Sepatu

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

2x 2 = 4. Hitungan itu jelas. Tapi di tengah-tengah demonstrasi mahasiswa di tahun 1965-1966, penyair Taufiq Ismail menulis, “2 x 2 mudah-mudalan sama dengan 4.” Hampir seperempat abad berlalu sesudah itu. Kita mulai lupa bahwa sebuah arimatik sederhana bisa menjadi tidak sederhana. Kebenaran yang bersahaja pernah bisa menjadi meragukan, tapi kita tak bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Orang kini bisa mengatakan bahwa itulah buah yang matang dari totaliterianisme. Kehidupan politik Indonesia di tahun 1960-an memang dalam banyak hal menunjukkan ciri “totaliter”. Itulah saat ketika kecenderungan fasisme — yang diperkenalkan Jepang kepada kita dua puluh tahun sebelumnya — bertemu dengan kecenderungan komunisme.

Akhirnya, semuanya bersenyawa dengan obsesi kita yang bersifat pribumi: kegandrungan untuk memperoleh “kerukunan” yang sempurna. Obsesi itu bisa menyesatkan, dan totaliterianisme memang mengandung godaannya sendiri. Di situ semua orang, tanpa kecuali, diinginkan jadi bagian penuh dari suatu proyek besar. Di situ Sang Pemimpin menggerakkan massa. Ia bekerja atas nama massa.

Suaranya adalah suara “kerakyatan”, dari sarang impian orang kecil yang banyak, yang butuh sebuah dunia yang sama sekali baru. Ideologi pun jadi penting. Ia bukan saja jadi blueprint buat sebuah dunia baru, ia juga panji-panji dan pengeras suara ketika setiap sendi digerakkan untuk dunia baru itu.

Godaan totaliter ialah godaan untuk memperoleh suatu kesatuan bentuk di tengah carut-marut orang ramai. Akhirnya juga godaan untuk bisa mengendalikan kata hati dan perbuatan setiap orang. fasisme di Italia. Naziisme di Jerman. Komunisme di Rusia dan Cina. Dengan itulah totaliterianisme melebihi sekadar sebuah pemerintahan yang apa pun, otoriter atau bukan: totaliterianisme selalu berusaha punya jangkauan yang total terhadap diri kita. Kita tak bisa sendiri dan berisi hati sendiri.

Program totaliterianisme adalah program yang telah disiapkan oleh O’Brien, wakil kekuasaan dalam novel 1984, untuk Winston Smith. “Kami akan memeras kamu sampai kosong,” katanya dengan dingin kepada Smith, yang mencoba melawan dan karena itu harus disiksa. “Dan kemudian kami akan mengisimu dengan diri kami sendiri”.

Kita tahu bagaimana proses “memeras sampai kosong” dan kemudian “mengisi” itu. Dalam novel 1984, karya Orwell Yang pernah diterjemahkan oleh Barus Siregar tiga puluh tahun yang lalu itu (yang sayang tak dicetak lagi sesudah itu) digambarkan bagaimana Winston Smith bekerja di Kementerian Kebenaran.

Di sini tugas tiap birokrat ialah menghancurkan semua catatan dari masa silam, lalu mencetak yang baru. Bahkan koran lama pun diubah isinya sesuai dengan garis politik hari ini. Fakta-fakta, kata-kata, nama-nama yang pernah ada harus dilupakan secara nasional.

Fakta lain harus muncul — bahkan juga arti kata yang lain. “Perang” berarti “damai” “Kesewenang-wenangan” berarti “hukum”. “2 x 2 sama dengan 5”. Orang akan mengatakan bahwa itu adalah pemerkosaan kepada kebenaran, tapi sebuah rezim totaliter akan bertanya apa itu “kebenaran”.

Leszek Kolakowski, seorang guru besar sejarah filsafat yang pernah bersentuhan dengan pengalaman totaliterian di Warsawa, menulis dalam kumpulan 1984 Revisted, sebuah simposium yang mencoba menengok kembali pikiran Orwell sekarang.

Totaliterianisme, kata Kolakoswki dengan pahit, tak bisa dituduh berdusta, karena telah berhasil membatalkan pengertian tentang kebenaran itu sendiri. Kebenaran bukan lagi cocoknya persepsi kita dengan kenyataan. Kebenaran adalah apa yang ditentukan penguasa hari ini, yang mungkin berbeda dengan apa yang ditentukan kemarin dan besok. Dengan teror dan penyebaran kecurigaan.

Di tahun 1966, Taufiq Ismail sesungguhnya hendak menunjukkan satu resistansi terhadap itu, ketika ia menulis aritmatikanya yang sederhana itu: “2 x 2 mudahanmudahan sama dengan 4”. Kita pun ingat seperempat abad yang lalu ia dan sejumlah orang lain pernah menandatangani Manifes Kebudayaan: sebuah cara lain untuk berkata bahwa jalan ke kebenaran tak bisa hanya dengan mengikuti jejak sepatu kekuasaan. Waktu itu banyak orang yang menertawakannya. Saya kira sekarang juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *