Tamasya ke Museum Kata-kata

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

(1)
Huruf-huruf bergelantungan di ranting-ranting pohon Akasia taman kota. Bergelayutan di rentang panjang kabel listrik yang bersilang pintang. Bergeloncatan di dinding-dinding gedung jangkung. Di jembatan penyeberangan, di halte pemberhentian Bus Way, gerbang tol, dan ruas-ruas jalan protokol. Para pengemudi panik alang kepalang karena kendaraan mereka terjebak dalam kerumunan huruf-huruf yang berseliweran. Bermunculan dari arah depan, belakang, sisi kiri, sisi kanan, bahkan dari delapan arah mata angin.
Jalur-jalur utama penuh sesak oleh berjuta-juta huruf. Tak hanya di badan jalan, huruf-huruf itu juga berdesak-desakan di bahu jalan, di bibir trotoar dan di titik temu empat penjuru traffic light. Lalu lintas tak hanya macet, tapi sudah semraut seperti benang kusut. Bukan karena unjuk rasa buruh yang turun ke jalan meneriakkan yel-yel tuntutan pesangon, tidak juga karena iring-iringan kendaraan petinggi negara yang sedang melintas lewat. Tapi, karena ?parade? huruf-huruf yang berduyun-duyun, berkerumun, berbondong-bondong memadati jalan, seperti koloni semut yang keluar dari lubang-lubang setelah (lubang-lubang itu) disemprot minyak tanah.
Dentang klakson mendesing menyumpal setiap gendang telinga. Deru mesin kendaraan memekik kian memperbising suasana. Celakanya, huruf-huruf itu acuh. Tak peduli pada makian, umpat dan sumpah serapah para pengguna jalan yang kian jengah. Kian lelah setelah berjam-jam terkurung di dalam kesemrautan itu.
?Brengsek! Upacara pelantikan bisa gagal nih. Ayo, lakukan sesuatu! Bengong aja lu!? bentak Martenggen pada sopir pribadinya.
?Iya pak! Tapi huruf-huruf itu ndak mau ngalah. Mereka menutup semua celah,? jawab sopir itu. Gugup.
?Sialan! Apa sih maunya huruf-huruf itu? Apa mereka ndak tahu kalau hari ini ada upacara pelantikan wakil rakyat?? ketus Martenggen. Jengkel.
?Mestinya tadi ndak usah lewat jalan ini. Payah lu!? gerutu Martenggen lagi.
?Iya, tapi jalur-jalur alternatif juga macet, Pak!?
?Ah. Asal ngomong aja lu!?
Polisi lalu lintas sudah bersusah payah mengatur arus dari dan ke arah gedung tempat upacara pelantikan wakil-wakil rakyat akan diselenggarakan. Namun, tetap tak ada ruang gerak bagi sedan-sedan mewah yang terjepit di tengah lalu lalang huruf yang kian lama, kian bertambah banyak. Huruf-huruf itu tak hanya memadati jalan, tapi sudah mulai berjumpalitan, berlompatan naik ke atap mobil-mobil impor itu. Mengetok-ngetok kaca seperti gerombolan rampok Kapak Merah yang hendak menjarah barang-barang berharga di dalam sedan-sedan mengkilat itu.
?Buka! buka! buka!? gertak huruf-huruf itu sambil menggedor-ngedor pintu mobil Martenggen.
?Ayo, buka! Cepat!? ulang mereka lagi.
?Jangan takut, Pak! Mereka cuma gerombolan huruf-huruf. Tanyakan saja apa maunya!? kata sopir pribadi Martenggen meredakan kecemasan majikannya.
Dengan perasaan was-was Martenggen pun perlahan-lahan menurunkan kaca mobilnya. Dipikirnya huruf-huruf itu akan menodongkan senjata dan lalu merampas telepon seluler, uang dan barang-barang berharga miliknya.
?Maaf, saudara-saudara ini siapa?? tanya Martenggen. Gugup.
?Jangan pura-pura enggak kenal, Pak!? jawab huruf-huruf itu, serentak sambil menertawakan ketakutan Martenggen.
?Sungguh! Saya tidak kenal, Saudara. Bukankan kalian cuma huruf-huruf yang sejak tadi mengganggu ketertiban lalu lintas di jalan ini?? tanya Martenggen lagi.
?Ya, kami hanya huruf-huruf. Tapi kami adalah huruf-huruf yang termuntah dari mulut bapak beberapa bulan silam. Masa? Bapak sudah lupa??
?Kami huruf-huruf yang menjadi KATA, FRASA, dan KALIMAT dalam daftar janji-janji yang bapak usung di mimbar orasi sebelum bapak terpilih menjadi wakil rakyat. Masih belum ingat juga ?? tanya huruf-huruf itu lagi.
?Lalu, Saudara-saudara mau apa? Uang? Atau barang berharga milik saya? Kalian boleh ambil semuanya! Tapi, setelah itu enyahlah! Beri saya jalan untuk keluar dari kemacetan ini! Ok ?? kata Martenggen berdiplomasi.
?Kami tak butuh uang. Kami bukan rampok, ? balas huruf-huruf itu. Tegas
?So What ?? tanya Martenggen. Heran.
?Kami hanya ingin kembali ke dalam mulut Bapak. Sebab, dari liang mulut Bapak itu kami berasal. Kami tidak mau menggelandang seperti ini. Ngangakanlah mulut Bapak, agar kami bersegera melompat ke dalamnya!? pinta huruf-huruf itu. Mendesak
?Kurang ajar!? batin Martenggen
Martenggen bersigegas menutup kaca mobilnya. Ia keberatan mengabulkan permintaan huruf-huruf yang kian tak penyabar itu. Huruf-huruf itu kembali bergeloncatan ke atap sedan mewah Martenggen. Menggedor-nggedor kaca dengan pukulan yang lebih kuat lagi. Begitu pula yang terjadi pada setiap sedan mewah yang berjejer di tengah ?karnaval? huruf di jalan raya yang kusut masai itu.
(2)
Stasiun-stasiun berita meliput peristiwa itu. Kemacetan paling parah sepanjang sejarah lalu lintas di kota itu. Di layar TV, tampak berjuta-juta huruf menari-nari seperti pesta pora perayaan sebuah kemenangan besar. Berjoged, meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan, berjingkrak-jingkrak sambil tertawa cekikikan di atas atap sedan-sedan mengkilat. Dari kejauhan, arak-arakan huruf seperti gerombolan serangga liar yang mengerubungi mangsa. Tidak kelihatan wujud mangsa itu, karena tertutupi kerumunan serangga-serangga lapar. Begitu juga kekacauan yang terjadi, tidak kelihatan lagi warna-warni sedan-sedan yang terkurung di badan-badan jalan protokol, karena dihimpit oleh warna warni huruf-huruf. Kuning, Merah, Biru, Hijau, Coklat Tua. Seolah tak ada kendaraan yang melintas, padahal mobil-mobil itu terselimuti jutaan tubuh huruf-huruf.
Karnaval huruf tak hanya menyumbat kelancaran lalu lintas, tetapi juga menerobos pagar kantor Dewan Perwakilan Rakyat. Berkerumun penuh sesak di pelataran halamannya. Lagi-lagi, mereka menari-nari, berjoged, berjingkrak-jingkrak, tertawa cekikikan sambil menunggu datangnya wakil-wakil rakyat yang akan dilantik.
?Begitu mulut-mulut itu menganga, segeralah meloncat ke dalamnya. Mengerti !? kata pimpinan huruf-huruf
?Gunakan segala cara agar mereka buka mulut. Agar mereka tidak lupa pada daftar janji-janji yang telah diobralnya pada rakyat negeri ini. Mengerti !? ulangnya lagi.
?Mengerti bos!? jawab anggota-anggotanya. Serentak

(3)
Saudara-saudara sekalian! Anda telah mengganggu penyelenggaraan upacara pelantikan wakil-wakil rakyat. Menengadahlah! Di atas kepala Anda sekalian adalah tim khusus kepolisian yang diturunkan untuk mengatasi gangguan ini. Kami peringatkan. Secepatnya kosongkan jalan ini! Beri kesempatan pada mobil-mobil para wakil rakyat untuk lewat! Jika Anda tidak mematuhi himbauan ini, kami akan mengambil tindakan tegas. Puluhan helikopter yang mendesing-desing itu sudah siap menembakkan gas beracun ke tengah-tengah kerumunan kalian. Gas beracun itu akan membuat tubuh-tubuh kalian rubuh dan berguguran satu per satu. Kami tidak main-main! Sekali lagi. Secepatnya kosongkan jalan ini!
Kecemasan Martenggen berangsur-angsur reda setelah mendengar teriak ancaman komandan tim khusus kepolisian yang diarahkan pada kerumunan huruf-huruf itu.
?Rasain lu! Makanya, jangan main-main dengan kepentingan negara!? ketusnya. Menggerutu.
Huruf-huruf yang tadinya berjingkrak-jingkrak sambil menggedor-gedor pintu mobil Martenggen sejenak terdiam. Melongo, sembari menengadah ke arah helikopter-helikopter yang membuat pola melingkar mengepung kerumunan mereka.
?Bagaimana dengan tuntutan kami?? teriak pemimpin huruf-huruf itu.
?Kami hanya menuntut agar mereka buka mulut. Agar kami kembali ke tempat asal kami,? dukung anggota-anggotanya.
?Kami ingin kembali ke dalam mulut-mulut yang telah memuntahkan kami. Itu saja!? kata huruf-huruf yang lain lagi.
?Kami akan segera memulangkan kalian ke dalam mulut-mulut mereka. Tapi sebelumnya, tolong kosongkan dulu jalan ini!? bujuk pemimpin tim khusus kepolisian.
?Kami sudah menyediakan sebuah gedung di pinggir kota untuk penampungan sementara, sebelum kalian dipulangkan. Segeralah tinggalkan jalan ini! Dan bergeraklah menuju tempat penampungan itu! Anggota kami akan memandu,? ulangnya lagi.
Lalu lintas berangsur-angsur pulih. Lajur kiri dan lajur kanan lancar tanpa hambatan yang berarti. Karnaval huruf yang sebelumnya menyumbati pintu masuk ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat pun menaati perintah pimpinan mereka untuk meninggalkan tempat itu dan bergerak ke arah gedung penampungan yang sudah disediakan. Iring-iringan huruf dengan tertib memasuki ruangan peristirahatan sebelum pada akhirnya mereka akan dipulangkan secara massal. Huruf-huruf itu lega karena akhirnya tuntutan mereka akan segera dipenuhi.

(4)
Berbulan-bulan setelah upacara pelantikan wakil rakyat dilaksanakan, jutaan huruf yang telah dievakuasi ke tempat penampungan itu belum juga dipulangkan. Pemulangan massal yang dijanjikan itu hanya jebakan untuk ?mengamankan? dan sekaligus ?mengandangkan? mereka. Kini, huruf-huruf itu terkurung di bilik-bilik sempit. Tak ada celah untuk meloloskan diri. Setiap lubang di seluruh penjuru ruangan tertutup rapat. Jangankan satu huruf, udara pun tak bisa menyelusup masuk. Barangkali, gedung itu bukan penampungan sementara (sebelum huruf-huruf itu dipulangkan ke dalam mulut-mulut wakil-wakil rakyat yang memuntahkan mereka), tapi penjara tempat mereka akan meringkuk. Entah sampai kapan.
Tak lama berselang, pemerintah kota menyewa beberapa orang Designer Interior ternama untuk merekonstruksi tata ruang gedung itu. Etalase-etalase kaca dari berbagai bentuk dan ukuran sudah tersusun rapi di setiap ruang. Ditata sedemikian rupa dengan sentuhan artistik yang mengagumkan. Tiap-tiap ruang terklasifikasi sebagai: Beranda Kata, Beranda Frasa dan Beranda Kalimat. Di Beranda Kata telah tersusun rapi etalase-etalase kaca ukuran mini yang di dalamnya terpampang berjuta-juta KATA.
Lengkap dengan keterangan menyangkut asal-usul masing-masing kata (sehingga dapat diketahui dari mulut siapa kata itu dimuntahkan), berikut keterangan hari, tanggal dan tahun masing-masing kata itu diucapkan. Maka terbacalah ratusan kata yang menurut keterangannya; Termuntah dari mulut Martenggen, Selasa, 22 Mei 2004?. Di Beranda Frasa, tertata pula etalase-etalase kaca ukuran tanggung yang di dalamnya termaktub berjuta-juta FRASA. Lengkap dengan keterangan tentang mulut-mulut yang memuntahkannya. Berikut keterangan hari, tanggal dan tahun masing-masing Frasa itu diucapkan.
Maka terbacalah ratusan Frasa yang menurut keterangannya; Terucap dari mulut Martenggen, Jum?at 23 Mei 2004. Begitu pula di Beranda Kalimat. Berjejer etalase-etalase kaca ukuran besar yang di dalamnya terpajang berjuta-juta KALIMAT. Termasuk kalimat-kalimat yang terbuncah dari mulut Martenggen. Lengkap dengan keterangan hari, tanggal dan tahun masing-masing kalimat-kalimat itu ternarasikan.

(5)
Dalam rangka belajar membaca, setiap akhir pekan Martenggen selalu mengajak cucu-cucu tersayangnya berekreasi mengunjungi sebuah gedung yang berdiri megah, jauh di pinggir kota. Kawakibina (kelas 1 SD) dan Lailatuna (TK besar) meng-eja setiap KATA, FRASa dan KALIMAT yang terpajang dalam etalase-etalase kaca di setiap ruangan gedung itu. Sesekali kedua bocah yang lucu dan ?imut-imut? itu tertawa cekikikan, karena secara tak sengaja membaca nama Eyang MARTENGGEN yang tertera di Beranda Kata, Beranda Frasa dan Beranda Kalimat. Kawakibina dan Lailatuna menyebut liburan bersama eyangnya itu sebagai Tamasya ke Museum Kata-kata.

Yogyakarta, September 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *