Sepasang Mata di Malam Hari

Restu Ashari Putra
http://oase.kompas.com/

Suatu waktu aku ingat perkataan nenek, saat kami datang berdua mengunjunginya di sebuah rumah di kaki gunung. Sebelum kami sendiri yang menyaksikan ajalnya tiba. Ia masih tertawa berseri-seri dengan sederet gigi palsunya. Dengan sepasang mata yang masih ceria. Saat itu, di bawah aroma kebun teh Goalpara, aku masih mengingatnya ketika aku bersama Saskia di sana.

?Berbahagialah kalian. Tapi jangan lupa, seseorang yang mengutamakan cinta, mereka pasti mengetahui siapa sesungguhnya yang mencintai kalian,? Ia kembali tertawa berseri-seri. Lagi-lagi dengan sederet gigi palsunya. Dengan sepasang mata yang kemudian menyimpan rahasia.

Ini kali pertamanya kata-kata itu keluar dari bibirnya. Dan aku seperti akan mendengar yang kedua kalinya. Entah di mana.
****

Satu hal yang paling kubenci di dunia ini di antara kebencianku yang lain adalah menunggu angkutan umum (angkot) ngetem selama berjam-jam. Seperti halnya malam ini. Kalau saja bukan karena ini kendaraan terakhir, aku pasti langsung turun pada saat lima menit pertama angkot ini ngetem. Kesalnya bukan main. Ditambah lagi hati yang lagi resah. Tuntas sudah rasa sesakku malam ini.

Di seputar bundaran Cibiru. Sebuah terminal bayangan. Aku mau pulang tapi tidak kembali ke rumah. Sebab rumahku pasti sudah dikunci. Itu juga bukan rumahku, melainkan rumah pamanku. Dan angkot ini kira-kira masih akan menunggu dua sampai tiga penumpang lagi. Biasa, sudah lewat malam begini sangat sayang kalau angkot kosong tanpa muatan penumpang sebab mereka tak yakin di tengah jalan nanti bakal banyak penumpang. Huh, sungguh sudah tak tahan rasanya.

?Ayo pak digeser, digeser, palih kanan, palih kanan,?
?Tahan, tahan, tahan, dua deui, dua deui, ayo, ayo pak!?
?Cadas, Cicadas, Cicadas,? teriak calo menggaet penumpang di terminal bayangan, bundaran Cibiru.

Malam semakin pekat. Jalanan becek karena hujan baru saja reda setengah jam yang lalu. Padahal biasanya dua hari berturut-turut, sampai pagi pun hujan tak akan reda.

Kaca jendela yang basah berembun aku susut dengan tangan. Di luar sana, mereka yang bertarung dengan malam masih asyik dengan pergulatan hidupnya. Ini demi hidup yang harus terus bertahan!

Di ujung dekat warung yang sudah tutup, pedagang rokok hampir tak kuat menahan beban matanya. Tapi mungkin wajah anaknya yang meringkuk di balik bungkus rokok dagangannya, selalu muncul dan menyulutnya menjadi kobaran semangat bertahan barang dua atau tiga jam lagi.

Di dekat toilet umum, dua orang pengamen jalanan masih sibuk menyetel senar gitar yang terasa sumbang. Masih muda. Sekitar duapuluh tahunan. Padahal aku yakin tak akan ada bus lagi yang akan lewat kecuali mereka hanya sekadar asyik memainkan gitar. Dan satu kehidupan lagi: calo angkot yang bersaing dengan angin menarik penumpang dari segenap penjuru, sebanyak-bayaknya.

Dari sekian potret keidupan itu tak ada yang tahu bahwa di dalam sini, di angkot ini, ada anak muda yang sedang gundah hatinya. Aneh, padahal ia baru saja bertemu kekasihnya.

?Radika, kecintaanku tak bisa diukur dengan kalimat yang selalu kau tuliskan dalam degup jantung dadaku,? ujarnya meyakinkanku dengan tatap mata sangat dalam. ?melainkan seberapa besar kau mau melangkah bersamaku dengan langkahmu sendiri. Aku mencintaimu Radika.?

Bayangan Saskia masih hinggap di mataku. Saat ia memelukku erat. Saat bibirku mendarat di keningnya, kemudian bibirnya. Seperti kalimat-kalimat yang selalu kutulis dalam degup jantungnya. Saat itu pula mataku mengatakan cinta. Indah sekali matanya.

Dari sanalah kegelisahanku dimulai. Sejak tangannya melepas genggaman tanganku. Sejak bibirnya melepas bibirku. Sejak tubuhnya melepas pelukanku. Dan sejak waktu melepas pertemuanku dengannya.

?Aku juga mencintaimu Saskia, sampai bertemu bess?.?

Belum sempat kalimat dari lidahku meluncur seluruhnya, tiba-tiba tubuh Saskia rebah di tubuhku. Ia memelukku sekali lagi. Matanya basah di jaketku dan semakin menggenapkan keresahanku.
****

Sekarang mengapa hatiku jadi resah. Hei, ada apa ini? Aku baru saja bertemu kekasihku. Tapi ah, suasana hati siapa sangka. Sekalipun sudah bertemu surga, kalau hati menginginkan lain, ya terjadilah. Padahal aku baru saja melepas rindu dengan sang kekasih di rumahnya. Padahal aku baru saja menatapnya. Tapi mengapa resah. Aku baru saja mengulum bibirnya dengan kata cinta. Tapi mengapa gulana. Aneh bukan. Dan angkot ini kian menambah keresahanku, kegundahanku, kegulanaanku dan sekian bentuk kegalauan lainnya.

Bayangkan mau tanya pada siapa coba kalau hati sendiri yang bermasalah. Masak bertanya sama penumpang di sebelahku yang tak kukenal sama sekali. Kan tak mungkin. Tapi tunggu, tunggu, sepertinya aku mampu mendeteksinya. Aku baru habis bertemu kekasih. Apa karena telah menatapnya lantas aku jadi merasa kecewa karena diriku mungkin bukan orang yang sempurna di matanya. Atau tiba-tiba pandangannya tentangku berubah. Seperti misalnya aku tak tulus lagi mencintainya. Ah, andai ia bisa mendekam dalam bilik jiwaku, ia akan tahu bagaimana sebenarnya perasaanku.

Setidaknya itu gejala-gejala yang baru bisa kudeteksi saat ini. Sebab keresahanku terjadi setelah aku bertemu dengan sang kekasih. Dan, yap! angkot sudah penuh. Paling lama dua menit lagi pasti jalan.

?A, ieu bade ka Cicadas nya?? taya ibu tua padaku.
?Sumuhun, bu, hayu bu, hayu,?
?Mbak, ini bener lewat Margahayu Raya?? suara lirih kudengar dari penumpang sebelah kiriku yang bertanya pada penumpang lain.
?Huh, lama banget ya. Udah penuh juga,? komentar penumpang lain.
?Duh ieu mah dugi ka enjing ge moal nepi,?
?Nya maklum we kusabab ieu nu terakhir, sayang upami kosong.?

Aku makin tak betah lama-lama di sini. Sumpek. Padahal bagiku naik angkot bukan hal aneh lagi. Ke mana-mana aku manfaatkan kendaraan ini. Dan kalau ngetem, selalu aku siasati dengan cara naik yang setengah penuh supaya tidak menunggu lama seperti ini. Sekarang aku duduk di ujung paling dalam. Nyempil. Badan kecil. Hati dan pikiran amburadul. Sesaknya minta ampun. Aku ingin cepat-cepat turun. Rasanya ingin berteriak saja.

Seandainya jiwaku bisa keluar dari tubuh ini.

AAAAAARRGGHH!

Kupejamkan mata. Kulenyapkan tubuhku dari dunia sekelilingku. Hening. Samar.

ZEPPPPSSSSS?.

****

Aku masih berada dalam angkot. Angkotnya sudah berjalan. Para penumpang hanyut dalam pikirannya sendiri. Aku bisa menebak yang ada dalam bayangannya pasti rumah yang sudah dinanti-nanti.

Jalanan lengang. Itu bisa kusaksikan dari kaca jendela. Kendaraan jarang melintas. Orang-orang sepi.
?Bu, maaf, jam berapa ya?? tanyaku pada ibu yang duduk tepat di depanku.

Ia diam.

Lho, kenapa tak ada respon. Sekali lagi kutanyakan,
?Bu, ibu, maaf kalau boleh tau sekarang jam berapa ya??

Sunyi.

Aneh. Coba kutanya bapak di sampingku. Aku lihat ia memakai jam tangan. Kebetulan jam dalam ponselku sedang kurang akurat.

?Pak, bapak, sekarang jam berapa ya?? pertanyaanku lagi-lagi direspon diam.
?Hei pak, bapak?!?

Kenapa mereka tidak menanggapiku. Ada apa ini?

Ah, mungkinkah mereka tuli. Atau memang mereka tak melihatku. Ah, tidak mungkin, tidak mungkin!

Udara dingin di luar menyeruak masuk. Pak supir mengendarai angkot semakin kencang. Aku semakin begidik campur gelisah yang belum hilang. Sekarang aku coba tanya jam pada penumpang lain. Mungkin dua orang tadi bermasalah pada pendengarannya. Aku tak ingin mengusiknya, bisa-bisa nanti tersinggung.

?Kang, maaf boleh tau sekarang jam berapa??

Ia hanya melirikku. Kedua bola matanya tajam menusuk tatapanku. Dan ya ampun, kenapa tatapan itu, tatapan itu?.

Aku kembali duduk tenang. Menenangkan diri tepatnya. Aku lupakan perkara waktu yang hanya membuatku semakin gelisah. Tiba-tiba pikiranku jadi melayang pada peristiwa satu tahun silam. Tatapan mata orang tadi. Ya, tatapannya. Sorat matanya. Ah, tidak mungkin, tidak mungkin!

Bayangan almarhum nenek berkelebat dalam pandangan mataku. Kemudian bayang-bayang dalam ingatanku menyusuri perisriwa satu tahun silam. Peristiwa di mana aku mengantar tubuhnya pada sisa hidup terakhir: ?Kalau kau ingin cintamu yang abadi, maka masukilah keabadian. Maka masukilah kebadian, Radika!?

Aku mengenal tutur katanya. Tapi itu seperti bukan suaranya. Dan yang paling membuatku mengerikan saat itu adalah tatapan matanya. Ya, tatapan matanya. Bola mata nenek tiba-tiba keluar menusuk lubang mataku. Aku terhenyak dalam hitungan detik. Kemudian aku melihat ruh nenek sunyi dalam pelukan ajal. Sunyi. Sunyi sekali!

Ah, persetan dengan misteri-misteri, dengan mistis! Aku tidak percaya! Ketika itu aku hanya percaya diriku sendiri.

Tapi saat ini. Di kendaraan ini. Aku menciut. Aku terbayang lagi sorot mata nenek. Juga ucap kata nenek. Kubiarkan segala situasi di luar diriku terjadi. Harapanku hanya satu:: cepat sampai tujuan. Ya, cepat sampai tujuan!

Ah, lebih baik aku memperhatikan jalan. Ternyata baru sampai Riung Bandung. Berarti sebentar lagi. Sebab tujuanku adalah komplek Margahayu Raya. Melewati satu supermarket dan kemudian rumah sakit.

Tapi, aduh, kenapa pak supir mengendarai mobilnya oleng seperti ini. Hei, hei ada apa ini? Tak lama kemudian ada mobil ambulance mengikuti mobil ini. Perasaaku tadi tidak ada mobil sama sekali. Mustahil dalam waktu yang begitu cepat. Ini aneh! Aneh!

WIUW, WIUW, WIUW??..
WIUW, WIUW, WIUW??..
WIUW, WIUW, WIUW??..

Mobil ambulance semakin banyak. Ada dua. Tiga. Empat. Banyak sekali.

Ada apa ini? Ada kecelakaankah? Kebakarankah? Ada bom meledakkah? Atau mungkin peperangan antar warga yang memakan banyak korban? Kurasa Bandung bukan daerah konflik seperti itu meskipun bisa saja terjadi.

?Bu, Pak, ada apa ya?? tanyaku pada penumpang di depan dan di sampingku.

Sekali lagi, mereka tetap tak ada jawaban. Mereka hanya menatapku. Dan tatapan itu. Tatapan itu?..

Tiba-tiba, ya Tuhan, kepala penumang bergoyang-goyang ke kanan dan kiri. Bergoyang. Ya, bergoyang-goyang. Aku ingat, aku pernah melihatnya saat aku terakhir shalat berjamaah di masjid dekat rumah Saskia. Mereka menggerak-gerakan kepalanya saat berzikir setelah solat. Mereka mengucap Lailahaillalah.

Tapi di sini mulut mereka diam. Tidak seperti jamaah masjid yang pernah kulihat waktu itu.
O, Tuhan ada apa ini? Apa yang terjadi?
Ah ya lebih baik kucoba sms kekasihku. Pasti dia sudah tidur. Tapi tak apalah.

ABADI, A-B-A-D-I, A-B-A-D-I!

Ya ampun kali ini mereka mengucap kata-kata itu: Abadi, apa maksudnya? Apa lagi gerangan yang mereka katakan.

Kepala mereka terus bergoyang-goyang. tak terkecuali sopir angkotnya: Abadi! Abadi! Abadi! Wajah mereka lama kelamaan memutih. Bibir memucat. Dan matanya, bola matanya!
Angkot apa ini??
Aku masih tetap mengetik sms pada kekasihku.

ABADI, ABADI, ABADI!

O, tidak! apa maksud mereka? Di mana aku sebenarnya?

WIUW, WIUW, WIUW, WIUW???

Sirine ambulance semakin ramai mengikuti laju angkot yang kutumpangi. Meraka membuntuti kendaraanku semakin dekat. Jalur jalan by-pass menuju tujuanku ini memang ada dua jalur jalan. Jalur jalan lambat yang biasanya untuk angkutan umum dan motor. Kemudian jalur jalan cepat untuk kendaraan mobil pribadi dan truk.

Dan hei, hei pak supir kenapa belok kanan dan masuk jalur cepat, kan angkot dilarang?

Mobil belok seketika dalam kecepatan tinggi. Jalannya pun ugal-ugalan. Aku sudah panik tak karuan. Bibirku sudah ribuan kali mengucap istighfar. Dan tiba-tiba.

?Pir, supir, awas dari belakang adaaa??..?

TET TEEEEEETTT??..
BRAKKK!!
AAAAKKHHH !!
WIUW, WIUW,WIUW?.

Aku melihat sebuah truk melesat cepat meninggalkanku jauh-jauh. Kemudian samar. Dan di mataku, ya, di mataku seperti ada potongan kaca dan darah. Aku tak mendengar lagi raungan siapa pun. Malam telah senyap. Bahkan aku tak lagi mengenal gelap. Samar-samar terdengar di kejauhan suara sepasang mata yang melambai, ?Aku mencintaimu, Radika. Dan kau telah sampai ke tujuan,? saat itu, aku seperti diingatkan pada yang abadi.

2008-2010
*****

Goalpara: sebuah perkebunan teh di Kabupaten Sukabumi
Ieu bade ka Cicadas nya?: Ini mau ke Cicadas ya?
Sumuhun, hayu bu, hayu: Betul, ayo bu, ayo
Duh ieu mah dugi ka enjing ge moal nepi: Aduh, ini sampai besok juga nggak bakal sampai
Nya maklum we kusabab ieu nu terakhir, jadi sayang upami kosong : ya maklum aja sebab ini yang terakhir jadi sayang kalau kosong

*) Lahir di Jakarta tanggal 31 Desember 1985. Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Batam Pos, Tribun Jabar, kompas.com. Kini bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *