Teh Tanpa Gula

Win R.G.
http://www.hariansumutpos.com/

Lambat-lambat kulihat ia melembutkan jahe seukuran kelingking di sebuah batu, tampaknya malam ini sakit kepalanya kumat lagi. Jika jahe itu selesai ditumbuk, akan langsung ditempel di kepalanya kanan dan kiri dekat mata dan direkatkan dengan sehelai kain. Maka jadilah ia seorang pendekar sepanjang malam.

?Kenapa, Mak?? tanyaku yang membuntutinya sedari tadi. Ia menoleh ke arahku dengan berat, matanya menyipit seperti menahan sakit yang amat sangat.
?Biasalah. Penyakit lama.? Tepat dugaanku. Ini memang penyakit lamanya.
?Sini, biar aku Bantu,? ujarku menawarkan keringanan. Ia pun meletakkan anak batu itu di tempatnya, tempat biasa ia menggiling bumbu dapur untuk diolah jadi makanan yang sedap rasa dengan berbagai macam sayurnya.

Tangannya beralih ke kepala. Menekan-nekan kepala di berbagai wilayah yang ia rasa tersiksa.
?Berobat ke dokter ya!? sejenak ia tak merespon ajakanku yang masih sibuk dengan jahe di hadapanku. Menumbuknya hingga halus.
?Dokter mana yang buka tengah malam begini??
?Dokter yang di kota, UGD kan buka 24 jam, Mak.? ?Tak usahlah. Lagian siapa yang mau ke sana??
?Kan ada bapak.?

Ia meringis, ?Bapakmu disuruh manggil dokter jam segini? Bisa sebulan emak tak dicakapinya.?
?Kenapa??

?Kau ini, macam tak tahu bapakmu saja.?
?Jelaslah aku tak tahu tentang bapak. Sangat jarang aku pulang. Kenapa rupanya sama bapak??
?Sudah lembut itu. Sini!? pintanya memberhentikan gerakan tanganku lalu mengambil dengan perlahan jahe yang sudah lembut itu dan langsung diletakkan di kepalanya.

?Kenapa rupanya sama bapak?? tanyaku sekali lagi ingin tahu. Tapi dari sikap emak yang buru-buru keluar dari dapur dapatlah kutahu bahwa sepertinya ia tak bersedia bercerita. Apa pun walau sedikit pun. Takkan.
Aku merasa ada yang tak beres antara mereka berdua.

***
Lidahku mengindera dengan hampa, teh ini tak ada rasa gula. Emak lupa memberinya gula atau memang sengaja tak diberi gula? Tapi biasanya kalau teh yang tak diberi gula, ya teh pahit namanya, tapi teh ini tak mengental. Tak berwarna cokelat kehitaman.
?Teh sebelah mana yang kau minum?!? emak datang tiba-tiba sembari setengah berteriak, seolah ia terkejut dengan pemandangan yang baru dilihatnya.
?Teh sebelah mana yang kau minum? Teh sebelah mana?!? tanyanya lagi begitu melihatku tak bereaksi.

?Ini,? jawabku seadanya sambil mengarahkan gelas sedang ke arahnya.
?Tehmu bukan yang ini, tapi yang itu! Yang tak ada sendoknya,? tunjuk mulut emak mengarah pada kedua gelas di atas meja makan.

?Kenapa gitu?? tanyaku bingung
?Yang ada sendoknya ini teh emak, bukan tehmu atau teh bapakmu.?
?Kenapa gitu?? tanyaku lagi, masih bingung.
Emak tak menjawab. Dengan cepat ia menyerobot gelas yang ada di tanganku dengan kasar, sehingga airnya sedikit keluar. Ia pun beranjak ke depan.
Kuambillah salah satu gelas yang ada di meja, kuseruput. Rasanya manis, tapi kenapa teh emak tak manis? Apa ia punya sakit gula? Setahuku tak ada.
?Emak sakit apa sih sebenarnya? Emak ada sakit gula??
Kuhampiri ia di terali yang sedang mengurut-urut kepalanya. Ia menoleh ke arahku lalu dahinya mengernyit. Ia diam.

?Teh emak kenapa tak manis??
?Ah, memang emak yang tak memberinya gula.?
?Tapi kenapa? Habis gulanya??
?Emak sudah biasa begini,? jawabnya lagi masih sibuk dengan kepalanya
?Maksud emak? sudah biasa minum teh tanpa gula?? intonasiku menurun.
Ia memandangiku, menarik nafasnya, lalu membuang wajahnya dari hadapanku. Entah kenapa aku semakin yakin bahwa ada sesuatu di dirinya.

***
Aku baru dua hari di sini, di rumahku sendiri. Di rumah yang menjadi tempat tumpah darahku saat aku dilahirkan oleh emak. Sudah cukup lama aku tak pulang. Hampir satu tahun. Kesibukanku sebagai mahasiswa sekaligus menyambi kerja membuatku sulit untuk pulang ke kampung halaman. Saat ini kampus sedang ada jadwal liburan jadi kumanfaatkan untuk pulang. Setahun yang lalu kurasa kondisi rumah baik-baik saja, keadaan emak juga tak terlalu renta. Namun kini baru dua hari di sini ada kejanggalan yang kurasa, aku semakin yakin bahwa emak ada masalah. Semakin yakin pula saat emak mau bercerita mengenai keluh kesahnya.

Ha? sulit bagiku untuk menggambarkan suasana hati emak saat ini. Mungkin di otaknya ada banyak kawat dan duri yang berlipat-lipat, menumpuk jadi satu. Mungkin saat ini di hatinya ada luka, luka yang berdarah dan masih basah. Belum terobati.

Bapak semakin tua semakin tak ada cinta. Ia semakin parah. Ia hanya terus sibuk dengan pekerjaannya berdagang. Pergi pagi pulang malam. Ia nyaris tak ada waktu untuk emak di rumah. Ia hanya mengejar duniawi saja. Kalau dihitung-hitung pastilah uang bapak sangat banyak mengingat ia seorang pekerja keras. Namun ke mana uang itu?

Untukku? Bukan! Aku membiayai kuliahku sendiri. Untuk kakakku? Aku rasa juga bukan! Kakakku telah menikah dua tahun ini dan tentu saja ia telah dinafkahi oleh suaminya. Lantas untuk apa dan untuk siapa uang hasil dagangan bapak?

?Kami hanya tinggal berdua di rumah, ekonomi bapak juga lumayan banyak penghasilannya, tapi kau lihatlah teh ini, teh emak, setiap pagi tiada bergula. Emak rela tak merasakan nikmatnya teh dicampur dengan manisnya gula. Emak harus menghemat gula, gula-gula itu hanya untuk bapakmu.?

?Maksud emak bapak marah jika teh emak bergula??
?Bukan, bukan itu. Ah, kau masih belum mengerti ternyata,? emak menahan tangisnya. Aku garuk-garuk kepala. Ya, emak memang benar, aku belum mengerti, usiaku masih muda, masih 20 tahun. Terlalu dini untuk mengerti masalah rumah tangga. Tapi setidaknya izinkan aku tuk mulai memahami. ?Jadi maksudnya apa, Mak??

Sejenak tak ada suara. Ia masih menutup mulutnya dan menyembunyikan airmatanya dariku.
?Bapakmu menjatah uangnya untuk belanja keperluan rumah?? jawab emak sendu.
Oh! Ya ampun! ?Lantas ke mana uang bapak??

?Mungkin bapakmu sengaja tak memberi secukupnya karena kesal melihat emak yang tak bekerja belakangan ini. Hanya di rumah. Tapi Andi, asal kau tahu tak bekerjanya emak bukan keinginan emak tapi karena sakit emak. Jika dibawa untuk kerja badan emak semakin menjadi-jadi. Terasa sesak dada ini??

?Ya ya emak, aku paham. Aku paham. Emak sudah tua, emak memang harus banyak beristirahat.?
?Kau tahu, tiap emak sakit bapakmu tak pernah mau peduli. Ia tetap asyik nonton tivi atau tidur mendengkur dengan enaknya padahal emak sedang merintih. Sementara jika dia yang sakit, selalu minta dilayani!?

Emak tampak emosional. Berulang-ulang ia memegang dadanya dan terus mengusap airmatanya. Aku terus mengelus-elus pundaknya dan sesekali memijat bahunya.
Kenapa ketentraman rumahku jadi berubah?

***
?Jadi kau mau apa? Ha?! Mau apa?!?
Bapak memukul-mukul meja makan dengan gelas teh manis di genggaman tangan kanannya. Setelah kutahu apa yang dirasakan emak, aku pun mencari bapak. Ternyata ia sedang menikmati sarapannya dan tampaknya siap untuk pergi bekerja. Awalnya kukira ia mau menerima ceritaku tentang emak, ternyata malah sebaliknya.

?Maaf, Pak, jika ini lancang. Aku hanya minta satu saja, emak butuh disayang. Tolong sayangi emak dengan menjaga kesehatannya, mencukupi kebutuhan gizinya. Emak butuh cinta, Pak.?
?Halah, kami sudah tua, tak perlu lagi cinta-cintaan!?
?Setidaknya tolong cukupkan kebutuhan emak untuk belanja. Apa bapak tahu hanya untuk menghemat uang belanja, emak rela beli gula secukupnya hanya untuk membuat teh bapak terasa manis, emak rela tak memberi tehnya gula. Teh emak sangat hampa terasa.?
?Diam kau!?
?Uang bapak kan lumayan banyak. Ke mana uang bapak itu?? tanyaku pelan, lebih tepatnya berhati-hati. Sangat berhati-hati malah.
?Eh, apa maksudmu, bocah edan! Maksudmu aku selingkuh? Begitu?!?
Bapak mendadak berdiri, melotot ke arahku dan membanting gelas dengan sangat kuat. Aku terkejut. Seketika saja gelas bercerai berai rupanya. Inilah yang aku takutkan, aku takut ia salah paham. ?Sengaja bapak menyimpan uang dengan sangat rapi ya untuk emakmu juga!?
?Tapi untuk bagian yang mana, Pak?! Sementara emak serba kekurangan begitu,? tampaknya aku juga terpancing emosi.

?Apa perlu bapak lapor ke kamu untuk apa? Ha! Kalau memang itu maumu oke, bapak akan bilang. Sakit emakmu sudah itu parah, bisa saja sewaktu-waktu ia terpaksa harus dibawa ke rumah sakit atau bahkan akan mati. Untuk merawatnya di rumah sakit tentu butuh biaya, uang bapak sengaja bapak simpan untuk emakmu juga! Sekarang sudah paham??
Astaghfirullah. Pemikiran bapak salah. Salah besar!

Beberapa detik kemudian kudengar suara gelas kembali pecah, tapi kupastikan itu bukan gelas bapak atau gelasku. Suara gelas itu berjarak beberapa meter dariku. Emak!

Perempuan senja itu sudah menggelepar di lantai. Ia menekan-nekan dadanya dengan kuat. Bapak menyusul berlari ke arah emak. Tampaknya ia juga resah. Mungkinkah apa yang dikatakannya tadi memang betul, menunggu emak masuk rumah sakit dulu baru ia mau berbagi? Tapi kenapa harus menunggu parah?

Aku tak tahu kelanjutan kisah rumah tangga mereka setelah ini. Apakah teh emak akan selamanya tak bergula? Tapi yang pasti kulihat emak sudah sangat kritis! ***
Medan, 22 April 2010

Penulis adalah dosen FKIP UMSU, novelis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *