ke warung Mak. Apalagi beberapa hari ini aku sibuk jadi petugas sensus. Baru dua hari ni aku nggak kerja. Aku pun rindu sama Si Aroh. Biasa setiap hari dia ke rumah aku,? jawabku sekenanya.
?O, jadi kau nggak tahu? Heh Manti, asal kau tahu ya, orang sini udah tahu semua kayak mana dia. Dia sering ke Jalan Menteng itu, di warung Bu Upik dia sering mojok sama pacarnya. Aku tahu dari Bu Upik, dia sendiri yang bilang. Katanya, Si Mirna datang ke situ dengan dua anaknya. Bu Upik juga cerita, anak Si Mirna yang kecil kan digendong Si Mirna. Terus, laki-laki itu menciumi anaknya sekalian menciumi bibir Si Mirna.? Bu Lena tiba-tiba berbicara.
?Iya, aku juga tahu itu. Bukan Bu Upik aja pun yang bilang, semua orang Menteng yang dekat warung Bu Upik pun lihat. Malahan kata Bu Upik, laki-laki itu bilang sudah tiga kali Si Mirna itu diginikannya,? tambah Bu Nora sambil menggesek-gesekan telunjuknya di meja.
?Astaghfirullah.? Aku mengucap dalam hati. Pikiranku tertuju pada Aroh. Apa Aroh melihatnya juga? Kenapa Si Mirna harus membawa-bawa anaknya untuk ‘begituan’?
?Eh, tapi kenapa dia bawa-bawa anaknya?? Pertanyaanku ternyata diwakili oleh Bu Nian, pegawai bank yang sibuk. Pergi pagi pulang sore, lalu jarang keluar rumah, sama sepertiku. Hari ini karena hari sabtu. Jadi dia belanja dan masak untuk anak-anaknya. Kalau hari biasa dua anaknya yang masih SD selalu beli di rumah makan. Dia adalah seorang janda.
?Itulah. Si Aroh itu kurasa yang pegangin adiknya. Dia sama laki-laki itu bermesum. Lagipula kalau tak dibawanya si anak, marahlah suaminya. Mau tinggal sama siapa pula anak-anaknya?? kata Mak Hutapea.
?Tapi kata Si Manti anaknya suka main ke rumahnya. Kenapa nggak ditinggalkannya aja di rumah Si Manti?? tanya Bu Nian. Aku yang sedang memilih ikan, terhenyak. Namaku disebut.
?Apanya Bu Nian ini. Si Aroh aja yang sering ke rumah aku. Dia selalu datang sendiri. Itu pun dulu. Sebulan ini nggak pernah. Seminggu yang lalu aku memang ke rumah Mirna karena rindu sama Si Aroh. Baru sekali itu pun aku masuk ke rumahnya. Lagipula mana mau Si Tasya sama aku, dia kan lengket kali sama mamaknya,? protesku tak terima.
?Betul itu Si Manti! Mana mungkin pula. Curiga pulalah suaminya, dia pergi sendiri. Biasa bawa anak,? komentar Mak Hutapea.
?Eh, tapi suaminya tidur kalau siang. Kurasa nggak tahulah suaminya dia pergi.? Bu Nora menimpali.
?Walaupun tak mungkin dia tak ada bangun. Pasti dikasih tahu Si Mirna, tapi tak dibilangnya ke mana. Paling dibilangnya aja bawa jalan anak-anaknya. Apalagi tak pernah kulihat dia pakai baju bagus. Pasti dibilangnya sama suaminya dia main dekat-dekat sini. Percayalah pula suaminya,? jawab Mak Hutapea.
?Iya pula ya,? ujar Bu Nora. Yang lain ikut manggut-manggut setuju. Kecuali aku yang tanpa ekspresi apapun sekarang sedang memilih sayur. Ada juga yang dari tadi tidak ikut bicara, tapi ikut manggut-mangut menjadi pendengar. Pasti nanti mereka akan mengedarkan gosip ini sama tetangga dekatnya yang lain.
?Eh, tapi kenapa ya Si Aroh nggak bilang sama ayahnya?? Bu Lena yang tadi diam, kembali bicara.
?Iya!? kata Bu Nora bersemangat. ?Biasa kan anak-anak jujur kali.?
?Eh, tapi ini lain. Kalian macam tak tahu bagaimana Si Mirna sama anaknya. Diancamnya lah anaknya. Tak kalian liat dia suka kali memukul Si Aroh?? sahut Mak Hutapea.
?Betul.?
?Iya.?

Macam-macam versi jawaban mereka terdengar. Ada juga yang menganggukkan kepala dengan semangat. Ibu yang baru datang pun ada yang ikut campur menjawab setuju. Aku juga sebenarnya mau membenarkan ucapan Mak Hutapea itu, tapi aku tidak mau mereka jadi tambah semangat menggosipkan Mirna. Apalagi aku tetangga sebelahnya.
?Hitung dulu belanjaanku, Mak,? pintaku sambil mengumpulkan bahan belanjaanku di dekat Mak Hutapea.
?Bah, cepat kali kau Manti,? sahut Mak Hutapea.
?Mau cepat masak aku, Mak.?
?Alah, nantilah dulu. Cerita dulu kita.?
?Alah Mak, nggak siap-siap nanti kerjaan aku.?
Aku pulang setelah Mak Hutapea mengatakan jumlah uang yang harus aku bayar.

Lisa adalah teman dekatku yang dulu pernah bekerja di karaoke. Saat berkunjung ke rumahku, dia melihat Mirna dari kaca jendela. Dia kenal Mirna! Tapi dia tidak ingin menemui Mirna, khawatir Mirna akan malu di depanku. Katanya, Mirna itu adalah PSK dulunya. Aroh adalah anak hasil hubungan haramnya. Saking banyaknya laki-laki yang bersetubuh dengannya, Mirna tidak tahu yang mana Ayah Aroh. Makanya Aroh tinggal bersama neneknya di Tapanuli Selatan. Pantas saja wajah Aroh tidak mirip sedikit pun dengan Mirna. Aroh seperti orang Cina.

Menurut pengakuan Mirna pada tetangga, Nenek Aroh, ibu dari bapak kandungnya memang keturunan Cina. Mirna cerai sama Bapak Aroh karena dia sering memukul Mirna. Mirna memang nikah muda. Sekarang saja usianya masih dua puluh empat tahun, sebaya denganku. Meskipun aku tahu cerita Mirna tidak benar, aku tidak mau cerita sama siapa pun. Itu adalah aib Mirna.

Aku sedang santai, duduk di teras depan rumah saat Aroh pulang. Mereka, anak beranak berjalan kaki. Tasya digendong oleh Mirna. Muka Mirna berminyak, tubuhnya berkeringat, rambutnya sedikit acak-acakan, dia tampak lemas. Kelihatan sekali apa yang habis dia perbuat. Aroh menyapaku dari pagar rumahnya. Aku tersenyum seraya mengamitkan tangan, menyuruh dia ke rumahku. Lalu kulihat Mirna tidak mengizinkannya.

Sebelum masuk ke rumah, kulihat Mirna berbicara Bahasa Mandailing dengan Aroh. Rumah kami sangat rapat dan lagi suara Mirna sangat melengking sehingga aku dapat mendengar dengan jelas. Sayang sekali aku tidak mengerti Bahasa Mandailing karena sukuku adalah Jawa. Dari mimiknya terlihat jelas bahwa Mirna mengancam Aroh dengan kata-katanya. Aroh hanya diam, beberapa kali dia manggut, menyetujui setiap kalimat ibunya.

?Aroh kemana aja, kok nggak nampak-nampak?? tanyaku pada Aroh yang baru menampakkan batang hidungnya di rumahku. Pagi-pagi dia sudah datang. Wajahnya kelihatan murung, tidak seperti biasa.
?Aroh mau cerita sama Kakak, tapi Aroh mohon jangan bilang siapa-siapa.? Meskipun masih berumur lima tahun, kalimatnya lancar tanpa cadel sedikitpun. Dia mulai bercerita setelah aku menyanggupi permintaannya.

Selama ini Aroh ternyata tertekan batinnya. Benar apa yang dikatakan ibu-ibu tetangga. Mirna dan laki-laki itu membawa Aroh ke suatu tempat. Di ruang yang kecil dan pengap, Aroh dan adiknya ditinggalkan. Aroh disuruh menjaga adiknya. Mirna menyogok mereka dengan mainan dan jajanan. Mirna mengunci pintunya dari luar.

Di saat Tasya berteriak, menangis karena pengapnya ruangan itu, ibunya sama sekali tidak peduli. Aroh yang berusaha menenangkan Tasya. Satu jam kemudian mereka baru dikeluarkan. Pakaian mereka basah karena peluh. Bila Tasya masih menangis, maka Mirna akan memukuli Aroh. Laki-laki itu hanya menyeringai. Mirna selalu memberikannya uang dan kecupan hangat, sebelum berpisah. Aroh dan Tasya melihatnya. Mereka melakukannya di depan Aroh dan Tasya.

Mr. J yang selama ini sangat sayang sama Aroh ternyata juga tidak tulus. Aroh pernah diperkosa oleh Mr. J saat mereka tinggal berdua di rumah. Mr. J menutup mulut Aroh dengan kain. Saat itu Aroh menangis kesakitan. Mr. J membersihkan darah di selangkangan Aroh, lalu menyogoknya dengan uang. Mr. J kembali bersikap baik pada Aroh. Gadis kecil itu tidak tahu apa yang telah diperbuat ayah tirinya. Mr. J menyuruhnya merahasiakan kejadian itu, dan dia menurutinya. Aroh tetap menganggap Mr. J adalah ayah yang baik.

Dengan kepolosannya Aroh menceritakan semuanya padaku. Air mataku berlinang. Sedih, marah, kesal menyesak di dadaku. Aku ingin mengungkapkan amarahku pada mereka, tapi berkali-kali Aroh memohon padaku untuk merahasiakannya. Dia kelihatan takut kalau aku akan mengatakan rahasianya.

Pagi ini langit kelihatan mendung. Aroh sudah tiada. Gadis kecil itu meninggal dunia saat subuh menjelang. Mirna bilang, Aroh meninggal karena terpeleset di kamar mandi. Kepalanya terbentur.
Aku tahu itu tidak benar. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aroh tersenyum di depanku dan meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan bahwa aku harus diam.

KSI Medan, Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *